An Upgraded Path: Menggali Makna Pelayanan Melalui Camp Pembinaan GKI Klasis Banyuwangi

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 22 Desember 2018
Pelayanan pada hakikatnya muncul semata-mata karena respons atau reaksi syukur atas aksi Allah yang telah menyelamatkan dan mengasihi kita.

Bertempat di Bukit Doa Immanuel, Prigen, Jawa Timur, Komisi Remaja Pemuda Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klasis Banyuwangi menyelenggarakan kamp pembinaan yang bertajuk “Step Up Reborn: An Upgraded Path”. Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh puluhan anak muda yang merupakan aktivis gereja dalam bidang remaja dan pemuda dari empat belas Gereja yang tersebar di seluruh GKI Klasis Banyuwangi.

Acara yang dimulai pada Jumat siang (4/1) dan selesai pada Minggu siang (6/1) in diperuntukkan bagi anak muda yang bergelut dalam berbagai pelayanan di Gereja, terkhusus komisi remaja/pemuda (KP/R). Sebagaimana ditulis dalam Instagram Komisi Pemuda Remaja GKI Klasis Banyuwangi (@pelangi_gki), harapannya adalah peserta dapat belajar banyak hal tentang dunia pelayanan dan belajar memecahkan masalah yang sering muncul dalam kehidupan pelayanan.

Untuk mendukung hal tersebut, berbagai pembicara apik yang berasal dari beragam latar belakang dihadirkan dalam acara ini. Bersama Pdt. Wahyu Pramudya dari GKI Ngagel, peserta camp akan dibantu untuk memahami lebih dalam bagaimana relasi kita dengan Tuhan dan terlebih menemukan kembali semangat pelayanan. Sesi ini juga dilanjutkan oleh Pdt. Yoel Ang selaku ketua Badan Pekerja Majelis Klasis (BPMK) Klasis Banyuwangi yang membawakan sesi bertajuk “Motivasi & Tantangan Pelayanan”.



Dokumentasi Acara


Tak cukup sampai di situ, kemampuan peserta juga diasah melalui berbagai sesi yang lebih bersifat praktis seperti teknik mengatur tim yang baik, cara berkomunikasi dengan rekan pelayan yang lebih senior, dan teknik menyambut jemaat dalam bergereja. Sesi-sesi tersebut dibawakan oleh Ida Sianipar dari Universitas Ciputra dan Lanny Herawati dari Universitas Kristen Petra.

Ada juga kapita selekta yang dapat diikuti peserta sesuai minat dan bentuk pelayanan yang dijalani. Kapita selekta tersebut mencakup pelatihan dalam bidang visual design, build and maintaining fellowship, social media management, organization management dan praise and worship.

Besar harapan panitia agar acara ini dapat bermanfaat bukan hanya bagi peserta, namun juga bagi komunitas remaja dan pemuda di masing-masing Gereja. Hal tersebut diungkapkan oleh Anneke Prana sebagai salah satu panitia dalam acara tersebut. “Semoga menjadi berkat bagi peserta dengan meningkatkan semangat dan kerinduan untuk melayani sesuai panggilan pelayanan masing-masing, serta tak lupa membagikan pengalaman dan materi selama camp ke Gereja masing-masing”, tutupnya.



Dokumentasi Acara


Maria dan Minyak Narwastu

Salah satu kisah populer dari Injil Yohanes (Yoh 12:1-8) adalah kisah mengenai Maria dan Minyak Narwastu. Bacaan tersebut menarasikan bagaimana Maria meminyaki kaki Yesus dan bahkan menyekanya dengan rambutnya. Hal tak lazim bukan hanya terjadi ketika Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, namun lebih dari itu, yakni ketika Maria menggunakan minyak narwastu yang dikenal bukan sembarang minyak. Tak tanggung, Maria bahkan menggunakan setengah kati minyak narwastu murni yang jumlahnya setara dengan upah buruh selama satu tahun. Padahal minyak narwastu hanya dapat dihasilkan dari sebuah tanaman yang tumbuh di India Timur. Dapat dibayangkan betapa mahalnya minyak ini, terlebih harus menempuh perjalanan yang jauh untuk sampai di tanah Palestina.

Tindakan Maria tersebut bukanlah suatu hal yang sarat makna. Ia melakukannya semata-mata sebagai bentuk mengasihi dan sikap melayani kepada Yesus karena Ia yang telah membangkitkan Lazarus (ay.1). Itu semua dilakukan dengan motivasi yang didasari sebuah kepercayaan dan kesetiaan. Persis seperti apa yang ditulis dalam Injil Yohanes dengan kata “murni” (pistikós) pada “minyak narwastu murni” (ay. 3) yang bermakna kepercayaan dan kesetiaan (trusty and faithful). Ini berarti bahwa dengan tindak menyeka kaki Yesus, Maria telah menunjukkan kepercayaan dan kesetiaan pada-Nya. Maria telah menggunakan dengan tepat hal yang sangat berharga yang ia miliki, untuk seseorang yang paling berarti dalam hidupnya.

Motivasi seperti Maria itulah yang kiranya juga muncul dalam diri kita sebagai pelayan-pelayan-Nya di Gereja. Sebagaimana dikatakan Pdt. Yoel Ang dalam sesi “Motivasi & Tantangan Pelayanan” bahwa pelayanan pada hakikatnya muncul semata-mata karena respons atau reaksi syukur atas aksi Allah yang telah menyelamatkan dan mengasihi kita. Sehingga hanya dengan kredo atau kepercayaan itulah, kita menjalani setiap pelayanan kita di Gereja dengan setia.



Dokumentasi Acara


Ego sebagai Ancaman

Motivasi tersebut bisa hancur seketika ketika ego menguasai kita di dalam pelayanan. Pdt. Yoel Ang masih dalam sesi yang sama menegaskan bahwa musuh terbesar dalam pelayanan adalah diri sendiri. Hal ini yang membuat esensi pelayanan yang seharusnya berpusat pada Kristus (kristosentris), justru berpusat pada diriku seorang (egosentris). Altar yang sejatinya merupakan sarana pelayanan, justru berubah menjadi panggung yang hanya berguna untuk menunjukkan keakuanku dan memuaskan jemaat semata.

Hal tersebut yang dilakukan Yudas Iskariot dalam kisah Maria dan minyak narwastu (Yoh 12:1-8). Yudas menilai minyak tersebut lebih pantas dijual untuk orang-orang miskin dibanding kaki Yesus (ay. 5). Namun, Yesus tidak mau terjebak pada sandiwara Yudas. Ia tahu betul niat culas Yudas yang hanya ingin mengambil keuntungan dari minyak tersebut (ay.6). Karenanya, Yesus tetap membiarkan Maria untuk menyeka kaki-Nya (ay. 7).

Menjadi celaka ketika kita menghayati sandiwara Yudas tersebut dalam setiap pelayanan yang kita lakukan di Gereja, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebohongan dan berbagai sandiwara dibuat demi meraup keuntungan sendiri. Pelayanan kita tampak bagus, namun di balik itu semua tersimpan kepalsuan dan kemunafikan. Percayalah bahwa kita tidak mungkin bertahan pada dualisme itu.

Maka sebagai penutup dari tulisan ini, penting bagi kita untuk menilik kembali motivasi kita dalam pelayanan selama ini. Ketika ego yang mendominasi motivasi pelayanan kita, baiklah kita merelakan diri untuk kembali dituntun pada sebuah motivasi yang benar dalam pelayanan di Gereja. Karena, seperti yang diungkapkan Pdt. Yoel Ang, motivasi yang baik dalam pelayanan bukan hanya menentukan daya tahan ketika menghadapi berbagai masalah yang muncul, namun juga akan menentukan kualitas pelayanan seseorang. Selamat berjuang dalam berproses menuju itu semua.

 

Ad maiorem dei gloriam.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE