Generasi Pembaru Indonesia (GARUDA): Bertolaklah ke Tempat yang Dalam!

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 15 Juli 2018
Tindakan bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) sudah dilakukan oleh Allah yang menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba. Peristiwa inkarnasi mendorong kita untuk senantiasa hadir dan bertolak menuju kepada dimensi terdalam dari berbagai aspek yang kita tekuni sehingga akhirnya kita dapat menjadi pelopor perubahan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, ada 6,96% penduduk Indonesia yang memeluk agama Kristen Protestan dari hampir 250 juta penduduk di Indonesia pada tahun 2010. Dari data tersebut, celakanya, banyak dari kita yang mengambil sebuah jalan dikotomik: yakni terbentuk nya stigma bahwa Kristen Prostestan hanyalah sebatas golongan minoritas di negeri ini. Jika pemikiran yang seperti ini terus dihayati, maka sebuah kewajaran jika menilai Kekristenan sebagai sesuatu yang melempem dan kering di negeri ini.

Kekeringan dan melempem itulah yang digambarkan dengan bahasa yang berbeda oleh Andrias Harefa. Dalam kata pengantarnya di buku “Rapor Merah Pendeta” karya Pdt. Agus Wiyanto, ia menulis demikian:


“Akan lebih mudah menyebutkan 100 Kyai dan intelektual Islam yang rajin menulis buku dan artikel dan tidak terlalu sulit juga untuk mendaftarkan 100 Pastor dan intelektual Katolik yang dikenal karya tulisnya dan karyanya untuk negeri ini. Tetapi, kalau soal nama-nama Pendeta (dan intelektual) Protestan yang memiliki karya tulis dan karya untuk negeri ini, saya harus bekerja ekstra keras untuk mengingat dan menemukannya.”


Generasi Pembaru Indonesia

Dari keprihatinan itu, Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) bergerak untuk melatih dan mempersiapkan kaum muda agar dapat berkarya di negeri ini, menjadi pemimpin publik yang berintegritas dan berdampak. Gereja melalui program ini sangat memahami bahwa pemuda bukan hanya sekedar masa depan Gereja dan negara, melainkan juga masa kini. Maka, sudah saatnya pemuda diberikan persiapan dan ruang yang cukup sehingga dapat berdampak bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya bahkan sejak saat ini.

Program Pendidikan Kepemimpinan Publik hasil kerjasama Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia (BPMS GKI) dengan Institut Leimena merupakan buah dari rasa keprihatinan tersebut. Kegiatan yang diikuti oleh 33 pemuda GKI dari Sinode Wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur berlangsung pada 29 Juni – 1 Juli 2018 bertempat di Grand Zuri Resort, Cipanas, Jawa Barat.

Program yang sudah terselenggara tersebut disebut juga sebagai program GARUDA yang merupakan akronim dari “Generasi Pembaru Indonesia”. Pelatihan yang diberikan juga tidak berhenti pada tahap tersebut. Para peserta juga diajak untuk mengikuti pembelajaran secara online hingga akhirnya dapat bergerak menjadi pemimpin yang berdampak melalui program inisiatif proyek perubahan. Program GARUDA ini merupakan program berkesinambungan yang dimulai dari 29 Juni-1 Juli 2018 dan berlanjut sampai 25 November 2018.

Harapannya, para pemuda yang dipercaya mengikuti program ini dapat menjadi pemimpin publik yang berintegritas dan berdampak. Berintegritas, yakni kita dapat menjadi pemimpin yang menghidupi nilai luhur bangsa, moral dan spiritual. Sedangkan berdampak memiliki makna yakni dapat membangun peran aktif warga negara dan membawa perubahan pada berbagai bidang kehidupan. Hal tersebut pula yang menjadi visi program GARUDA yang diselenggarakan oleh BPMS GKI dan Institut Leimena.



By Sinode GKI on Facebook


Duc in Altum

Dalam Injil Lukas, tercatat satu peristiwa antara Yesus dengan Simon dan teman-temannya di pantai danau Genesaret (Luk 5:1-11). Peristiwa tersebut yang disebut Joseph Fitzmyer sebagai salah satu bagian dalam pelayanan Yesus di Galilea yang memiliki ciri munculnya mukjizat yang dilakukan Yesus sehingga membuat orang banyak menjadi takjub.

Peristiwa yang diberi judul “Penjala ikan menjadi penjala manusia” oleh Lembaga Alkitab Indonesia mengisahkan bagaimana Yesus memilih untuk naik ke perahu Simon (ay.3) dan kemudian menyuruh Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) serta menebarkan jalanya agar ikan dapat tersangkut di jalanya (ay.4).

Jika kita berada dalam situasi dan kondisi tersebut (composition of place), menunjukkan sikap ragu adalah sebuah hal yang wajar. Di samping mereka yang telah menjala ikan dari malam hari dan tidak mendapatkan satupun ikan (ay. 5), keraguan juga timbul karena perintah tersebut dilontarkan oleh Yesus yang merupakan seorang anak tukang kayu, yang diduga tidak memiliki keahlian menjala seperti Simon dan teman-teman nya. Sehingga, suatu hal yang mustahil untuk berhasil menangkap ikan dari jala yang ditebar tersebut.

Tidak demikian dengan Simon, walau ia tampak ragu namun nyatanya ada timbul seberkas harapan. Yesus-lah, yang menjadi alasan ia berani bertindak untuk menyebarkan jalanya.

Simon berkata, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Saat itulah, Mukjizat terjadi. Mereka justru berhasil mendapatkan ikan setelah menebarkan jalanya. Bahkan, karena banyaknya ikan yang berhasil ditangkap, jala tersebut mulai koyak (ay. 6) sehingga mengharuskan mereka untuk meminta bantuan perahu lain untuk mengangkut ikan yang didapatkan (ay.7).




Fredrik Öhlander on Unsplash


Dalam kehidupan kita, keraguan merupakan salah satu bagian dari emosi dan perasaan setiap manusia. Maka, adalah sebuah kebohongan besar apabila ada seseorang yang tidak pernah bersikap ragu dalam hidupnya. Namun, apakah kita akan terus terlarut dalam keraguan? Tentu tidak.

Perintah Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) adalah sebuah keyakinan yang melawan berbagai keraguan kita, pun termasuk keraguan untuk bertindak lebih bagi negara dan bangsa ini karena ada pemikiran dikotomik terlebih munculnya sentimen mayoritas-minoritas akhir-akhir ini.

Tindakan bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) sudah dilakukan oleh Allah yang menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7). Peristiwa inkarnasi tersebut seharusnya mendorong kita untuk senantiasa hadir dan bertolak menuju kepada dimensi terdalam dari berbagai aspek yang kita tekuni sehingga akhirnya kita dapat menjadi pelopor perubahan dalam berbagai bidang kehidupan.

Hal lainnya yang menarik dalam kisah ini adalah Simon yang ditetapkan oleh Yesus menjadi penjala manusia dan menjadi pengikut Yesus (ay.10-11). Kata “menjala” (yun: zogreo) terbentuk dari zoon (makhluk hidup) dan agreuo (menangkap, memberdayakan).

Maka, kata “menjala” bisa dimaknai pula sebagai tindakan memberdayakan agar tercipta kehidupan (to take alive) laksana Allah yang datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10).


Relevansi

Kita sebagai kaum muda yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan bangsa ini selanjutnya tentu tidak bisa hidup dalam keraguan secara terus-menerus. Perintah Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) merupakan sebuah ajakan bagi kita untuk jangan takut dan jangan ragu dalam meneruskan dan menjalankan tampuk kepemimpinan bangsa ini dengan berkualitas, berintegritas dan berdampak. Marilah menjadi pemimpin-pemimpin publik yang memberdayakan agar tercipta kehidupan yang lebih baik.

Kiranya, para peserta Program Pendidikan Kepemimpinan Publik kerjasama Sinode GKI dengan Institut Leimena ataupun anda yang membaca tulisan ini dapat termotivasi untuk menjadi pemimpin yang berintegritas dan berdampak bagi gereja dan bangsa, pro ecclesia et patria!


“Umat Kristen tidak dapat membagi kehidupannya dalam dua lapangan yang terpisah sama sekali. Kerajaan Allah harus dikabarkan dalam semua lapangan kehidupan.”


Dr. Johannes Leimena (Kewarganegaraan yang Bertanggung Jawab, 1955)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE