GARUDA Fellows – Kamukah Garam yang Asin Itu?

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 19 Desember 2018
Sudah bukan saatnya masa bodo dengan Indonesia. Justru, mari menghidupi harapan kita terhadap Indonesia.

Jakarta, 23-24 November 2018 – GARUDA


“Yaelah, emang harus pake pelicin kalo disini biar cepet, mau gimana lagi.”

“Itu mah urusan pemerintah, gak usah sok-sokan ambil bagian. Gak akan ngaruh!”

“Yaa emang udah begini bentuk pelayanannya, lelet, namanya juga Indonesia.”

“Duh, kami gak bisa berbuat apa-apa, kami hanya menunggu pemerintah memperbaiki kerusakan ini.”

“Pak Presiden, tolong, jalan di depan rumah saya rusak, udah dua tahun begini terus Pak Presiden, aduh denger dong Pak!”


Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan warga negara (netizen berikutnya) menilai jalannya pemerintahan di Indonesia. Pemerintah dirasa begitu jauh dari keseharian kita. Apatis sambil menangis, kelihatannya tidak ada yang bisa dilakukan. Semua yang terjadi di Indonesia sudah mutlak bobrok dan tidak akan pernah benar.

Bicara tentang politik, biasanya jarang ada orang yang betah, malahan langsung ngacir, dianggap itu hanya urusan mahasiswa Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik) saja, karena (katanya sih) politik di Indonesia kompleks, banyak bohongnya, banyak hoax-nya. Belum lagi bicara soal korupsi, siapa yang tahan cari sumber perkara, mulai dari yang tergolong kelas ikan dori sampai kelas kakap. Tapi, apa benar Indonesia isinya hanya yang begituan aja?

Tanggal 23-24 November yang lalu, Institut Leimena –dalam kerjasamanya dengan GKI– mengadakan sebuah acara final untuk para Garuda fellows (angkatan pertama dari kerja sama ini). Kami yang sejak bulan Juni lalu saling dipertemukan untuk pertama kali, akhirnya bertemu lagi setelah lima bulan mengikuti pembelajaran online. Banyak sekali hal yang didapatkan dalam pembelajaran final selama dua hari itu. Kunjungan kami ke lembaga-lembaga negara dan berbincang-bincang dengan beberapa tokoh sangat membukakan mata kami.



Dokumentasi Acara


Ombudsman adalah salah satu lembaga negara yang berfungsi penting, tapi tak banyak diketahui warga negara. Sering terjadi kesalahpahaman dalam memahaminya. Ombudsman bukanlah sebuah singkatan, melainkan sebuah istilah yang digunakan oleh semua negara untuk menunjuk pada lembaga negara pengawas pelayanan publik. Fungsinya secara umum untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Dengan adanya Ombudsman, maka segala bentuk malaadministrasi yang kita temukan di Indonesia dapat dilaporkan. Ini adalah salah satu lembaga negara yang membuat kita tidak lagi perlu berasumsi bahwa pemerintah itu jauh. “Layaknya salah satu anggota keluarga, pemerintah perlu ditegur serta diapresiasi,” kata salah seorang teman Garuda, Ester Novaria, dalam media sosialnya.

Seperti tagline-nya, “Awasi, tegur, laporkan!” setiap warga negara yang melihat adanya bentuk malaadministrasi berhak menegur sebelum melaporkan. Ini adalah bentuk kepedulian warga negara terhadap proses pemerintahan. Seperti yang dikatakan oleh Jakob Tobing dalam perbincangan kami, “kamu harus bertindak karena kamu adalah Indonesia!”



Dokumentasi Acara


Salah satu tokoh yang sangat menginspirasi saya ketika pertemuan hari kedua – karena kepeduliannya pada bangsa ini – adalah Ayu Kartika Dewi. Beliau merupakan salah satu pendiri Gerakan Sabang Merauke. Berangkat dari pengalamannya melihat tindakan intoleransi anak-anak kelas 3 SD, harapannya terhadap Indonesia muncul. “Indonesia benar-benar harus berubah. Intoleransi tidak bisa dibiarkan menjajah kemanusiaan. Toleransi bukan diajarkan, tetapi harus dialami.”

Mulai dari kepeduliannya terhadap masa depan Indonesia, ia membuat gerakan yang berhasil menumbuhkan rasa toleransi anak-anak. Anak-anak dari suku dan agama tertentu harus tinggal dan menetap selama beberapa minggu di sebuah keluarga yang berbeda suku dan agama dengannya. Hal ini mengubah apa yang diceritakan orang tua mereka, atau apa yang diceritakan orang di sekitar mereka, dengan apa yang benar-benar mereka alami. Diharapkan anak-anak ini kelak akan berada di posisi terdepan ketika terjadi perselisihan antarsuku dan agama.



Dokumentasi Acara


Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang narasumber dalam kunjungan kami ke Institut Maarif, “Setiap orang adalah agen-agen perdamaian. Ceritakan kedamaian yang dirasakan ketika berada di tengah teman-teman lintas agama”. Ini adalah bukti kalau setiap orang bisa memberikan dampak positif demi bangsa ini lewat tindakan sekecil apapun.

Daripada hanya nyinyir, mengeluh, dan pesimistis? Apalagi kalau merasa kamu berasal dari luar, bukan lahir dan besar di Indonesia dengan budaya Indonesia. Seperti yang diungkapkan Ismail Marzuki dalam lagunya, “Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata”, Indonesia ini tempat berlindungmu, masa’ mau dibiarkan porak poranda?



Dokumentasi Acara


“Bagaimana aku tidak muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?” (Nehemia 2:3). Salah satu ungkapan yang menunjukkan kepedulian Nehemia terhadap nasib kotanya. Jarang sekali ada orang yang peduli terhadap situasi keberadaan kotanya. Namun berbeda dengan Nehemia.

Nehemia adalah pelayan pribadi Raja Artahsasta; juru minum raja. Ialah yang mencicipi anggur terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada raja. Karenanya ia adalah salah satu orang kepercayaan raja. Dalam kitab Nehemia, ia digambarkan sebagai seseorang yang memiliki jiwa pemimpin yang kemudian memperhatikan keberadaan kotanya dan berpartisipasi di dalamnya.

Dalam Nehemia pasal 2, jelas terlihat bahwa ia ingin tembok Yerusalem dibangun kembali. Proses pembangunan kembali tembok Yerusalem ternyata mengundang cacian dari mereka yang tidak mengingini keberadaan orang-orang Yahudi. Namun ketulusan hati Nehemia dan orang-orang yang juga membantunya membangun tembok Yerusalem (perhatikan di sini, Nehemia tidak sendiri) membuat kotanya dapat kembali memiliki tembok Yerusalem (Neh. 6:15). Apa yang sebenarnya membangkitkan rasa kepemilikan Nehemia terhadap kotanya, sehingga ia ingin memperbaiki kotanya?

Ketika membaca keseluruhan kitab Nehemia, kita mendapat gambaran bahwa Nehemia adalah seorang Yahudi yang sangat mencintai dan setia kepada Allah Israel. Karena itu, tidak mengherankan jika dia begitu sedih ketika mendengar bahwa tembok-tembok pintu gerbang kota suci Yerusalem tinggal reruntuhan dan puing saja. Ia menyadari bahwa ia bukanlah seorang nabi yang ditugasi berdoa untuk keselamatan kota, ia tidak datang dari antah-berantah dan dibuang untuk memperbaiki kota, ia bukan terlempar ke tengah-tengah kota, tetapi dia adalah bagian dari kota itu, dan harus membenahi yang rusak.



Dokumentasi Acara


Persis seperti kata Bapak Jakob Tobing, arsitek Indonesia, yang berhasil mengubah bentuk kekuasaan dari otoriter menjadi demokrasi konstitusional, “Bangsa ini diri kita, kita bukan pendatang. Bukan masalah saya minoritas, atau saya Kristen, tapi apa peran saya untuk negeri ini?”

 

Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati

Air matamu berlinang, mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan

Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa

(Ibu Pertiwi – Ismail Marzuki)


Indonesia saat ini membutuhkan pertolongan. Sama seperti yang dilakukan Nehemia terhadap Israel, ia segera bertindak membenahi kota. Yang dibutuhkan peran, bukan hujatan. Yang dibutuhkan sikap kritis, bukan pemikiran apatis. Yang dibutuhkan apresiasi, bukan hate speech. Sudah bukan saatnya masa bodo dengan Indonesia. Justru, mari menghidupi harapan kita terhadap Indonesia.

Setiap partisipasimu dibutuhkan, karena urgensinya besar sekali. Seperti Matius 5:13, garam yang berguna adalah garam yang asin, yang memunculkan rasanya, bukan yang tawar. Garam yang tawar tidak berguna, hanya akan dibuang dan diinjak. Garam yang manakah kamu? Garam asin yang mengeluarkan rasanya dan berdampak bagi sekitarnya, atau garam tawar yang bergeming ketika ada yang membutuhkanmu? Selamat berproses.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE