Gereja “Kurang Iman” di Titik 30

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 28 Agustus 2018
“Jika olokan ‘kurang iman’ adalah salib yang harus dipanggul GKI demi menjaga keragaman NKRI bersama kami, just be it! “

Saat ini, GKI genap berusia 30 tahun untuk hidup bersinode. Sebuah langkah di mana kita mengingat kembali peristiwa pernyataan dan kerelaan diri untuk berjalan bersama sebagai satu kesatuan yang ada dalam lingkup Gereja Kristen Indonesia (GKI). Peristiwa yang dirayakan serentak di seluruh GKI pada Minggu (26/8) lalu mengangkat tema “Bersama Mengukir Narasi Cinta bagi Bangsa”. Sebuah pesan yang menjadi kerinduan, sekaligus tantangan bagi kita semua.

Di perayaan syukur ini, ada sebuah pesan reflektif yang dituliskan oleh Aan Anshori, seorang aktivis GUSDURian dan Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD). Tulisan yang semulanya ditulis Gus Aan dalam laman Facebooknya ini kami rasa perlu dibaca lebih luas, sehingga (atas seizin penulis), kami bagi pesannya disini. Kiranya ini dapat menyemai sebuah optimisme bahwa tugas “Mengukir Narasi Cinta” tidak akan GKI jalankan sendirian. Kita punya kawan seperjuangan dalam menunaikan tugas perutusan tersebut, dan untuk itu, tentu kita layak bersyukur.


Selamat membaca.

Salam, editor.


---


‘Kurang iman’ adalah plesetan-mesra yang pernah aku dengar dari teman-temanku pendeta di GKI, untuk gereja mereka. Kabarnya, olokan tersebut, sering dilontarkan oleh denominasi kekristenan lain yang, katakanlah, lebih kharismatik dan, somehow, lebih pietis. Saya tahu itu sekedar guyonan saja.

Satu yang menarik, plesetan seperti ini juga pernah aku dapat saat beberapa orang mengolok PMII, almamaterku; dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menjadi Pergerakan Mahasiswa Insyaalloh Islam.

GKI sendiri kepanjangan dari Gereja Kristen Indonesia. Salah satu sinode Protestan terkemuka yang bercikal dari gereja etnis Tionghoa. Ia selanjutnya tumbuh menjadi denominasi terbuka dengan identitas Keindonesiaan yang sangat kuat. Kiprahnya dalam menjaga keragaman identitas Indonesia sudah tidak lagi bisa saya pertanyaan.

Olokan ‘kurang iman’ barangkali muncul oleh karena wajah GKI yang dianggap tidak lagi ‘konsisten’ menghidupi nilai klasik kekristenan. Nilai ini bertumpu pada semangat penginjilan dalam koridor konversi iman. Dalam Islam sendiri, harus aku akui, nilai klasik seperti ini masih kuat melekat sebagai tujuan dakwah, bahkan hingga sekarang.

Aku pribadi sudah lama melucuti nilai klasik itu dari diriku. Malu. Islamisasi selanjutnya aku pahami sebagai kewajiban menjadi rahmat bagi semesta, bukan mengubah agama seseorang. Memaksa mengubah agama orang lain adalah hal yang menyebalkan sebab setiap individu bisa tumbuh menjadi baik dalam imannya masing-masing, teorinya demikian.

Saya merasa sangat dekat dengan GKI, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak terhitung berapa banyak temanku yang kini menjadi pendeta maupun teolog di Sinode tersebut; Andri, Yoses, Andreas, Boy, Samuel, Anang, Leo, Virgo, Adon, Dinna, Dimas, Sigit, Novi, Himawan, Ida Sianipar, Steve Suleeman, Gidyon, Pelangi, Sutrisno, Susan, Sandy, Florida, Surya, Agustina, Iwan, Agus, Stefanus, Novarita, Michael, Bonnie, dan Simon Filantropa. Itu hanya beberapa saja. Masih banyak yang lain.

Saking dekatnya, aku tidak hanya pernah makan, minum, numpang tidur, namun juga berproses lebih jauh; menjadikan GKI sebagai tempat mendadar penguatan relasi antariman bagi banyak muslim muda. Ya, GKI sering aku gunakan sebagai laboratorium pengasahan sensitifitas keislaman mereka agar semakin tajam dan toleran - bukan sejenis keislaman yang tumpul-intoleran yang malah bisa menyakitkan liyan.

Di GKI Jombang, misalnya, untuk pertama kalinya aku ajak Cecil dan Galang ikut menghadiri perayaan Natal tiga tahun lalu sembari menikmati pagelaran wayang Potehi di dalam Gereja. Gereja itu menjadi saksi puluhan anak muda Islam asal Puger Jember yang terlibat dalam program inklusi sosial milik Lakpesdam NU Jawa Timur.



Photo by Shierly Lin (Facebook)


Begitu dekatnya, aku bahkan bisa mengusulkan agenda kegiatan lintas iman di program kerja tahunan GKI, baik di level kabupaten, klasis, maupun sinode wilayah. Aku memang benar-benar tidak tahu malu; bukan jemaat tapi ikut ngusulin program kerja.

Tanpa rasa malu pula, saat penahbisan Yoses di GKI Sidoarjo, aku mengatakan bahwa adikku ini bukan "hanya milik" GKI. Ia, dan banyak pendeta GKI lainnya, sejatinya putra Indonesia yang pengasuhannya "dititipkan" ke GKI, namun tanggung jawab mereka tidak terbatas pada komunitas GKI, namun pada Indonesia.

Ya betul, aku ikut menumpangkan tanganku, bersama para pendeta GKI dan perwakilan lintas agama, di atas kepala Yoses saat ia ditahbiskan 21 November 2016 lalu. Aku juga ikut duduk di atas, dekat mimbar, bersama puluhan pendeta dari berbagai sinode, ketika Bonnie Andreas diteguhkan menjadi imam baru GKI Pondok Indah, usai digeser dari Cileduk.



Photo by Palti Hatoguan Panjaitan (Facebook)


Dengan potret seperti ini, sebagai serpihan kecil dalam percaturan gerakan Jaringan GUSDURian yang hingga kini aku geluti, aku bisa katakan, GKI adalah ‘our strong ally’, selain Katolik, GKJW, dan kelompok lain.

Jadi, jika olokan ‘kurang iman’ adalah salib yang harus dipanggul GKI demi menjaga keragaman NKRI bersama kami, just be it!


Happy 30th Anniversary, GKI!


Aan Anshori

Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD)

Aktivis GUSDURian

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE