Jagongan Kebangsaan: Indonesia Kerja Bersama

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 29 Agustus 2017
Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.
KH Abdurrahman Wahid

Sabtu, 19 Agustus 2017 bertempat di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, telah dipenuhi oleh lebih dari 200 pemuda pemudi yang antusias dengan kelangsungan keberagaman Indonesia. Dalam acara yang bertajuk Jagongan Kebangsaan dengan tema “Indonesia Kerja Bersama” ini, menghadirkan tiga pembicara. Di antaranya: Kandi Aryani (Dosen Komunikasi Univ. Airlangga dan Pegiat Sosial), Dandhy Dwi Laksono (Watchdoc), dan Gus Hasan Bisri (Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim).

Acara ini bermula dari banyaknya postingan di media sosial yang dinilai memprovokasi keberagaman Indonesia. Misalnya, patung pahlawan perang yang akhirnya ditutup kain putih karena desakan oknum tertentu atau pun pemilihan kepala daerah yang sarat kepentingan politik hingga menimbulkan keretakan di lapisan masyarakat Indonesia bahkan sampai beberapa lama setelah pemilihan itu sendiri telah selesai.

Lalu, muncullah pertanyaan,”Mampukah Indonesia bekerja bersama dengan tetap mempertahankan ciri khasnya yang majemuk?” Pertanyaan inilah yang memicu beberapa pemuda yang tergabung dalam PGIW (Persekutuan Gereja Indonesia Wilayah) Jatim dan Unika Widya Mandala menggagas acara ini.

Mbak Kandi, sapaan akrab Kandi Aryani, dalam sebuah acara penyambutan di kampusnya pernah bertanya pada seorang mahasiswa, ”Apakah Anda merasa bagian dari Indonesia?”. Mahasiswa itu menggelengkan kepala. Pada masa remajanya, mahasiswa yang berasal dari Papua tersebut pernah mengalami kekerasan oleh aparat yang bertugas di sana. Sehingga perlu menjadi catatan tersendiri bahwa masih ada ataupun banyak orang yang lahir di Indonesia, namun tidak merasa hidup sebagai warga Indonesia.

Tak lama kemudian meledaklah media sosial, di mana tidak ada filter dalam memberitakan informasi, entah itu berita ataupun hoax. “Karena itu, kita harus mempunyai critical thinking. Mempertanyakan informasi di balik informasi. Siapa penulisnya, media yang berafiliasi, dan banyak lagi info di baliknya, sehingga berita yang kita baca itu benar. Bukan hoax,” ujar dosen komunikasi Unair ini.

Dandhy Dwi Laksono sendiri menghadirkan video tentang Indonesia. Bukan seperti video keindahan Indonesia seperti di iklan pariwisata, namun menonjolkan sisi lain dari sebuah informasi atau keadaan yang jarang atau bahkan tidak bisa dijangkau berdasarkan informasi yang sudah beredar. Melihat Indonesia dari sisi yang berbeda, berdasarkan prinsip cover booth side agar tidak terjadi ketimpangan di dalam penyajian sebuah informasi. Dalam video yang berjudul “72 Tahun Merdeka – Drone Keliling Indonesia” ini, bahkan Dandhy memperlihatkan masyarakat yang memiliki sengketa dan menolak pembangunan pabrik semen di salah satu lokasi di Jawa.

Sedangkan Gus Hasan Bisri, menuturkan dalam kesehariannya,”Tidak ada agama yang menaruh kebencian terhadap agama lain.” GP Ansor justru ini mengajak semua elemen masyarakat untuk merajut kerjasama. Sedangkan dalam media sosial, GP Ansor pun sering diserang. “Contohnya ketika ada masjid di Papua yang terbakar, besoknya ada meme: GP Ansor hanya melindungi Gereja. Terus kapan melindungi Masjid?” “Media Sosial mempunyai peran penting dalam merajut ke Bhinekaan, bukan memicu keretakan bangsa. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita mensinergikan bangsa ini?” ujarnya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perlu terjadi sinergitas antara peran menumbuhkan dunia maya dan dunia nyata secara positif. Aktif di dunia nyata dapat diperlengkapi dengan menyebarkan informasi mengenai kebaikannya melalui dunia maya. Aktif di dunia maya juga perlu, apabila konteks yang dikehendaki adalah mengenai membagikan informasi yang membangun manusia lain ke arah yang lebih positif. Dan pemuda merupakan pemegang tongkat estafet harapan bangsa untuk menjaga kehidupan kebhinekaan itu agar tetap tumbuh dan lestari hingga sampai nanti.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE