Kebhinekaan: Jangan Hanya Ditunggu, Wujudkan!

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 17 Desember 2018
Butuh banyak hati, yang bukan sekadar menanti, melainkan bertindak untuk memulai langkah demi terciptanya kesatuan.

Warna-warni Berbeda di Pagi itu

Ketika melihat kalender berwarnakan tinta merah, mungkin sebagian orang, termasuk saya, akan memilih menghabiskan waktu libur dengan bertamasya ke tempat wisata atau mungkin berdiam di rumah/kos sembari menikmati acara televisi. Namun pengalaman kali ini tidak biasa. Bersama dengan beberapa pemuda yang tergabung dalam aksi sosial lintas iman, kami memilih mengisi libur singkat dengan berkumpul di masjid Agung Al-Akbar Surabaya untuk mengikuti Bakti Sosial Kebhinekaan bertemakan “Milenial Sadar Kebhinekaan”.

Sejuk mata ini melihat muda-mudi dari beragam latar belakang agama, suku, komunitas asal, berkumpul pada hari Maulid Nabi SAW 1440H. Terasa sukacita ketika mengenal orang-orang di sekitar saya melalui ice breaking dan perkenalan-perkenalan receh. Membara semangat ini ketika kami semua mendengar sambutan dari pejabat-pejabat penting yang mengingatkan kembali pentingnya kebhinekaan antarumat beragama.

Acara pun berlanjut dengan penjelasan kegiatan bersih-bersih 100 rumah ibadah, di mana kami dari setiap komunitas yang berkumpul dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan disebar ke berbagai rumah ibadah yang berbeda dengan agama yang kami anut. Saya pun mendapatkan kelompok dengan tujuan Masjid As Salafiatul Huda, di kawasan Kertajaya.




Perjalanan mengenal umat beragama lain

Sesampainya di lokasi, kami disambut oleh Pak Narko. Membersihkan pelataran masjid, llau menyapu dan mengepel area dalam masjid. Nampaknya “sederhana” layaknya pekerjaan orang-orang yang memang suka kebersihan. Namun ada hal-hal yang dikorbankan: waktu liburan singkat, tenaga untuk membersihkan ruangan, dan ego untuk turut merasakan hati orang lain.

Di waktu senggang beliau banyak bercerita kepada kami termasuk tentang dirinya yang bukan hanya mengurus keperluan peribadatan saja, namun juga menjaga kebersihan dari masjid tersebut. Kaget mendengarnya, masjid yang relatif besar selama delapan tahun diurus oleh seorang imam, tanpa adanya bantuan marbot dan tidak dibayar. Saat itu pun saya sadar bahwa masih banyak rekan-rekan yang berada dalam kondisi senyaman saya dalam beribadah, hadir di gereja dalam kondisi bersih, bangku tertata rapi, dan AC ruangan dingin.




Dalam hati, saya pun memutuskan untuk sekali lagi belajar mengasihi sesama kami, yang berbeda golongan, sebagai manusia seutuhnya. Sebuah pilihan untuk menyatakan ungkapan kasih kami sebagai tanda kemanusiaan, dengan cara menghargai dan menjaga kebersihan rumah ibadah saudara-saudara kami yang berbeda iman. Pikiran saya pun seolah mengingat hal-hal yang disampaikan oleh Deputi Kemenpora dalam sambutan pagi itu.

Beliau mengatakan, “Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi terbesar yang terdiri dari berbagai perbedaan di dalamnya baik ras, suku, maupun agama. Inilah yang menjadi kebanggaan terbesar bagi kita, di mana dengan banyaknya perbedaan kita mampu hidup berdampingan dan menciptakan kedamaian di dalamnya. Justru dalam perbedaan itulah yang menjadi kekuatan bagi Indonesia dan menciptakan kesatuan dalam bingkai Pancasila.” Saya rasa memang inilah waktunya bagi kaum muda untuk mulai bergerak, bukan hanya menanti kesatuan itu datang melainkan mengambil peran untuk menghadirkan kesatuan.




Kesatuan dalam anonimitas

Topik mengenai kesatuan dalam kebhinekaan belum tentu menjadi suatu urgensi untuk dihidupi warga Indonesia. Lalu, apakah kita, anak muda Kristen, juga akan mengikuti arus untuk menganggap kebhinekaan adalah bukan suatu hal yang penting untuk dihidupi? Rasanya tidak demikian seharusnya.

Karl Rahner, seorang teolog Katolik Roma abad 20, mengejawantahkan sebuah konsep Kristen Anonim, di mana kasih anugerah Allah dibagikan secara merata bagi semua orang, baik beragama Kristen maupun tidak. Maka hal yang bisa dilakukan pengikut Kristus ialah melakukan dialog dengan umat beragama lain untuk membagikan kasih anugerah Allah bagi setiap orang. Melalui kasih nyata yang terbentuk inilah akan tercipta kesatuan di dalamnya.




Ketika kita belajar mengasihi, mungkin kita pernah dan juga mungkin akan mendapatkan penolakan. Hal tersebut yang dialami juga oleh salah satu kelompok dalam proses bersih-bersihnya, ketika seorang bapak menyatakan, “Ga usah ikut bersihkan rumah ibadah kami! Orang Kristen tidak pantas ke rumah ibadah kami, begitu pula kami tak pantas ke gereja!” Sakit hati memang saat mengetahui kebaikan tersebut ditolak, namun bukankah lewat proses penolakan tersebut kita belajar melakukan hal yang Yesus perbuat juga, di mana dalam Matius 20:28 dinyatakan bahwa “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” ?

Bagaimana jika maksud Yesus dalam melayani, menjadi pelayan dan memberikan layanan bagi orang lain, Ia dan pengikut-Nya tidak perlu melihat keberadaan diri? Yang kita perlu lakukan hanyalah memenuhi apa yang dibutuhkan orang-orang yang kita layani. Dalam proses menganonimkan diri tersebut, kasih bukan diberikan dalam bungkus hegemoni predikat agama Kristen, karena yang kita lakukan adalah melayani dan penolakan adalah perjuangan kita melayani orang-orang tersebut, hingga mereka perlahan sadar bahwa kebutuhan mereka ialah kasih yang menyatukan.




Kebhinekaan

Mungkin bukan salah satu topik yang ramah dan nyaman untuk diterima anak muda, tak terkecuali pemuda Kristen. Beberapa orang mungkin merasa kebhinekaan cukup diterapkan hanya dengan tidak mengganggu ibadah agama lain, atau mungkin dengan memiliki toleransi antaragama saja sudah cukup. Apakah itu kesatuan dalam kebhinekaan yang dinanti?

Butuh banyak hati, yang bukan sekadar menanti, melainkan bertindak untuk memulai langkah demi terciptanya kesatuan. Memang perlu bagi pemuda Kristen untuk memperdalam keimanan secara vertikal (Allah) dan mengaplikasikan kasih Kristus secara horizontal (sesama) kepada mereka yang satu agama atau bahkan satu gereja. Namun yang tak kalah penting ialah menyuarakan dan membagikan kasih Kristus melampaui tembok gereja, yaitu melayani sesama manusia tanpa harus membanggakan identitas yang diusung, tanpa melihat perbedaan golongan.

Jangan tunggu, besok, bulan depan, pemilihan presiden, atau momen lainnya. Wujudkan kebhinekaan sekarang dengan menyatakan kasih yang melayani bahkan walaupun tanpa harus menunjukkan identitas.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE