NGOPI: Ngobrol Persoalan Indonesia

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 10 November 2017
Mereka yang bukan saudara kita dalam iman, merupakan saudara kita dalam kemanusiaan

Malang – Ahad terakhir bulan yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda menjadi momen pelaksanaan talkshow yang diselenggarakan di GKI Bromo. Acara tersebut diprakarsai oleh Gerakan Kebangsaan Indonesia dengan mengambil tajuk “NGOPI: Ngobrol Persoalan Indonesia” bersama narasumber Denny Siregar, seorang pegiat media sosial.

Acara dibuka dengan nyanyi-nyanyian yang diiringi oleh Hymn Chorus dari GKI Bromo, Malang. Kemudian di tengah acara, pemimpin acara mengajak para peserta untuk membacakan ikrar Sumpah Cinta Indonesia. Ikrar dikumandangkan dengan penuh semangat, gema suaranya membuat bulu kuduk merinding. Beragam lapisan masyarakat hadir hari itu, mulai dari yang telah lanjut usia dengan warna rambut yang telah pudar, dan tak ketinggalan para anak muda. Nampaknya semanga ala kera ngalam benar-benar membuat usia hanyalah sebatas angka.


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

Acara kemudian berlanjut ke sesi utama, dimana moderator mempersilahkan narasumber utama untuk naik ke panggung. Moderator menceritakan profil Bung Denny Siregar yang mengawali karirnya pada tahun 1992 di sebuah radio yang berlokasi di Surabaya. Informasi tersebut diamini oleh Bung Denny. Beliau bahan menambahkan bahwa sebenarnya pada waktu itu termasuk orang yang pemalu untuk berbicara di depan mic. Beliau merasa lebih nyaman untuk ‘berbicara’ melalui tulisan hingga akhirnya menemukan Facebook sebagai sarana yang pas untuk mulai giat mengeksplorasi hobi menulisnya.

Namun ternyata hobi menulis Bung Denny tidak hanya menghidupi pemikiran serta pemahaman yang beliau yakini, melainkan juga menimbulkan resiko saat harus berbenturan dengan pihak yang tidak sepaham. Benturan dengan teman baik hingga harus mengorbankan tali silaturahmi pun pernah dialaminya. Pada medio 2011-2013, Bung Denny sempat merasa sendiri dalam memperjuangkan apa yang ia yakini. Namun beliau yakin bahwa apa yang dilakukan tersebut bukanlah hal yang buruk. Beliau berusaha untuk memberikan sudut pandang lain atas sebuah fenomena yang mulai menjamur dan menggerogoti ke-Bhinneka-an yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

Concern Bung Denny adalah mengenai konsep radikalisme yang saat ini sedang berusaha merasuki masyarakat melalui media sosial. Secara sederhana, paham-paham yang didengungkan oleh kaum radikal tersebut berusaha membentuk pemkiran bahwa sebenarnya mereka yang tidak sama berarti musuh. Mereka yang tidak seagama adalah kafir. Hal tersebut sempat terjadi pada proses pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah dasar (SD) karena para pendidik yang luput melihat konteks secara lebih luas. Bahwa ada kepentingan selain kepentingan agama yang sedang diusahakan oleh pihak tertentu. Dan dalam usahanya memuluskan kepentingannya itu, pihak tersebut menggunakan isu-isu yang sensitif seperti SARA.

Di bagian lain tepatnya di bagian media sosial, terdapat sebuah usaha untuk memuluskan penanaman pemahaman akan semangat radikalisme melalui propaganda. Salah satunya adalah propaganda mayoritas-minoritas. Mereka yang setuju sudah dipastikan telah kalah sebelum berperang. Disebutkan Bung Denny bahwa hal tersebut akan menghasilkan output stigma ‘Kristen yang kalah’.

Bagaimana maksudnya? Umat Kristen terkekang dalam pola pikir kalah jumlah. Mau apa mereka dengan kondisi seperti itu? Mereka menjadi lebih permisif dengan diskriminasi-diskriminasi mulai dari cara yang implisit hingga eksplisit. Padahal sekali lagi, propaganda mayoritas-minoritas tersebut dibuat dengan tujuan menciptakan superioritas kaum radikalis. Saat masyarakat yang dilabeli minoritas sungguh-sungguh setuju bahwa mereka kalah jumlah sehingga harus bersikap permisif terhadap mayoritas, maka disitulah radikalisme dilanggengkan.


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

Bung Denny membagikan pengertian bahwa sebenarnya terdapat agenda lain selain kepentingan agama yaitu kepentingan untuk menguasai sumber daya yang ada di Tanah Air. Oleh karena itu, isu SARA yang merupakan isu paling sensitif menjadi komoditas paling laku bagi para aktor pengolah isu. Apabila sebuah bangsa telah termakan oleh isu-isu tersebut, maka negara tersebut akan mengalami ketidakstabilan secara politik maupun ekonomi. Itulah celah pihak tertentu untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai lahan kepentingannya.

Bagaimana analisis tersebut dapat dijewantahkan merupakan hasil dari pengamatan Bung Denny atas apa yang telah terjadi di Suriah. Pola yang terjadi di Indonesia merupakan hasil copy paste dari pola yang terjadi disana.

Pengetahuan yang dibagikan oleh Bung Denny pada hari itu teramat luas. Diskusi yang terjadi bukan hanya soal isu radikalisme, melainkan sampai kepada sebuah konsep informasi dibalik sebuah informasi. Terdapat isu lain dibalik isu radikalisme. Sehingga kita diharapkan untuk dapat lebih bijak dalam memilah informasi, agar jangan hanya terfokus terhadap satu titik saja, radikalisme agama misalnya, melainkan mencoba mencari tahu ada apa dibalik sebuah peristiwa.

Bukan hanya pengetahuan saja, Bung Denny juga berbagi mengenai kiat untuk melawan propaganda radikalis di sosial media. Yaitu dengan cara mengcounter secara langsung isu SARA atau HOAX yang disebar dan juga memiliki mindset bahwa orang jahat tak harus terlihat bengis. Sebutan-sebutan yang disematkan seperti ‘sumbu pendek’ maupun ‘kaum bumi datar’ merupakan sebuah cara agar tidak menjadikan sebuah ketidaksepahaman menjadi semakin rumit dan mengarah ke tensi yang lebih tinggi. Menurut beliau, saat ini mulai banyak kawan sepemahaman yang mulai sadar untuk tidak tinggal diam melihat kabar-kabar burung di internet yang semakin deras dan tidak terkendali. Namun bukan berarti itu sudah cukup, masih diperlukan usaha dari semua pihak agar semangat radikal ini lama kelamaan menjadi sebuah dagangan yang basi di tanah air.


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

Sebuah quote cantik disampaikan oleh Bung Denny, ”Mereka yang bukan saudara kita dalam iman, merupakan saudara kita dalam kemanusiaan.” Quote tersebut diamini oleh Bu Asriana. Beliau hadir bersama dengan anak dan suaminya ke GKI Bromo untuk kembali mendengar Bung Denny berbicara.


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

Di akhir acara Bung Denny memberikan seruan semangat kepada peserta, “Jangan takut! Jangan pernah takut! Intimidasi adalah bagian dari resiko ketika kita menginginkan sebuah perdamaian.”


Credit by Febri Kristiawan (Dokumentasi Acara)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE