Perbedaan Bukan untuk Dijauhi: Refleksi “Nyantri” Remaja Gereja di Pondok Pesantren

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 13 Juni 2017
Jika memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, mau aku apakan perbedaan ini?

Perkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini sedikit mencemaskan. Dimulai dari isu penistaan agama di Jakarta, kemudian melebar menjadi kekerasan seperti bentrok antar ormas, bom molotov yang meledak di Gereja Kristen Oikumene Samarinda (Kaltim, 13/11/2016) dan Vihara Singkawang (Kaltim, 14/11/2016), hingga berkembang menjadi isu makar.

Media juga turut berperan dalam menyebarkan berita-berita sensitif ini hingga ke skala nasional. Selain itu, terdapat pula media yang menjadi kurang independen karena tendensi dari sang pemilik demi suatu kepentingan tertentu. Yang terjadi kemudian bisa ditebak:

1. Media dipakai sebagai sarana penyaluran tendensi si pemilik media.
2. Kejadiannya berada di Jakarta, tetapi kami yang berada di daerah juga turut merasakan dampaknya. Hubungan pertemanan dan tetangga yang tadinya baik, tetapi jika berbicara soal isu penodaan agama, bisa saling maki dan benci.
3. Energi negeri ini seolah-olah habis hanya untuk membicarakan soal isu yang satu ini. Dan bagi saya, media (yang tendensius itu) turut berperan serta dalam menciptakan keadaan yang seperti ini.

Berawal dari latar belakang tersebut, tercetuslah sebuah gagasan tentang bagaimana memerangi isu kebencian dan perpecahan antar elemen bangsa ini dengan cara yang damai. Bagi saya caranya hanya satu, perbedaan itu bukan harus ditakuti, melainkan harus didekati.

Hingga kemudian terlintas sebuah gagasan untuk mengajak anak-anak remaja GKI Pamitran, Cirebon, untuk Live-In (tinggal bersama) di pondok pesantren. Gagasan ini kemudian saya sampaikan kepada Abdurahman Wahid, Ketua Gerakan Pemuda Lintas Iman (Pelita) Cirebon. Bak gayung bersambut, mas Omen, begitu ia biasa disapa, menanggapinya dengan antusias. Beliau bersama pengurus Pelita menyampaikan ide ini dan mempertemukan saya dengan Kiai Haji Amin Fuad, Pengasuh Pesantren Bapenpori Al-Istiqomah, Babakan, Kab. Cirebon. Pesantren ini terletak di Ciwaringin, perbatasan Kabupaten Cirebon dan Majalengka.

Inilah pengalaman pertama saya untuk bertatap muka secara langsung dengan seorang Kiai. Awalnya timbul rasa takut serta sungkan ketika Mas Omen akan mempertemukan kami berdua. Namun, rasa takut itu musnah seketika saat saya bertemu dengan seorang Kiai yang begitu ramah, sangat welcome dan menghormati tamunya sedemikian rupa dengan gaya yang penuh guyonan. Dalam hati saya, “Anjayyy.. Pak Kiai bisa gaul dan guyon juga ternyata”.

Oh Tuhan, inilah wajah Islam yang saya yakini masih banyak tersebar di seluruh negeri. Wajah Islam yang penuh hospitalitas, kasih sayang, dan rahmat untuk semesta.

Kemudian tibalah hari dimana kami mulai “nyantri” d i pondok, yaitu pada 31 Maret – 02 April 2017. Alangkah senangnya, ketika anak-anak remaja GKI Jatibarang juga antusias untuk ikut bergabung bersama dengan kami.

Yang menjadi pembeda dari konsep acara kami adalah anak-anak harus mempelajari terlebih dahulu mengenai perbedaan. Teknisnya, fasilitator Pelita memisahkan remaja Kristen dan para santri. Yang Kristen belajar tentang apa itu Islam. Dan kebalikannya, para santri juga belajar mengenai apa itu kekristenan.

Apa aja sih yang diajarkan oleh Islam? Bagaimana ritual keagamaan mereka? Apa peran Islam dalam kebangsaan? Bagaimana Islam memandang keberagaman agama?

Di hari pertama, remaja gereja memperoleh materi tentang fiqih. Di hari kedua, mereka mendapat materi tentang kitab kuning dan belajar tentang sejarah dan peran NU bagi bangsa ini. Di hari kedua inilah kami melihat dasar-dasar yang diperoleh para santri untuk menjadi pribadi-pribadi yang berahklak mulia. Para santri bukan hanya diajarkan untuk menjadi pribadi yang berelasi baik dengan Tuhan, namun juga relasi baik dengan sesama manusia, serta berjuang demi kebaikan bangsa.

Sementara itu di kelas para santri, mereka mempelajari tentang kekristenan, dimana iman kami berpijak, apa pandangan kami terhadap Yesus Kristus (Isa), apa yang Isa ajarkan. Mereka juga memperoleh materi mengenai sejarah perpecahan gereja agar mereka juga mengerti bahwa wajah kekristenan itu tidak hanya satu, melainkan majemuk.

Di hari terakhir, saya bersama K.H. Amin Fuad menyampaikan sesi pandangan kekristenan dan Islam terhadap pluralisme. Materi yang tidak menggunakan dogma dalam pendekatannya, melainkan kisah-kisah yang ada di Alkitab, Al-Quran atau pun kisah-kisah tentang teolog Kristen seperti Paul Knitter dan Raimundo Panikkar, atau para sufi Islam.

Di sesi ini saya mengambil kisah tentang Akhir Zaman dari Matius 25:31-46, dimana Tuhan akan mengumpulkan semua bangsa di hadapan-Nya namun Ia memisahkan mana yang masuk surga dan mana yang masuk “ke tempat siksaan yang kekal.” Dan mereka yang masuk ke surga adalah orang-orang yang menolong saudaranya yang paling hina: yang kelaparan dan kehausan, yang sakit, yang ada dalam penjara, yang telanjang, yang menjadi seorang asing.

Di lain sisi, K.H. Amin Fuad berkisah tentang seorang sufi bernama Ibrohim bin Adam dari Uzbekistan. Sebelum menjadi sufi, Ibrohim bin Adam adalah seorang raja yang masyhur nan cendekia. Hampir setiap malam ia pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Suatu malam, ketika ia sedang membaca, tiba-tiba ada terdengar suara orang berlari di atas genting perpustakaannya. Ia langsung teriak, “Hei, siapa itu? Ngapain kamu di atas?”

“Cari kucing!” jawab orang itu.

Ibrohim menjawab, “Dasar orang gila! Cari kucing kok di atas genting!”

Orang asing itu menjawab lagi, “Kamu yang gila! Cari Tuhan kok di atas ketenangan dan kekayaan, sedangkan banyak rakyatmu di luar sana yang miskin. Untuk makan saja susah!”

Mendengar perkataan itu, Ibrohim seperti ditegur keras oleh Tuhan. Ia sadar. Lalu i a meninggalkan kemuliaan dan kekayaannya untuk bergaul dan menolong rakyat miskin, dan memutuskan untuk menjadi seorang sufi.

Dan ketika kisah-kisah ini diceritakan, ternyata kami menemukan kesamaan spiritualitas satu sama lain.

Lalu apakah yang terjadi setelah Live-In? Apakah yang Kristen menjadi Islam dan yang Islam menjadi Kristen?

Ketika mereka mengenal perbedaan-perbedaan itu, mereka menjadi tahu dan bisa saling menghargai. Mereka semua masuk sejenak untuk melihat “yang lain”, namun kemudian keluar dengan perspektif dan insight yang lebih dalam tentang agamanya masing-masing.

Dengan bertemu sesamanya yang berbeda, mereka dibawa kepada ketegangan-kreatif berpikir seperti: “Kenapa ya Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda? Kenapa tidak sama saja sih? Jika memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda, mau aku apakan perbedaan ini?”

Seorang santri bernama Yuyun memberikan kesaksian,“Saya pernah salah paham tentang ajaran kristiani, tentang siapakah Tuhan mereka, siapa itu Isa Almasih, siapa itu Maryam, mengapa Isa bisa menjadi Tuhan. Namun, segala bentuk kesalahpahaman itu tertepis pada sesi dialog tentang kekristenan dengan pendeta Kukuh.”

Seorang remaja gereja bernama Jonathan juga memberikan sebuah refleksi,“Waktu sebelum ke pesantren perasaan saya rada deg-degan karena kan lagi panas panasnya tuh kayak demo tentang bawa bawa agama. Waktu pas dateng kesana, perasaan curiga itu semua hilang sudah karena para santri menyambut kami dengan sangat baik. Pada hari pertama, aku kira bak mandinya ada 1 buat tiap kamar mandi, eh ternyata 1 bak itu buat seluruh kamar mandi. Hidup mereka sederhana. Namun, dalam kesederhanaannya, mereka dapat menikmatinya dengan sukacita serta bersyukur dan dapat menunjukan bahwa perbedaan agama itu tidak seperti yang ditayangkan di tv. Mereka juga dapat seneng bareng, dapat menunjukan toleransi mereka dengan luar biasa. Dan satu pesan saya, jangan curiga sebelum mencoba.”

Ketika bertemu dengan pemeluk agama yang berbeda, terjadi proses pembelajaran untuk memahami bahwa agama adalah bahasa cinta. Setiap agama punya klaim eksklusifnya masing-masing, dan itu tidak perlu dibenturkan atau disalahkan. Itulah bahasa cinta mereka kepada Tuhannya.

Ah, seandainya setiap pemeluk agama memahami bahasa cinta ini...

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE