Recharge (Part 1): Pejuang yang Kehabisan Daya

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 25 September 2018
“Kadang kita terlalu sibuk berkutat pada apa yang terjadi di dalam, sementara lupa bahwa bergerak keluar bisa jadi jawabannya. “

Masih lekat dalam ingatan pemuda GKI Kavling Polri masa-masa ketika mereka menghabiskan waktu sebagai remaja di gereja. Rapat dari sore hingga malam beberapa hari dalam seminggu; rasa akrab yang tercipta dari persiapan berbagai acara yang menyita waktu; makan, tidur, kecewa, tertawa, menangis bersama sebagai pengurus—gereja otomatis menjadi rumah kedua, tempat berkeluh dan bercerita, tempat bertumbuh bersama sejak zaman sekolah minggu.

Namun, berhenti sampai di situ, seluruh momen-momen penuh cerita itu kini seakan hilang. Entah sejak kapan, namun yang pasti, bangku-bangku gereja saat kebaktian tak lagi penuh terisi, program demi program menghilang satu-satu karena sepi peminat, para pengurus kehilangan penerus. Rumah yang tadinya meriah kini sunyi. Layaknya sebuah keluarga yang kehilangan anak-anaknya entah karena sibuk sekolah, mengejar karir, berkeluarga, menghabiskan waktu di luar—gereja pun kehilangan kaum mudanya.

Begitu mengusiknya kenyataan ini hingga akhirnya membuat panitia mengusung “RECHARGE: It’s Time to Rise Again” sebagai tema The Journey—sebuah program rutin perjalanan rohani yang diadakan dua tahun sekali oleh pemuda GKI Kavling Polri, Jakarta. Perjalanan rohani keempat ini diadakan pada tanggal 08-11 September 2018, bertempat di Cianjur, dan banyak bekerja sama dengan GKI Cianjur serta GKI Pos Ciranjang.



Tim Dokumentasi Acara


Pelayanan sebagai nafas

Rangkaian acara diawali dengan ice breaking bersama pemuda GKI Cianjur, dilanjutkan dengan sesi sharing oleh Pdt. Hendra Setia Prasaja. Sesi dibuka dengan sebuah pertanyaan yang sanggup membuat kami terdiam sejenak, ”Apa yang akan kamu lakukan seandainya seorang wanita berkerudung dan bercadar serba hitam datang ke gerejamu?”

Takut dan curiga sudah tentu ada dipikiran kami. Siapa yang berani menerimanya di gereja? Pdt. Hendra lalu melanjutkan dengan sebuah fakta menarik, bahwa ia baru saja menerima wanita tersebut masuk ke dalam gereja beberapa hari lalu. Sebuah gestur penting bagi gereja untuk membuka diri terhadap dunia luar dan tentunya, melakukan pelayanan keluar.


“The church can live without buildings, without diakonea the church dies" - J. C. Sikkel


Pdt. Hendra bercerita bahwa GKI Cianjur memulai pelayanan keluar justru saat kondisi keuangan gereja sedang dalam keadaan defisit. Berbagai pelayanan mulai dari pelayanan karitatif, reformatif, sampai transformatif diupayakan, seperti program cicilan becak bagi para penariknya, S3 (Sangu Setiap Sabtu) yang membagikan makanan bagi para tuna wisma dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), ambulance gratis bagi penduduk sekitar, pembangunan rumah belajar, dan masih banyak lagi.

Beliau menjelaskan bahwa tidak semua program berjalan lancar, pun isu kristenisasi kerap menjadi tantangan. Namun, jika diam dan bergerak sama-sama akan dianggap melakukan kristenisasi, maka gereja memilih bergerak. Pelayanan keluar juga tak lantas membuat kondisi keuangan GKI Cianjur membaik—gereja ini masih bertahan dengan ruangan sederhana tanpa AC dan kondisi keuangan yang defisit, pertumbuhan jumlah jemaat pun tak melejit; mereka tetap kekurangan namun, tak khawatir dan dapat bersukacita. Sebuah pernyataan yang membukakan bahwa pelayanan tak serta merta membuahkan hasil yang kerap kita harapkan, namun pastinya dapat mengubah sikap hati dan menggemburkan iman.


Rumah bagi berbagai kalangan

Gereja yang merangkul berbagai kalangan mungkin adalah gambaran yang tepat untuk GKI Cianjur. Gereja yang dapat begitu dicintai di tengah lingkungan non-Kristen yang cukup radikal ini membuat kami salut. Program-programnya kebanyakan berjalan dengan melibatkan banyak pihak non-Kristen yang mau membantu secara sukarela. Sebuah potret kehidupan berdampingan yang menyejukkan hati. Mengutip kalimat Pdt. Hendra, “Ini sudah bukan zamannya superhero bertarung sendiri lagi, ini zamannya Avengers”. Untuk berhasil, kita membutuhkan orang lain.



Tim Dokumentasi Acara


Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama dan turun ke jalanan untuk merasakan langsung salah satu program lintas agama yang dimiliki GKI Cianjur, yaitu S3 (Sangu Setiap Sabtu). Kami didampingi para relawan, membagikan nasi bungkus dan bingkisan kecil berisikan selimut, handuk, dan peralatan mandi kepada para tuna wisma dan ODGJ.



Tim Dokumentasi Acara


Sebuah pengalaman unik, karena kami tidak hanya memberikan barang, namun diberi kesempatan untuk duduk bersama dan berbagi cerita dengan mereka. Bersentuhan dan bersinggungan langsung dengan para tuna wisma membuat saya sadar bahwa, beberapa memang tidur di jalan karena tak punya pilihan, sementara yang lain memilih keluar dari rumah karena tak ingin terluka. Seorang nenek berusia 70 tahun yang saya jumpai misalnya, saat ditanya apakah tidak apa-apa jika kami tidak membawa sangu, dengan mantap ia menjawab tidak keberatan. “Yang penting ada yang nemenin”, katanya. Sebuah pernyataan yang ketika digali lebih dalam, muncul karena ia merasa dibuang oleh keluarganya.



Tim Dokumentasi Acara


Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Pdt. Hendra sebelum kami mengikuti S3 ini, bahwa sangu yang kami bawa hanyalah sebagai pintu masuk, jalan bagi kami untuk mengisi kebutuhan mereka yang lebih pelik dari sekadar mengisi perut—kebutuhan untuk didengar, diperhatikan, dan tidak dilupakan.



Tim Dokumentasi Acara


Baca Part 02:

Recharge (Part 2): Bukan Superhero

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE