Yuk Belajar Jadi Pemuda Indonesia

All About GKI, LIVE THROUGH THIS, 15 Juli 2018
What inside, came outside.

Persis seperti frasa tersebut, apa yang ada di dalam dirimu, akan keluar, memancar, terlihat. Mengikuti acara GARUDA yang diadakan oleh Institut Leimena merupakan sesuatu yang bagiku berdampak sangat besar, “life changing”. Banyak hal yang ingin aku bagikan pada orang-orang di sekitarku. Seperti tagline-nya, “School of Public Leadership”, kami yang dominan adalah mahasiswa, dibentuk untuk memiliki pola pikir seorang pemimpin publik. Tetapi, sebelum jauh sampai kesana, kami diajak untuk berefleksi, berdasarkan kegiatanku sekarang, tingkah laku, kebiasaanku, mau jadi pemimpin seperti apa aku kedepannya? Tidak bisa berkata tidak ingin jadi seorang pemimpin, karena setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Setidaknya, akan jadi seperti apa aku di masa depan berdasarkan aku di masa kini?

Umumnya kita tahu bahwa Indonesia majemuk, struktur geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan, campuran ras Melanisia dan Austronesia, “Maka Indonesia adalah sebuah melting pot bagi berbagai peradaban di sekitarnya” sahut Pak Budi Setiamarga yang adalah direktur Center for Policy Analysis (cepa) Institut Leimena. Berdasarkan situasi tersebut, maka spirit Soekarno menyatukan ke-pluralitas-an Indonesia bukanlah situasi yang akan terjadi (contohnya di era globalisasi masa kini) melainkan sebuah situasi yang sedang terjadi pada masa itu. Begitu juga dengan slogan “Bhinneka Tunggal Ika” bukanlah sebuah nubuat yang lahir pada zaman itu dan ditujukan untuk masa globalisasi ini, melainkan jawaban dari situasi yang terjadi pada masa itu.

Indonesia sebagai bangsa lahir ketika tahun 1908, Boedi Oetomo, komunitas para pemuda STOVIA yang bercita-cita mengadakan penyetaraan dengan zaman. Dilanjutkan oleh tiga serangkai (1912) yang pada tahun 1923 membuat “Perhimpunan Indonesia” di Belanda. Gagasan mengenai Indonesia lahir dari para pemuda. Perjalanan terus berlangsung sampai akhirnya Indonesia merdeka.



Photo by Irene Eunike


Sebelumnya aku gak se-jleb ini mengetahui proses perjuangan Indonesia mendapatkan kemerdekaan di dominasi oleh pejuang-pejuang muda, tapi kali ini berbeda. Aku disadarkan, sebagai pemuda Indonesia masa kini, apa yang bisa kulakukan untuk mengisi kemerdekaan yang mereka perjuangkan waktu itu? Kemana aku harus memimpin hidupku?

Semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Meneladani para pejuang kemerdekaan, satu hal yang mereka miliki, integritas. Saat ini Indonesia berada di situasi krisis integritas. Yang sering terjadi adalah mereka yang menjadi bunglon, setiap wajah diubah demi menyelamatkan diri. Dalam salah satu sesi, kami diinstruksikan untuk memilih salah satu pemimpin di Indonesia yang tidak berintegritas. Tak sampai 5 menit, semua jawaban sudah terkumpul. Kontras saat kami diinstruksikan untuk melakukan yang sebaliknya, menyebutkan salah satu pemimpin di Indonesia yang berintegritas. Keadaan ini bisa menjadi salah satu penyebab pemerintah sulit memberantas korupsi di Indonesia. Korupsi adalah salah satu bahaya laten yang tidak bisa dimusnahkan oleh sebagian institusi saja, tapi harus dengan kesadaran dan kepedulian seluruh lapisan masyarakat, salah satunya pemuda. Belajar berintegritas berarti belajar memimpin diri sendiri ke arah yang lebih baik. Secara keras, Alwi Shihab berkata “Sekali anda tergelincir, maka hal tersebut akan menjadi stigma. Sehingga akan menjadi batu sandungan bagi anda sendiri. Jadi jagalah integritas!”.



Photo by Irene Eunike


Selain berintegritas, Pemuda Indonesia juga harus melakukan sesuatu, kita harus berdampak demi Indonesia. Masa depan bangsa ada di tangan kita. Klise, tapi benar. Pada tahun 2030, usia muda akan mendominasi jumlah penduduk di Indonesia. “Setiap anak muda harus mengikuti jejak para tokoh pendiri bangsa untuk mempertahankan Pancasila” ujar Alwi Shihab. Diriku sendiri sebelumnya tidak pernah memiliki cita-cita bagi bangsa. Harapan mengenai Indonesia yang lebih baik hanyalah angan-angan, apalagi Indonesia yang anti-korupsi. Sudah banyak anak muda yang mengharumkan nama bangsa, ya ini lah ya itulah. Sedangkan aku hanyalah mahasiswa tingkat dua yang tidak pernah serius mendambakan Indonesia yang lebih baik.

atu hal yang kupelajari, pejuang muda dulu, tidak berjuang sendirian. Mereka memiliki komunitas kebangsaan, mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu Indonesia yang lebih baik melalui kemerdekaan. Persis seperti yang Paulus katakan dalam Roma 12:4&6, tangan tidak dapat melakukan semuanya sendirian tanpa mata. Kita adalah satu tubuh yang dikehendaki untuk bekerja bersama sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Tuhan. Setiap kita diberi tugas untuk dapat melakukan kebaikan pada pemerintah (Rom 13:2-4), dan tunduk pada aturan pemerintah (Rom 13:6).



Photo by Irene Eunike


Pelayanan tidak melulu di gereja. Kita dapat melayani Tuhan dengan karunia yang sudah di berikan-Nya dalam bidang lain. Sebagai pemuda Kristen, pelayanan apa yang dapat kita berikan pada negara? Apa yang bisa kita berikan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap talenta yang sudah Tuhan berikan pada kita, pemuda Indonesia? Karenanya, demi Indonesia yang lebih baik, mari kita memberi dampak positif pada bangsa walau. Jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi pemuda Indonesia yang berintegritas dan berdampak.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE