3 Respon Terbaik di Kala Tekanan Melanda

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 4 September 2017
Biarlah iman seperti itu yang membuat kita dapat menerima, menikmati, dan terus melangkah ke depan

Aku bukan pengamat politik, jarang mendengar atau membaca berita. Namun sejak 5 tahun terakhir ini, siapa yang tidak tahu sosok mantan gubernur Jakarta yang begitu viral dan disapa dengan panggilan “Pak Ahok”? Aku rasa bukan hanya warga ibu kota, namun seluruh warga Negara Indonesia, bahkan beberapa warga Negara Asing pun mungkin mengetahui kisahnya (jika tidak mengenal pribadinya secara langsung).

Sekali lagi, aku hanyalah seorang awam politik yang tidak ingin mengomentari apa-apa mengenai kasus yang diperdebatkan oleh pihak A ataupun pihak B. Pun saat ini sudah tidak ada yang dapat diperdebatkan lagi. Dan mungkin tulisan ini dapat dikatakan sudah terlampau kadaluarsa jika ingin mengupas tentang kisah beliau.

Namun faktanya, setiap kali mengingat sosok beliau, yang saat ini masih mendekam dalam penjara, aku tak habis pikir bagaimana mungkin ia begitu kuat dan teguh menghadapi segala tekanan?


Photo credit: republika.co.id

Entahlah apakah pertanyaan ini dapat disejajarkan dengan pertanyaan seperti:

Bagaimana mungkin seorang gadis berusia 8 tahun tetap dapat tersenyum dengan kondisi mata yang tidak dapat melihat?

Bagaimana mungkin seorang ibu muda dapat membesarkan anaknya seorang diri dengan tetap ceria, sekalipun ditinggal oleh suami yang tidak bertanggung jawab?

Bagaimana mungkin seorang pemuda dapat memberikan motivasi positif kepada orang banyak, sedangkan ia tidak memiliki tangan dan kaki?

Kita bisa mendaftarkan pertanyaan "Bagaimana mungkin..." lainnya yang secara logika kita akan berpikir tidak mungkin ia/mereka dapat bertahan melewati situasi dan kondisi yang begitu tampak menekan.

Sayangnya, aku jarang mempertanyakan pertanyaan itu pada diriku ketika aku yang sedang berada dalam situasi terhimpit.


Photo by 胡 卓亨 on Unsplash

Biasanya, respon pertamaku adalah "Mengapa ini harus terjadi?"

Sebagai contoh, "Mengapa aku dilahirkan sebagai anak yatim piatu?"
"Mengapa papa harus mengalami kecelakaan?"
"Mengapa mama begitu menjengkelkan?"
"Mengapa papa mama harus bercerai?"
"Mengapa sahabatku begitu mengecewakanku?"
dan seterusnya...

Pertanyaan wajar yang mungkin kita tanyakan akibat sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, dengan respon seolah ingin mencari sesuatu untuk disalahkan, namun yang terjadi justru semakin stress dan depresi, karena itu semua harus terjadi.

Lalu, sebenarnya apa respon terbaik yang bisa kita berikan di kala tekanan atau masalah melanda?


Photo by maxime caron on Unsplash

1. Menerima

Sejak kecil kita ditanamkan untuk berupaya sedapat mungkin mengikuti aturan dan norma yang berlaku dan meminimalisir kesalahan dalam setiap tingkah laku kita. Dan karena kita diciptakan sebagai makhluk berakal budi, maka wajar sekali jika kita menginginkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan apa yang kita rancangkan. Ini mungkin yang menjadi alasan kita untuk sulit menerima kegagalan atau tekanan hidup yang ada di luar perkiraan kita.

Namun, sadarkah bahwa semakin kita menolak keadaan, semakin kita tenggelam dalam perasaan kalut dan amarah - justru semakin membuat kita semakin stres dan tidak dapat berpikir jernih.

Hal ini bukan berarti menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Dengan akal budi dan hikmat yang Tuhan anugerahkan, kita pasti tahu keadaan seperti apa yg bisa diubah dan keadaan seperti apa yang tidak bisa diubah.

Menerima keadaan yang tidak dapat diubah adalah proses awal untuk kita dapat menikmati pembentukan Tuhan.

2. Menikmati

Justru ketika kita bertanya 'MENGAPA' yang dilandasi amarah terhadap orang lain atau situasi yang terjadi, bukankah kita juga sedang menyampaikan bahwa kita marah terhadap Tuhan yang mengijinkan hal itu terjadi? Bahkan, mungkin di balik kemarahan itu, kita sudah menjadi pribadi yang sombong dengan mengatakan bahwa kita tahu yang terbaik untuk diri kita sendiri.

Akan berbeda jika kita menerima kenyataan akan adanya TUHAN, pribadi yang berkuasa dan berdaulat atas segala yang kita alami. Ia tentu tahu yang terbaik untuk kita.

Biarlah iman bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya, yang mendasari kita dalam menikmati segala proses tekanan hidup yang ada.


Photo by Edwin Andrade on Unsplash

3. Melangkah ke depan

Hingga satu titik kita tidak menemukan jawaban di balik kata tanya "Mengapa", saat itulah kita hanya dapat beralih pada pertanyaan "Bagaimana".

Daripada terus melihat ke belakang dan stuck, lebih baik bagi kita untuk menentukan langkah ke depan.

"Bagaimana aku menghadapi situasi yang menekan ini?"
"Bagaimana aku harus menyikapi papa, mama, atau sahabatku?"
"Bagaimana aku bisa menjalani hari-hari dan peranku dengan baik?"
dan seterusnya...

Bukankah langkah kaki orang yang dikasihiNya dilindungiNya? (1 Sam. 2:9a) Dan tangan Allah Yang Maha Tahu menuntun dan memegang tangan kita? (Mzm. 139:10)

Bukankah Allah berulang kali mengatakan "Kuat dan teguhkanlah hatimu" kepada Yosua untuk menghadapi rasa takut dan gentarnya ketika harus memimpin bangsa Israel?

Dan bukankah Allah berkata kepada Paulus "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna"? (2 Korintus 12:9

Satu lagi kekagumanku terhadap Pak Ahok ada dalam sebuah lirik lagu berjudul "TUHAN TIDAK TIDUR" yang ia tuliskan dalam penjara:

Apapun juga kenyataan yang mestiku terima
Walau sukar ku kan menjalaninya
Kar'na Tuhan yang punya kuasa
di atas jalan manusia

Dan imanku berkata, "Tuhan tidak tidur"
Kau yang menjaga hidupku sempurna
Selama ku setia, Engkaulah Tuhan yang
menyelesaikannya bagiku,
yang berharap padaMu

Biarlah iman seperti itu yang membuat kita dapat menerima, menikmati, dan terus melangkah ke depan.


Photo by Edwin Andrade on Unsplash

Tahukah kamu bahwa isi pensil dan berlian terbentuk dari bahan yang sama, yaitu Carbon? Yang satu begitu rapuh dan buruk rupa, namun yang satu begitu kuat dan indah. Berlian dibentuk melalui proses tekanan yang sangat tinggi (dengan temperatur yang sangat panas), membuat atom-atom Carbon dapat saling mengikat hingga mengkristal.

Maukah kita diproses sedemikian rupa hingga mengkristal dan menjadi indah di mata Pencipta kita?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE