5 Alasan Kenapa Ucapan “Selamat Natal” Kamu Berkurang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 10 Januari 2019
Oke, jadi ceritanya kita sudah balik ke rutinitas semula dan dipaksa move on dari liburan akhir tahun. Lalu kamu mulai me-review semua hal yang telah terjadi Natal kemarin. Kemudian kamu mulai emosi karena rasa-rasanya…kok makin sedikit saja yang mengucapkan “Selamat Natal” tahun ini???

Pagi-pagi di hari Natal, ketika mata masih sepet tapi otak sudah berputar mencari baju buat ke gereja, ibu saya cemberut di meja makan. Ia mengeluh soal sebuah grup WA berisi teman-teman sekolahnya dahulu. Mayoritas penghuni grup itu memang tidak merayakan Natal. “Tapi tahun-tahun lalu, masih banyak teman yang mengucapkan Selamat Natal ke Mami. Tahun ini nggak ada! Teman-teman Mami sekarang udah pada radikal nih!”

Keluhan ini akrab nggak di telinga kamu Natal lalu? Sebelum pikiran kita makin ngeres mungkin ada baiknya kita pertimbangkan dulu berbagai kemungkinan ini, yang SANGAT MUNGKIN terjadi.

Alasan #1: LUPA
Sebagai mimin yang bertanggung jawab atas aktivasi beberapa akun Instagram milik klien, fenomena petir di siang bolong itu nyata adanya; yaitu ketika mimin sedang menikmati hari libur, tahu-tahu klien kontak: Kita sudah bikin postingan greetings untuk hari ini belum ya? JDER!! JDOR!! DHUARR!!




Kemudian yang nggak kalah penting dan wajib kamu camkan baik-baik: Terjadi bencana alam berskala nasional loh. Menurut saya sih, wajar banget kalau kepedulian dan atensi teman-temanmu tersedot ke sana.

Alasan #2: KAMU NGGAK PEKA
Kamu mungkin masih terbayang masa ketika mengucapkan “Selamat Hari Raya” itu melibatkan sejumlah langkah berikut:
- Beli kartu ucapan
- Menuliskan kartu ucapan
- Pergi ke kantor pos atau menyerahkan kartu secara langsung pada yang berkaitan (kalau ada sedikit rasa sama si penerima surat, kamu akan berusaha “me-melet” yang bersangkutan dengan cara menggunakan bolpoin wangi yang konon mengandung narkoba, atau menyemprotkan parfum milikmu ke permukaan kartu).
Darimana saya tahu tradisi purba ini? Eits, sori ya, bukan karena saya TUA yang jelas.




Long story short, dunia kita sudah sangat berbeda. Ucapan “Selamat Hari Raya” sekarang lebih banyak beredar di feeds Instagram atau wall Facebook ketimbang kantor pos. Jangankan sekadar mengucap selamat hari raya, berdoa minta jodoh saja suka dilakukan di media sosial, kok!




Jadi mungkin saja kawanmu sudah menunaikan kewajibannya di media sosial. Kamu aja yang nggak peka, ih.

Alasan #3: DIA NGGAK PEKA
Mohon maaf sekadar mengingatkan, Natal tahun ini jatuh menjadi long weekend empat hari yang terlalu lezat untuk tidak diacuhkan – apapun agamamu. Mungkin temanmu itu sedang berenang di Maldives atau kencan di Paris. Dilarang julid, kalau kata Om Ruben Onsu, #RejekiNggakKetuker.




Alasan #4: DIA BINGUNG
“Natal, Selamat!” Tetangga dari teman gereja saya menyapanya di pagi hari. Ia terheran-heran.
“Maksudnya…Selamat Natal?”
Pssst! Saya kan nggak boleh bilang ‘Selamat Natal’!




Alasan #5: BARU KETEMU BELAKANGAN
Menurut riset, penggunaan media sosial sebenarnya menurun di hari-hari libur. Tentu orang lebih memilih asyik dengan rencana liburnya sendiri daripada melototin layar. Seorang teman gereja saya adalah warga Kristen satu-satunya di sepanjang jalan kenangan rumahnya. Sudah biasa lah kalau Hari Natal suasana anyep. Tapi tahu-tahu, tak lama setelah Natal, ia berpapasan dengan salah seorang tetangga yang cukup berumur. Tak diduga sama sekali, ia menghampiri dan menjabat tangan teman saya sekeluarga. “Selamat Natal. Semoga kita terus hidup damai dan rukun-rukun, ya!”




***

Oke, cukup sudah berspekulasi. Tepat tanggal 26, saya kembali ke kantor, sebuah digital agency di mana saya satu-satunya orang Kristen yang bekerja di sana. Kedatangan saya, yang membawa satu toples kue kering sisaan Natal, disambut gegap gempita.

Hey, ngapain aja kemarin? Pergi sama keluarga? Ada tradisi Natalan apa?

Kami pun berkumpul di ruangan, mereka mendengarkan cerita Natalan saya dan drama-drama yang terjadi di sekitarnya, sambil makan kue bersama. Bercanda, bergosip, sampai pulang (halo, siapa juga yang bisa “kerja” pada tanggal 26-30 Desember?).




Rasanya… tidak ada ucapan “Selamat Natal” hari itu – tapi kok saya nggak merasa kehilangan apa-apa ya?

PS. Perlu diingat juga, teman-teman Muslim di Indonesia itu nggak hitam-putih, spektrumnya sangat luas. Hanya karena ada yang tidak mengucapkan “Selamat Natal” ke kamu, bukan berarti dia teroris yang besok akan mengebom fasilitas umum. Hanya karena ia mengenakan hijab syar’i bukan berarti kamu bisa menebak dengan sok tahu, apa pandangan politiknya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE