5 Tanda Kamu Kecanduan Media Sosial

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Maret 2017

We live in an unprecedented time with both the wonders and dangers of modern technologies.

Myron Williams

Setuju! Sejauh yang saya perhatikan, perkembangan teknologi selalu menimbulkan dua hal: wonders and dangers. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya kemudian.

Lihat saja, betapa cepatnya perkembangan teknologi komunikasi, khususnya dalam bentuk aplikasi. Facebook, BBM, Instagram, WhatsApp, Line, Path, hingga snapchat, semuanya tersedia dengan beragam fungsi.

Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya punya cara yang berbeda dan benar dalam memandang maraknya gaya hidup media sosial belakangan. Kita punya cara tersendiri dalam menggunakannya. Bukan berarti karena mengandung bahaya maka kita harus menjauhkan diri sama sekali namun justru harus mampu memanfaatkan benefit-nya sebaik mungkin.

Perspektif pentingnya begini: media sosial adalah anugerah. Tuhan sendiri yang memimpin perkembangan teknologi yang makin memajukan peradaban manusia ini. Tuhan ingin manusia memiliki cara yang lebih mudah dalam berkomunikasi. Tuhan berikan medsos ini untuk kita. Jadi, gunakanlah dengan bijak demi kebutuhan kita.

Sayangnya seringkali bukan lagi media sosial untuk kita, tapi kita untuk media sosial. Ibarat ganja, dalam level tertentu tanpa kita sadari, kita sudah addicted.

Apa kamu juga termasuk yang ketagihan? Mari kita tes lewat lima indikasi di bawah ini.

1. Mata Tak Bisa Lepas dari Handphone

Saya yakin sebagian besar kita tidak pernah lupa atau terlewat membawa handphone. Ke sekolah, kampus, tempat kerja, persekutuan, rapat di gereja, kita pasti membawanya lalu segera meletakkannya di tempat yang mudah terjangkau oleh tangan kita. Bukan hanya itu, di sepanjang acara, kedua mata kita kerap curi-curi melirik ke layar gawai. Dengan penuh keingintahuan kita memastikan notifikasi yang muncul di bagian atas hanya untuk tetap update dengan kabar terbaru di dunia virtual.

2. Buka Banyak Medsos Berulang-ulang dalam Waktu Singkat

Sangat bisa dipahami kalau dalam sedikit waktu senggang kita membuka hampir semua media sosial yang kita miliki. Satu persatu kita cek, baik notifikasi maupun aktivitas teman-teman.

Kita scroll timeline Facebook dan Instagram dari atas sampai bawah lalu meninggalkan jejak di beberapa aktivitas yang menarik. Usai itu semua, giliran WhatsApp dan LINE untuk dijelajah. Begitu seterusnya sampai semua aplikasi media sosial selesai disapu bersih.

Tapi ada hal yang membedakan pengguna addicted dengan yang tidak. Para pengguna addicted kebanyakan akan melakukan scan seperti tadi lagi hanya dalam selang waktu beberapa menit. Sebenarnya mereka sudah tahu, aktivitas belum banyak berubah, tapi hati terus ingin melakukan pengecekan berulang.

Nah kira-kira apakah kita sudah terkontaminasi ciri ini?

3. Like Membabi-buta

Indikasi selanjutnya adalah soal "like" atau "love" pada Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Jika ditelisik, fitur demikian dibuat agar kita bisa mengapresiasi konten-konten menarik yang diunggah teman kita. Tapi pengguna addicted memakai fasilitas itu dengan membabibuta. Mereka biasanya masuk ke satu media sosial. Melihat aktivitas dan konten-konten terbaru kemudian klik "like" atau "love" pada semua postingan. Iya, semua.

Itu bisa dibenarkan kalau memang semua konten yang kamu lihat memang bagus. Tapi pada waktu kita melakukannya, mari kita renungkan alasan melakukannya, karena memang suka atau karena terbiasa saja?

Kalau kita sering melakukannya, mungkin pertanda bahwa kita telah terjangkit kecanduan tersebut.

4. Cek Komentar/Likes Berulang-ulang

Ini kerap dilakukan oleh kita pasca mengunggah sesuatu. Sebagai pengguna kita menunggu berapa banyak dan siapa saja yang akan like atau komentar di postingan terbaru kita. Nah, jika indikasi ini kita lakukan, sepertinya kita sudah terdistraksi terhadap fungsi medsos itu sendiri. Seakan respon pengguna lain akan sanggup menentukan kualitas dirimu. Self-centered sekali, bukan?

5. Buka, Klik "Update," Baru Mikir Mau Tulis Apa

Pernahkah kamu membuka satu aplikasi media sosial, lalu segera menuju ke timeline dan hendak update sesuatu. Alih-alih sudah memiliki konten tertentu di dalam kepala, kita justru menghabiskan waktu dengan berpikir apa yang hendak disampaikan.

Ingin hati update status, apa daya ide tak sampai. Kira-kira begitu bunyinya.

Youth, ini pun adalah satu indikasi apakah kita sedang kecanduan atau tidak.

Media Sosial Adalah Media

Kata penting dari media sosial adalah media. Harusnya mereka membantu kita mengerjakan hal tertentu, entah itu berkomunikasi, berbagi sesuatu, membentuk komunitas, berjual-beli, atau hal berguna lain. Jangan sampai kita yang harus memanfaatkannya demi sebuah tujuan, justru dimanfaatkan olehnya.

Penulis Amsal mengatakan, "Janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu." (Ams. 3:21)

Hal ini harus juga menjadi peringatan bagi kita kala berhadapan dengan gadget berakses internet.

Youth, mari kita tetap gunakan pertimbangan dan kebijaksanaan. Bukan berarti kita harus menjauhi media sosial. Justru mari bersama menjadi pengguna yang cerdas dan menjadi berkat. Enjoy wonders, avoid dangers. Happy scrolling.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE