800 km Berjalan Kaki: Ziarah Pribadi Penuh Kontemplasi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 26 Juli 2017
Ziarah: salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri.

Kaki saya pegal linu, khususnya pada hari-hari pertama berjalan. Betapa tidak? Hari pertama saya musti mendaki pegunungan Pirenia (Pyrennes) yang terjal dan berangin kencang, tetapi sekaligus memesona. Lalu, setiap hari berjalan kaki rata-rata 25 km menyusuri bukit dan lembah, sawah dan hutan, kota dan desa Spanyol. Ada hari ketika angin dingin menusuk hingga ke tulang, atau hari ketika matahari membuat ubun-ubun kepalaku snut-snut. Hujan atau panas, saya mesti terus berjalan.

Itulah perjalanan ziarah yang saya tempuh pada bulan Mei-Juni 2017 yang lalu. Perjalanan ziarah yang saya jalani sebagai quality time, alone with God. Dan... sungguh, itulah yang saya rasakan, sepanjang perjalanan, Tuhan terus menemani dan mengajarkan banyak hal kepada saya, di mana pertolongan-Nya sungguh saya rasakan.

Mengenal Camino de Santiago de Compostela

Di dalam Alkitab dikisahkan bahwa Yakobus (murid Tuhan Yesus yang bersaudara dengan Yohanes, anak Zebedeus) mati dibunuh oleh Herodes Agripa 1. Hal ini menjadikan Yakobus sebagai murid Tuhan Yesus, dari 12 rasul, yang menjadi martir pertama. Lalu, di mana dia dimakamkan? Tradisi mengatakan bahwa jenazahnya dibawa oleh murid-muridnya ke Spanyol bagian Barat Laut. Selama ratusan tahun, makamnya tak terawat. Tetapi, pada abad pertengahan, sisa-sisa jenazah itu dipindahkan dan dimakamkan di tempat yang lebih layak, di mana di atasnya sebuah katedral didirikan. Daerah itu kemudian dikenal dengan sebutan Santiago de Compostela. ‘Santiago’ adalah sebutan bahasa Spanyol untuk nama ‘Yakobus’.


Gerbang depan (kiri) dan bagian belakang (kanan) Katedral Santiago de Compostela

Pada abad pertengahan, orang-orang Eropa mulai melakukan ziarah ke makam itu dari rumah masingmasing. Ziarah itu ditempuh dari berbagai tempat di Eropa, dengan berjalan kaki. Biara dan gereja menjadi tempat persinggahan di sepanjang jalan. Tradisi ziarah ini memiliki akarnya pada tradisi Romawi yang melakukan ziarah ke Finisterra, ujung benua Eropa yang menghadap laut Atlantik. Finisterre (finis = ujung, akhir; terrae = bumi) dianggap sebagai akhir dari dunia, berada sekitar 87 km dari kota Santiago.


Lorong menuju makam Rasul Yakobus (kiri) dan makam Rasul Yakobus (kanan)

Para Peziarah yang Terus Berjalan

Saat ini, setiap tahun, ratusan ribu orang menjalani Camino de Santiago. Rute yang paling populer adalah French Way, yang membentang 800 km sampai Kota Santiago. (Sedikit untuk gambaran: Google Maps menunjukkan bahwa jarak dari alun-alun Surabaya ke Monas di Jakarta adalah 773 km). Rute ini dimulai dari desa kecil bernama St. Jean Pied de Port di Prancis, perbatasan dengan Spanyol. Suasana desa ini tenang, hawanya sejuk, dengan sungai kecil yang mengalir indah. Di kota ini, terdapat sebuah kantor untuk para peziarah dapat mendaftarkan diri dan mendapatkan credential semacam pasport, untuk perjalanan. Pasport itu gunanya untuk mengumpulkan stempel dari desa ke desa sepanjang perjalanan. Di Kota Santiago, credential itu akan diperiksa di kantor peziarah, dan jika terbukti memang peziarah betul-betul berjalan kaki dari desa ke desa, maka peziarah akan mendapatkan sebuah sertifikat yang disebut Compostela.


Desa St. Jean Pied de Port dengan jembatannya sebagai jalur awal French Way


Dokumentasi yang diambil setelah perjalanan ratusan kilometer dari St. Jean Pied de Port


Credential berisi stempel dari perjalanan

Di sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan begitu banyak peziarah dari berbagai negara: Jerman, Italia, Belanda, Amerika, Inggris, Swiss, Korea, dan tentunya Spanyol. Sebagian besar peziarah memulai peziarahannya dari desa yang sama dengan saya, St. Jean Pied de Port, tetapi ada juga yang memulai jalan kaki dari rumah atau negara mereka masing-masing yang artinya membuat jarak tempuh mereka sampai ribuan kilometer!

Ada berbagai motivasi mereka untuk melakukan perjalanan ini, dari yang motivasi spiritual: mendekatkan diri pada Tuhan, mencari rencana Tuhan, menenangkan diri, menebus dosa; sampai motivasi wisata: berpetualang di alam; bahkan motivasi relasioal: mencari pasangan! Semua motivasi itu sepertinya terlaksana. Mau coba?


Perjalanan bersama peziarah lainnya

Setiap hari, peziarah menentukan sendiri berapa jauh jarak yang akan ditempuh. Rata-rata berkisar antara 20-30 km/hari. Jadi, perjalanan in sekitar 1 bulan lamanya. Ada desa atau kota yang dapat peziarah singgahi untuk istirahat dan makan. Ada berbagai penginapan – disebut albergue, yang tersedia dengan tarif yang murah. Biasanya yang disediakan oleh gereja, biara, atau Pemda setempat. Kondisi setiap peziarah berbeda-beda, maka jarak, kecepatan, dan waktu untuk berjalan jika tidak sama. Walau demikian setiap hari jam 08.00 pagi, semua peziarah sudah musti pergi meninggalkan albergue. Jika belum? Akan diusir... walau dengan halus! Malam hari, biasanya jam 22.00, albergue akan ditutup, semua peziarah sudah mesti berada di ranjang masing-masing.

Hidup Ini adalah Ziarah

Dalam perjalanan tersebut, Tuhan menunjukkan kehadiran-Nya yang luar biasa. Dia melenyapkan setiap kekuatiran dan ketakutan saya sepanjang jalan. Di saat saya sedang merasa lelah dan rasanya tak sanggup lagi berjalan, Tuhan mengirimkan teman untuk menemami saya sampai saya dapat sampai di desa tujuan. Tuhan selalu memberikan pengalaman yang berkesan: albergue yang selalu nyaman, spaghetti gratis saat sedang kelaparan, domba-domba lucu yang melintas di tengah jalan, hujan deras yang mesti saya terjang, bahkan teman-teman yang baik sehingga perjalanan menjadi menyenangkan. Hutan yang teduh, lembah yang curam, bukit yang terjal, ladang gandum, dan anggur yang membentang, langit yang begitu luas, semuanya menjadi saksi keindahan alam ciptaan Tuhan!

Saat saya pulang, ziarah saya tak berhenti.

Bukankah kita semua juga adalah peziarah? Kita berziarah, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tetapi, tempat bukanlah tujuan! Ketika Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya: “Ikutlah Aku!”, bukanlah tempat yang menjadi tujuan, apakah itu Yerusalem, Kapernaum, Galilea, Nazaret. Panggilan mengikut Tuhan adalah panggilan ziarah dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang semakin dekat dengan-Nya, mendengar-Nya, belajar dari-Nya. Kehidupan yang terus bergerak dari satu karakter ke karakter yang lain, dari proses bergesekkan, mengampuni, hingga berdamai. Kehidupan yang semakin memperlihatkan maksud Tuhan menciptakan kita. Bergerak, berjalan, setiap hari, bersama Tuhan!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE