Akhir Dari Sebuah Kehilangan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
Tuhan pun keluar dari zona nyaman-Nya dengan turun ke dalam dunia menjadi sama dengan kita.

Saya sempat menjadi seorang pengajar di salah satu Taman Penitipan Anak (TPA) swasta di Surabaya. Ketika itu saya sedang bermain dengan salah seorang gadis berusia tiga tahun yang sedang bermain boneka. Saat boneka-boneka itu sedang disusun di hadapannya, saya mengambil salah satu boneka dan meletakkannya di belakang gadis itu. Hal yang cukup membuat saya terkejut adalah gadis itu langsung berteriak dan menangis. Menurut perkembangan anak pada usia tersebut, ketika suatu benda di hadapannya hilang dari pandangannya maka ia akan menganggap bahwa barang tersebut hilang. Namun reaksinya berbeda, sehingga tanpa berlama-lama, saya segera mengembalikan boneka tersebut ke hadapannya. Hasilnya si anak kembali bermain dan kembali ceria dengan permainannya.

Hebatnya dewasa ini, banyak dari kita (orang dewasa) tersulut emosi ketika hal yang biasa terlihat di hadapan kita dan melekat menghilang dari pandangan kita. Apakah kita pernah melihat kejadian semacam itu? Atau mengalaminya? Saya yakin banyak dari kita merasakan kehilangan hal yang sudah tidak ada di genggaman kita lagi. Tidak hanya barang, bisa saja kesempatan; impian; harapan; seseorang dan lain sebagainya. Ketika hal-hal tersebut hilang kita akan merasa kecewa, marah, serta sedih. Bagi saya itu merupakan sebuah respon yang lazim ditunjukan oleh seseorang yang kehilangan suatu hal yang mereka sukai.


Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash

Kehilangan menurut saya menjadi sebuah pengalaman yang membawa kita keluar dari zona nyaman, kita akan bergulat dengan hal-hal baru tanpa sesuatu yang biasanya melekat dengan kita. Tuhan pun keluar dari zona nyaman-Nya dengan turun ke dalam dunia menjadi sama dengan kita. Tuhan “kehilangan” sementara hal-hal yang biasa melekat pada diri-Nya. Apakah hal itu mengganggu tujuan hidup Tuhan? Apakah Tuhan mengeluh dan meninggalkan kita semua? Sayangnya Tuhan tetap tinggal, tetap bersama dengan kita dan menebarkan kasihNya. Baru-baru ini saya kehilangan sosok kawan dekat saya yang dengannya saya bergantung. Melakukan banyak hal, mengambil keputusan, dan bercerita satu sama lain menjadi kegiatan yang biasa dilakukan kami lakukan. Namun tanpa alasan jelas dia menghilang. Kehilangan sosoknya di sepanjang hari saya menjadi hal terberat bagi saya kala itu. Ketika saya sedang terbeban dengan penatnya mengerjakan tugas akhir, hal yang biasa saya lakukan adalah menelpon atau setidaknya berbicara dengannya untuk menumpahkan kekesalan saya. Namun sosok itu hilang dan tidak bisa saya temui mau pun hubungi kembali. Banyak penyesalan dan kegelisahan yang menghampiri saya kala itu. Saya banyak menghabiskan waktu dengan sia-sia hanya karena menyesali sosok yang sudah tidak ada di hadapan saya lagi. Saya terus menanti, yang menurut saya merupakan hal terbaik yang bisa jadi membuatnya kembali. Ketika saya sadari banyak hal sia-sia dan waktu terbuang percuma, iman saya disentuh lewat sebuah ayat:

“serahkanlah hidupmu kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” -Mazmur 37:5

Lalu saya pun berdoa mengungkapkan bagaimana kekecewaan saya saat itu. Hari lepas hari saya penuhi dengan kegiatan yang menumpuk agar saya tidak kembali teringat dengan orang yang sekian lama menghilang itu. Saya kembali aktif di gereja mengikuti kegiatan bersama teman-teman, bergabung dalam komunitas IGNITE, lebih membuka diri terhadap banyak teman baru, memperdalam kecintaan saya terhadap edukasi anak-anak, serta menambah pengalaman meng-handle event. Beberapa minggu yang lalu ketika sedang ‘ngopi’ bareng teman, salah seorang teman saya “nyeletuk” asik seperti ini: “Vin, how cool your are! Sekarang kamu ga terkekang dan hanya berkutat terus dengan laki-laki yang dekat denganmu. Sejak dia menghilang, kamu jadi lebih growing up menurut ku.” Ketika itu saya tersenyum dan muncul rasa syukur.


Photo by Will Li on Unsplash

Waktu berjalan dan saya kembali teringat dengan kata-kata itu, apakah hilangnya orang yang membuat saya sedih dan menjadi tidak karuan adalah hal yang baik? Nyatanya memang benar saya menjadi lebih leluasa dan lebih mencintai diri saya. Bukan berarti saya akan sendiri terus namun kehilangan yang saya rasakan ternyata tidak memberikan rasa pahit yang terus menerus namun ada rasa manis yang terasa di akhir penantiannya. Seperti meminum kopi akan terasa sangat pahit dan asam di awal, namun bila semakin dalam kita nikmati akan ada rasa manis yang menyelinap dan membuat kita ingin terus menyeruputnya. Bagi saya kehilangan bukan suatu akhir namun suatu awal untuk menemukan makna dari proses kehidupan. Ada banyak wujud kehilangan seperti materi, waktu, kesempatan, sosok orang dan kehilangan lainnya. Namun lewat setiap kehilangan ada pelajaran yang membuat kita teringat akan indahnya karya Tuhan yang menciptakan kita. Mungkin kita ini seperti gadis kecil tiga tahun itu yang menangis ‘hanya’ karena barang kesukaannya kita pindahkan atau hilang sementara dari hadapannya. Padahal saat itu Tuhan sedang menyiapkan gantinya dengan barang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya kita miliki. Tuhan selalu bekerja dalam segala hal, semoga kehilangan bukan menjadi akhir dari kita semua. Selamat mencari makna lewat kehilangan yang kita alami!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE