Aku Tak Ingin Pulang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Juli 2018
Tumbuh di keluarga dengan bahasa kasih yang berbeda sering membuat kita terus mencari segala sesuatu di luar diri kita untuk mengisi kekosongan hati. Bagaimana jika pemulihan dapat hadir dengan satu cara sederhana: pengakuan?

Aku terlahir dalam keluarga Tionghoa yang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya secara gamblang. Kami tidak pernah mencium kening atau pipi dalam berbagai situasi. Pun tidak terbiasa berpelukan satu sama lain. Bahkan enggan mengatakan "aku sayang papa dan mama" atau sebaliknya, "papa dan mama sayang kalian" (termasuk kata "maaf" atau "tolong" yang tidak pernah terdengar dalam rumah kami).

Terlebih, orangtuaku bukan ‘orang percaya’. Kami tidak pernah memiliki momen berdoa atau beribadah bersama. Kami disekolahkan di sekolah Kristen, sehingga kami (anak-anak) memiliki iman yang berbeda dengan papa dan mama. Banyak nilai dan kepercayaan yang bertentangan, sehingga sering kali menambah jarak di antara kami.

Latar belakang finansial keluarga kami juga dapat dikategorikan 'pas-pasan'. Kami jarang sekali pergi tamasya atau hanya sekadar berjalan-jalan di luar rumah. Pun soal makan, berhubung mama selalu memasak setiap hari (selain karena sehat, mungkin alasan utamanya adalah hemat), sehingga kami jarang sekali pergi keluar untuk makan bersama. Yang menyedihkanku adalah, kami juga tidak memiliki meja makan yang cukup besar demi membuat keluarga kami memiliki kebiasaan menyantap hidangan bersama-sama, layaknya tayangan di sinetron-sinetron.


Kerap terlintas di pikiranku bahwa aku tidak ingin pulang. Pulang bukanlah sesuatu yang aku rindukan.



Photo by Daria Nepriakhina on Unsplash


Saat itu aku masih seorang gadis yang memiliki banyak teman. Melihat teman-temanku yang memiliki kondisi finansial yang cukup mewah, hubungan erat dan hangat dengan keluarganya, bahkan mendengar mereka sekeluarga rutin ke gereja dan makan keluarga bersama, sungguh iri hatiku. Tak jarang aku minder. Aku menutup diri. Semakin menyendiri dengan kesedihan dan kekosongan batin. Apalagi di usia itu, aku sangat rentan untuk terus membandingkan kondisi diri (apa yang aku miliki dan tidak) dengan kondisi orang lain. Semakin haus jiwaku, semakin merasa tidak bersyukur, semakin aku tidak ingin pulang.

Waktu berlalu. Aku tetap menjalani hari-hariku dengan kekosongan hati yang tak disadari. Bagaikan ember yang terus menanti diisi oleh air. Meskipun aku bertemu dengan berbagai lawan jenis yang berusaha menyayangiku dengan versi mereka, hati ini tetap kosong. Ternyata embernya memiliki lubang besar, tak peduli sebanyak apa air yang tercurah, tetap tidak akan terisi penuh.

Ini adalah salah satu fakta yang terjadi pada setiap remaja, bahkan dewasa di berbagai belahan dunia: terus mencari segala sesuatu di luar diri kita untuk mengisi kekosongan hati akibat latar belakang keluarga atau pengalaman hidup yang ada.

Hasilnya? Nihil. Lalu, bagaimana aku dapat melewati masa remajaku? Pemulihan itu terjadi hanya dengan sebuah PENGAKUAN.



Photo by Tim Foster on Unsplash


1. Aku mengakui perasaanku mengenai segala sesuatu yang ada.

Aku iri. Aku marah. Aku kecewa. Aku sedih. Aku tulis semua, entah dalam sebuah buku harian atau dalam sebuah ucapan doa (bisa juga ke seseorang yang dipercaya). Hal ini juga berlaku dalam berbagai relasi. Alih-alih menyangkali keberadaan sampah yang hanya akan tertimbun dan membusuk, lebih baik sampah itu dikeluarkan dan dibuang ke tempatnya bukan?


2. Aku mengakui bahwa aku butuh pertolongan Sang Air Hidup.

Ia bukan hanya mengisi emberku dengan air yang tiada henti, Ia juga memulihkan lubang besar itu! Hanya Dia yang mampu dan berkuasa mengisi kekosongan jiwaku.

Mazmur 107:9 "sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan."


3. Aku mengakui adanya kerinduan/harapan yang akhirnya aku sampaikan ke sumber masalah kekosongan hatiku, yaitu ke papa dan mamaku.

Dengan latar belakang yang membuatku sulit menyampaikan asa dan harapanku secara verbal, maka yang aku lakukan adalah aku langsung berinisiatif melakukan (aksi) perubahan (yang sesungguhnya bukanlah aku sendiri, all credits go to The Holy Spirit). Aku berusaha terlebih dahulu mengecup mereka, aku mengajak pergi untuk makan bersama, aku membeli kue ulang tahun dan merayakannya, aku mengajak mereka ke gereja, membuat kartu berisi ucapan "I Love Papa & Mama" dan apapun yang terlintas untuk terus menghadirkan kebersamaan dan menciptakan kehangatan. Karena aku sadar, masalah di rumahku bukan tentang finansial, melainkan tentang kebiasaan. Dan kebiasaan baik itu harus ada yang memulai.



Photo by Jude Beck on Unsplash


Mengapa harus menunggu orang lain melakukannya, bahkan dengan amarah dan kekecewaan, jika kita bisa melakukannya terlebih dahulu? Sungguh, inilah yang dikatakan jika kita taat melakukan bagian kita, maka kita akan terkagum melihat karya Allah di balik usaha kita. Hingga saat ini, aku sudah menikah dan hidup bersama keluarga kecilku, aku sudah berdamai dengan diri dan papa-mamaku, aku bisa berkata bahwa ku ingin pulang. Anugerah besar lainnya, bahwa saat ini mereka sedang mengikuti katekisasi di GKI Perniagaan, tempatku bertumbuh. How great is Thou Art.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE