Alasan Putus 101

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 6 Maret 2018
Ketika relasi sudah tidak terurus, dan ternyata tidak lagi khusus dipersembahkan kepada Tuhan Sang Penebus, maka mungkin saatnya pacaran tak perlu jalan terus. Tercium wangi, terlihat happy, tapi siapa tahu di dalam hati justru makin sepi. Di tengah ironi masih begitu banyak jomblo yang dikira kurang aksi untuk mencari, begitu banyak relasi yang justru lebih baik diakhiri.

Jika saat ini kamu ada dalam sebuah hubungan dan kamu jujur setidaknya pada diri sendiri, seberapa sering kamu mengingkari perasaan tidak nyaman di dalam suatu hubungan? Walau memang romantisme dirindukan banyak anak muda, keputusan mengakhiri hubungan dan kembali menyendiri dengan alasan yang tepat sanggup menyelamatkan kita dari pernikahan yang menyedihkan. Setidaknya ada tiga alasan yang saya pikirkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengakhiri suatu hubungan.

Alasan Putus #01: Ketika Hubungan diisi oleh Cumbuan

Saya sulit menemukan padanan yang tepat di dalam menerjemahkan kata petting dalam pembahasan ini. Sebab Petting diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai aktivitas bercumbu-cumbu tanpa melakukan hubungan seksual atau seputar merayu tanpa adanya kejelasan tentang aktivitas fisik. Bagaimanapun saya akan tetap menggunakan kata ini: bercumbu.

Ada beberapa pasangan yang merasa baik-baik saja dengan melakukan cumbu. Mereka beralasan ketika mereka bercumbu tidak sampai melakukan hubungan seksual. Namun, siapa yang bisa menjaga juga menduga bahwa cumbu yang dilakukan tidak akan menggoda untuk melakukan kedalaman aktivitas seksual yang lebih jauh?

Saya mengutip satu bagian dari buku “Essay On Love” yang membahas mengenai “Datting: With or Without Petting” ditulis oleh Dwight Small.

“Petting does not stand alone; it is the natural prelude to the intimacy of marriage. Petting is unnatural if not followed by such intimacies (of marriage). To allow petting but not its natural result is to plunge into emotional conflict, frustration, and dissatisfaction, and into a biological state that demans relief. Petting is not sexual satisfaction; it is only stimulation. Failure to understand this leads to frustration, or else to behavior that was never intended.”

Bercumbu, sebagai suatu kepuasan sementara dari keinginan hawa nafsu akan menjadi pengikat kuat di dalam suatu relasi pacaran sehingga sang pelaku akan sulit lepas dari keterikatan itu. Kondisi ini menempatkan masing-masing pribadi di dalam suatu kebutuhan seksual yang semakin lama semakin kuat. Sehingga, tujuan awal untuk mencari teman hidup seketika beralih menjadi pencarian teman tidur. Aktivitas ini juga jelas sedang mencuri hadiah yang dikhususkan bagi pernikahan, yang artinya tidak perlu lagi diragukan jelaslah sebagai pertanda ketiadaan penghormatan terhadap perkawinan, pun terhadap Sang Kepala Pernikahan itu sendiri.

Selain hilangnya kekudusan, aktivitas ini merupakan sebuah investasi waktu yang sepenuhnya salah. Padahal kita tahu, masa pacaran seharusnya didedikasikan untuk mengenal dalam dan bertumbuh bersama bukan justru menjadi kesempatan untuk menurunkan standard kebenaran hanya untuk kepuasaan.

“Men who are doing God's work, and who have Christ abiding in their hearts, will not lower the standard of morality, but will ever seek to elevate it. They will not find pleasure in the flattery of women or in being petted by them.” -Ellen G White


Photo by Naassom Azevedo on Unsplash

Bagi yang sedang berpasangan, berdoalah senantiasa agar dimampukan untuk menjauh dan tidak terjebak hal ini. Seperti yang dikatakan C.H Spurgeon: “Anak muda, berdoalah. Sebab gairahmu sangat besar tapi kebijaksanaanmu, tidak.”

Alasan Putus #02: Ketika Dia tidak Menjadi Pelindung

Mencinta pada hakikatnya adalah suatu relasi yang saling melindungi. Cinta memberikan rasa aman bukan rasa tertekan. Cinta memberikan perlindungan bukan malah memberikan kesakitan tanpa perubahan positif yang signifikan.

Saya sedang tidak membahas seseorang pria yang kedapatan suka memukul atau bertindak kasar. Jika demikian faktanya, tanpa membahas panjang lebar, seorang wanita tidak perlu ragu untuk segera meninggalkannya. Ironisnya, ada yang kerusakan lebih dari luka fisik akibat tamparan atau pukulan, yaitu yang hadir sebagai sosok yang begitu lembut, sopan, namun dengan daya rusak yang begitu menghancurkan. Misalnya dengan kekerasan verbal apalagi dengan merampas kekudusan.

Cinta sejati memiliki motivasi untuk melindungi bukan melukai, dan itu artinya terdapat kesediaan untuk menjadi pribadi yang terus lebih baik dan bukan justru sebaliknya. Kita bisa bayangkan, jika dalam masa pacaran yang kerap digunakan untuk promosi segala karakter baik seseorang tak tanggung menampakkan tabiat buruk nan merusak, apalagi nanti ketika kita tinggal serumah dengannya. Kita jelas perlu mempertanyakan. Jangan sampai saat cincin sudah di tangan, alih-alih bahagia, justru luka yang senantiasa hadir di keseharian.


Photo by Brooke Cagle on Unsplash

Alasan Putus #03: Ketika dia bukan Pengikut Kristus.

Alasan yang ketiga tidak lantas menjadikan alasan ini menjadi kurang utama dibanding alasan pertama dan kedua. Jikalau dirinya benar-benar pengikut Kristus, ia tidak hanya menjaga kekudusanmu dan menjadi pelindungmu. Lebih jauh lagi, dirinya akan menjadi rekan untuk menolongmu bertumbuh. Sejatinya seorang pengikut Kristus akan menampakkan karakter yang makin serupa dengan-Nya. Semakin serupa di kekudusan-Nya dan semakin serupa di dalam kasih dan kesetiaan-Nya.

Pernikahan sejatinya adalah gagasan Allah yang mempersatukan dua pribadi pendosa yang telah diampuni di dalam satu ikatan suci untuk saling mengasihi di dalam janji setia. Relasi berpacaran menjadi satu kesempatan baik untuk bisa mengenali penampakan kasih dan kesetiaan pasangan. Kenali dengan baik apakah dirinya sudah mengalami pertobatan. Ini adalah prinsip yang sangat penting. Seseorang yang akan mendampingi kita ke altar pernikahan haruslah seseorang yang benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah orang yang berdosa dan harus dimurkai oleh penghukuman Allah. Dengan dasar penyesalan itu, ia tumbuh menjadi pasangan yang menampakkan perubahan-perubahan hidup yang nyata atas dasar anugerah Allah.

Jika dari hari ke hari pasanganmu menampakkan karakter yang semakin jauh dari teladan Kristus segera bicarakan dengan serius kapan relasi harus putus. Seorang pengikut Kristus menjaga waktu pribadinya di dalam saat teduh dan doa. Jika hal ini tidak lagi dilakukannya dengan setia, bagaimana keteladanan Kristus menjadi warna dalam kesehariannya? Seorang pengikut Kristus setia rindu bersekutu dan melayani. Jika kesehariannya hanya habis dipakai untuk kesenangannya pribadi, bagaimana kesediaan melayani bersama bisa menjadi kegemaran berdua? Berjuang bersama di dalam suatu relasi dengan pasangan yang juga adalah pengikut Kristus menempatkan relasi berpacaran bukan hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi namun bertujuan untuk menjadi alat kasih karunia Allah bagi sesama.


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Adalah satu keindahan jika relasi berpacaran bisa dijalankan dengan kerinduan untuk semakin serupa dengan Kristus. Jika hal ini ditekuni sejak berpacaran maka pernikahan akan menjadi proses bertumbuh dalam pernikahan dapat lebih mudah diusahakan. Walaupun dipenuhi dengan berbagai pergumulan, bertumbuh bersama di dalam kasih karunia Kristus menjadi keniscayaan. Sebaliknya, jika keserupaan dengan Kristus menjadi hal yang tidak utama, jangan menyesali jika pernikahan dengan segala pergumulannya justru akan memerosotkan kualitas rumah tangga kelak.

Ini adalah keputusan penting untuk bisa kita pertimbangkan hari ini jika kita sungguh tidak ingin mengalami kehidupan pernikahan yang akan kita sesali sampai mati. Diperlukan sebuah kejujuran di hadapan-Nya sekaligus iman bahwa kalaupun harus diakhiri, Dia juga akan memberi yang terbaik di waktu mendatang. Ambil waktu untuk berdoa dan serahkan pergumulan relasimu di hadapan Allah. Jikalau ada satu kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan di masa lampau, sesali dan bertobatlah bersama. Jika memang perubahan dirinya adalah satu kemustahilan, putuskan relasi dengan segera!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE