Allah yang Biasa Saja: Memaknai Kasih Allah yang Tak Berkesudahan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 19 Desember 2018
Apakah Ia sudah menjadi detak jantung di dalam kehidupan kita, yang “terasa biasa” tapi justru yang Mahahadir dalam kehidupan?

Saya bukanlah seorang dokter ataupun mahasiswa fakultas kedokteran. Saya hanya seorang mahasiswa teologi yang belum tentu akan menjadi seorang pendeta. Namun saya tahu dari mbah Google bahwa jantung manusia memiliki ukuran sebesar kepalan tangan, berdetak 60-100 kali per menit, pun mampu memompa 2.000 galon darah sehari. Pekerjaan yang amat sangat hebat yang dilakukan setiap hari, oleh organ yang ukurannya hanya sebesar kepalan tangan. Jantung pun menjadi penanda kehidupan manusia, karena apabila jantung berhenti bertugas maka hal itu juga menjadi penanda berakhirnya kehidupan.

Detak jantung sebanyak 60-100 kali per menit merupakan hal yang biasa saja (ordinary) bagi jantung, bukan sesuatu yang luar biasa (extraordinary). Bayangkan apabila jantung bekerja luar biasa, berbeda dari yang biasa jantung lakukan. Bayangkan apabila jantung berdetak 1.000 kali per menit, atau apabila jantung memompa sebanyak 100.000 galon darah setiap hari. Tentunya hal ini dapat menjadi malapetaka untuk tubuh. Manusia membutuhkan sesuatu yang biasa saja dan konsisten dari jantung, bukan malah sesuatu yang luar biasa, karena hal tersebut justru akan membawa maut.



pexels.com


Teman-teman, pernahkah kita merenungkan Allah seperti apa yang ada di dalam benak kebanyakan orang Kristen? Kebanyakan orang Kristen memiliki konsep bahwa Allah adalah sesuatu yang luar biasa, mengagumkan, dan hebat. Allah memang luar biasa; Ia sangat luar biasa di dalam kehidupan kita.

Namun Allah yang luar biasa berarti Allah pernah menjadi Allah yang biasa-biasa saja. Allah adalah tetap; Ia tidak berubah dan berganti, dan seperti itu pula penyertaan Tuhan di dalam kehidupan tiap orang Kristen. Allah bukanlah sesuatu yang tidak konsisten; Ia pernah luar biasa, pernah juga biasa saja; Allah pernah baik, pernah juga jahat; Allah pernah menyertai serta memberkati, pernah juga Ia mengutuk.

Allah bukanlah seperti itu. Allah adalah tetap. Ia biasa saja sejak dahulu hingga sekarang. Penyertaan kepada umat-Nya selalu sama dan tak pernah berkurang sedikitpun sejak manusia diciptakan hingga kita bernapas saat ini.



unsplash.com


Allah benar-benar biasa-biasa saja. Bagi Allah semua yang Ia lakukan adalah hal yang biasa saja; Allah tidak pernah menganggap diri-Nya Luar Biasa; Allah tidak pernah menganggap diri-Nya Istimewa. Semua anggapan itu terjadi karena sifat kemanusiaan kita yang menganggapnya demikian.

Contoh peristiwa Allah yang tidak menganggap diri-Nya luar biasa dan istimewa adalah melalui kelahiran Yesus Kristus. Pertama, melalui kelahiran Yesus Kristus, Allah mendeklarasikan diri-Nya bahwa Ia sama seperti dengan umat manusia; tidak ada lagi jarak yang tak terselami antara Allah dengan umat manusia. Allah hadir di dalam keluarga yang sederhana dan tumbuh sebagai seorang tukang kayu. Semuanya sudah tersingkapkan dengan kelahiran Yesus Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah penanda bahwa Allah memutuskan jarak yang selama ini tak dapat terselami oleh manusia; kasih Allah yang absolut menjadi nyata melalui kelahiran Yesus Kristus.

Kedua, melalui kelahiran Yesus Kristus, Allah memberikan diri-Nya dan menunjukkan bukti bahwa kasih Allah adalah kekal dan tak berkesudahan. Melalui Yesus Kristus putra-Nya yang tunggal, Ia menyatakan kasih dan pengharapan-Nya atas kehidupan manusia; bahwa sejak dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya kasih Allah tetap setia melingkupi umat-Nya. Allah benar-benar ordinary dalam menyatakan kasih-Nya; Ia tidak pernah sedikitpun meninggalkan penyertaan dan kasih-Nya di sepanjang kehidupan manusia.



unsplash.com


Bulan Desember adalah akhir tahun, dan tentu tidak sedikit peristiwa-peristiwa yang mengecewakan dan membuat kita sedih. Mungkin di tahun ini banyak yang ditinggalkan orang-orang terkasih, baik itu orang tua, keluarga, teman dekat, ataupun pasangan. Ada juga yang gagal dalam mencapai cita-citanya, gagal masuk kuliah yang dituju, gagal bekerja di perusahaan yang diimpikan, gagal dalam ujian kenaikan kelas, dan sebagainya.

Setahun ini banyak peristiwa-peristiwa yang luar biasa menyenangkan dan luar biasa tidak menyenangkan. Hidup layaknya roller coaster yang naik dan turun. Namun ada satu hal yang harus diimani secara bersama-sama: bahwa Allah layaknya detak jantung yang tidak pernah berhenti berdetak hingga akhir hayat manusia. Allah layaknya jantung yang terus berdetak 60 hingga 100 kali per menit.

Kasih Allah senantiasa menyertai kehidupan kita, meskipun kita seringkali dikecewakan oleh kehidupan. Kasih Allah selalu melingkupi dalam kehidupan manusia meskipun seringkali manusia merasa gagal untuk menjalani kehidupan. Allah tetap mengasihi anak-anak-Nya layaknya detak jantung yang konsisten berdetak.



unsplash.com


Ada satu ayat yang dapat membuat saya tenang dan tidak takut ketika kehidupan mulai menakutkan dan membuat saya bertanya akan penyertaan Tuhan.

 

"Yesaya 46:4"

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”

 

Melalui ayat ini, kiranya anak-anak Tuhan menjadi pribadi yang kuat dan yang tidak mudah mengeluh dalam menjalani kehidupan meskipun hidup memang tidak mudah. Apa lagi yang harus dikhawatirkan jika Allah terus menyertai kehidupan kita hingga rambut memutih? Apakah dengan janji penyertaan yang sempurna kita masih menggantungkan iman hanya pada perkara yang fantastis dan ajaib? Apakah Ia sudah menjadi detak jantung di dalam kehidupan kita, yang “terasa biasa” tapi justru yang Mahahadir dalam kehidupan?

Selamat memaknai kembali penyertaan Allah di tahun ini, tahun depan, dan seterusnya!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE