Anak Bukanlah Asuransi Hari Tua

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 Februari 2019
Itu sebabnya mereka disebut buah hati, bukan buah tenaga, apalagi buah investasi.

Seorang sahabat membagi keluh kesahnya kepada saya beberapa waktu lalu. “Tine,” katanya, “Saya harus keluar dari rumah.”

Ia rupanya baru bertengkar hebat dengan orang tuanya. Masalahnya kecil, namun bertumpuk. Masalah yang sejak dulu ada namun tidak diindahkan demi “kedamaian” bersama orang tuanya. Namun kali ini, masalah kecil ini membawa efek domino. Ia merasa tidak perlu memberikan solusi terhadap masalah sama yang terus-menerus ditimbulkan oleh orang tuanya. Terjadi adu mulut, hingga tiba di titik saat orang tuanya berkata, “Ingat, kamu masih punya hutang nasi kepada kami!

Sahabat saya terdiam lama dan tak mampu berkata apa-apa mendengarnya. Ia mencintai orang tuanya. Buatnya, ia telah memberikan segalanya untuk orang tuanya, untuk keluarganya. Kedua orang tuanya tidak dalam kondisi yang luwes untuk menjalankan fungsi masing-masing dalam keluarga. Di umurnya yang hampir tiga puluh tahun, ia sukses mendidik adik-adiknya hingga kuliah di luar negeri, mengubur mimpinya sendiri untuk melakukan hal yang sama, demi mempertahankan bisnis keluarga.

Bagi orang Barat, ketika seseorang telah memasuki usia produktif, sudah normal dan selayaknya bila ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan memulai hidup sebagai individu yang mandiri. Salah satu nilai utama yang diajarkan oleh keluarga Barat adalah independensi.

Di Asia lain lagi, kita bisa tinggal bersama orang tua selama kita belum menikah (bahkan banyak juga yang masih tinggal bersama orang tua dalam satu atap meski mereka telah beristri atau bersuami). Ini masih dianggap layak, apalagi jika tidak ada pilihan atau mengusung efisiensi. Satu nilai lain lagi, adalah tentang bakti anak pada orang tua. Ketika orang tua dirasa telah renta dan sulit beraktivitas, sudah selayaknya sang anak merawat mereka, sebagai bakti anak yang telah dibesarkan oleh orang tua sejak kecil, tanpa syarat.



Photography by Chelsea Fern on Unsplash


Tanpa syarat.

Kata-kata ini yang menjadi titik berangkat saya menulis artikel ini. Begitu banyak masalah dalam keluarga muncul akibat penyalahgunaan kata-kata tersebut oleh orang-orang yang tidak berpikir panjang terhadap makna dan tugas masing-masing anggota keluarga: sebagai orang tua, sebagai anak, dan sebagai individu Kristen.

Saya menghayati sebuah kisah nyata seorang anak yang ditinggal ibu kandungnya sejak kecil. Ia dibesarkan oleh ayahnya setelah perceraian antara orang tuanya dan melalui hak asuh sah. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan yang baik dan memerhatikan anak itu selayaknya anaknya sendiri. Anak itu tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Dalam hati, anak itu sesekali masih bertanya-tanya dan masih mengharapkan kedua orang tuanya kembali.



Photo by Zoriana Stakhniv on Unsplash


Ibu kandungnya berselingkuh dengan beberapa pria, lalu membawa lari uang. Bukannya memperbaiki diri, ia memilih keluar dari rumah, meninggalkan suami dan anaknya bertahun-tahun. Ia kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang kemudian ia ceraikan lagi. Yang menjadi masalah adalah, meski tak tinggal seatap dan membesarkan anaknya, di setiap kesempatan ia berusaha berbicara kepada anaknya, bahwa anaknya ini harus mencintainya hingga ia tua nanti, karena ia ibu kandungnya. Ia menghasut sang anak untuk tak mengindahkan ibu tirinya.

Di saat yang sama, ia tidak pernah mau anaknya menghabiskan waktu dengannya lebih dari dua malam. Sang Ayah beberapa kali mencoba memberi kesempatan kepada Sang Ibu Kandung untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan anaknya, namun ia terus membuat alasan. Ia sibuk bekerja, atau bila ia memang harus menghabiskan waktu dengan si anak, justru Sang Ayah yang lagi-lagi harus memberi nafkah padanya untuk membiayai anak ini.

Kisah ini rasanya hampir tak dapat dipercaya, bagaimana mungkin kasih seorang ibu kandung bisa corrupt seperti itu? Ia mengabaikan tugas dan peran sebagai seorang ibu yang penuh kasih, dan sebagai istri yang seharusnya menjadi penolong yang seimbang dan sepadan. Ia tidak mau bertanggung jawab memberikan kasih dan membesarkan anaknya, namun Ia mau anaknya berbakti jika ia sudah tua nanti.

Semua hanya untuk satu hal: asuransi hari tua. Ia mau bakti dari anaknya. Ia berharap akan dipedulikan hingga masa tua oleh satu alasan: kamu berasal dari rahimku.



Photo by Chris Benson on Unsplash


Saya percaya kisah ini tidak hanya ada satu. Kisah sahabat saya dengan luka karena orang tua, dan kisah sang anak yang diperlakukan layaknya tunjangan pensiun oleh ibunya yang bahkan tidak membesarkannya, hanyalah dua contoh di antara ragam bentuk luka lain yang lahir tentang dan karena orang tua.

Saya memiliki teori sederhana: bahwa orang tua macam ini adalah individu-individu yang khawatir akan hari esok mereka, sebab mereka tidak meletakkan iman mereka sungguh-sungguh pada Tuhan.

Kejadian 2:24 mengatakan, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Alkitab hendak mengatakan, bahwa laki-laki—yang dulunya adalah seorang anak—ketika ia dewasa dan menikah, bersatu dengan istrinya, ia tidak lagi bersama orang tuanya, tapi membentuk suatu keluarga baru, yang satu hati, satu suara. Sebagai orang tua (atau calon orang tua), kita hendaknya mengerti, tidak selayaknya kita menagih dan berekspektasi bahwa dengan memiliki anak kita memiliki jaminan hari tua.

Anak bukanlah jaminan hari tua. Anak adalah karunia dan titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk dibesarkan hingga ia kemudian beranak cucu dan bertambah banyak, memenuhi panggilan Tuhan atas bumi ini (Kej. 1:28).



Photo by Alex Pasarelu on Unsplash


Ia bukan milik kita, ia milik Tuhan. Anak tidak meminta kita untuk melahirkannya ke dalam dunia ini. Ia tidak lahir dalam dunia dengan sebelumnya menandatangani kontrak bahwa ia mengerti, bahwa seluruh uang dan keringat yang dikeluarkan untuk membesarkannya harus dibayar lunas ketika ia besar nanti. Itu sebabnya mereka disebut buah hati, bukan buah tenaga, apalagi buah investasi. Anak lahir oleh kasih dua manusia yang begitu besar, hingga Tuhan mengaruniakan berkat dan kepercayaan mulia pada mereka untuk menerima buah kasih ini.

Saya baru menikah 1,5 tahun dengan suami. Bagi orang kebanyakan, usia pernikahan kami sudah normal dan selayaknya untuk menghasilkan buah cinta: anak. Hingga kini, saya dan suami senang melempar senyum terhadap pertanyaan yang paling sering dilontarkan, “Kapan isi?

Kami merasa begitu dikasihi dan diperhatikan oleh orang sekitar kami yang begitu peduli. Namun, kami ingin menyiapkan diri karena tidak ingin menambah daftar panjang kisah anak yang mengalami kepedihan karena salah satu, dua, tiga, atau seluruh kombinasi di bawah ini:
1. Motivasi pasangan suami-istri yang salah untuk memiliki anak
2. Tidak adanya Kristus yang diposisikan sebagai Yang Utama dalam keluarga,
3. Pengabaian orang tua akan maksud Tuhan memberikan anak bagi mereka, atau
4. Kurangnya pengertian akan tugas masing-masing anggota keluarga.

Hal-hal ini yang menyebabkan banyaknya masalah dalam hidup manusia yang menghadirkan kehancuran rumah tangga yang tentunya tidak sesuai kehendak Allah. Begitu banyak kepedihan dan luka yang dirasakan anak-anak yang besar oleh produk keluarga seperti ini, membuat mereka tumbuh menjadi individu dengan hati yang numb—menolak merasakan—sehingga mereka berkompromi dengan dunia karena buta atau menolak kasih Tuhan. Akhirnya ketika mereka menikah dan membangun keluarga, kehancuran ini terjadi lagi karena mereka tidak mengenal Kasih yang Agape, menjadi lingkaran setan yang terus menerus hadir, generasi ke generasi, satu lingkungan dengan lingkungan yang lain.



Photo by S A R A H X S H A R P on Unsplash


Satu hari, bila Tuhan mengizinkan, kami akan berbagi berita kebahagiaan melalui dua strip dan anggukan positif dari dokter Ob-Gyn. Namun sebelum hari itu terjadi, kami berdua berkomitmen untuk bertumbuh dan mengerti penuh akan maksud Tuhan menghadirkan anak kami ke dalam dunia, dan motivasi kami membesarkannya: bahwa anak kami bukanlah asuransi, dana pensiun, objek, ataupun play-doh yang dapat kami bentuk sesuka hati.

Ia adalah sebuah cerminan Tuhan akan hidup kami, sehingga nilai apa yang kami besarkan pada dirinya seumur hidupnya, mencerminkan keyakinan iman kami bahwa Tuhan akan menyediakan dan merencanakan apapun yang terbaik di masa depan.

Ketika kita membesarkan anak, kita sedang membentuk individu yang percaya dan mencintai Tuhan, dan oleh sebab itu kita perlu lebih dulu menjadi demikian. Saya rasa kita semua perlu menanam mindset: “Let’s invest more in our faith and brace our future with no worry as we have Christ with us!”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE