Apa yang Akan Terjadi Seandainya Kamu Tidak Menyerah

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 14 Oktober 2017
‘Menyerah’ selalu jadi jalan pintas yang mudah. ‘Menyerah’ dan semua penderitaan serta kesusahanmu akan usai. Menyerahlah, dan kamu tidak akan lagi lelah berjuang. Menyerah saja, maka kamu akan berhenti menangis. Dalam kesulitan hidup yang pelik dan melelahkan, ‘menyerah’ selalu menjadi salah satu pilihan yang menggiurkan. Tapi, tidakkah kamu ingin tahu, apa yang akan terjadi padamu, seandainya kamu tidak menyerah?

Masih teringat jelas dalam ingatan, hari ketika saya dan seorang teman duduk di pinggir taman kampus beberapa tahun lalu. “Rasanya gue nggak kuat deh,” begitu kira-kira teman saya mengeluh. “Sama,” saya mengiyakan dengan cepat. Kala itu hidup sedang terasa luar biasa berat bagi kami yang baru saja lulus dari bangku pendidikan sarjana kedokteran dan tengah mengambil kepaniteraan klinik untuk meraih profesi dokter. Entah berlebihan atau tidak, namun saat itu rutinitas dan tekanan yang menguras energi dan mental nyaris membuat saya menangis setiap hari. Jaga malam, ronde pagi, visit bangsal, observasi pasien, omelan serta tugas yang tak ada habisnya rasanya bisa menjadi alasan yang cukup kuat bagi saya untuk menyerah saja, mengalah pada tiga setengah tahun yang telah saya perjuangkan untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. Rasanya kalau saya bisa keluar saat itu, hidup akan terasa lebih mudah—beban yang terasa begitu menghimpit akan serta merta terangkat. Entah apa yang membuat saya bertahan kala itu, mungkin orangtua, mungkin rasa tanggung jawab yang besar, mungkin teman, entahlah saya tidak tahu. Tapi, toh saya bertahan.


Shutterstock.com

Lalu, saat ini, ketika menoleh ke belakang—ke masa yang penuh dengan keringat dan air mata itu, saya dapat tersenyum bangga. Saya dapat bersyukur atas keputusan saya untuk tetap bertahan, untuk tetap memikul beban yang seakan tak dapat saya panggul sendiri. Rasa itu tetap ada—rasa tak mampu menjadi seorang dokter, rasa takut, rasa khawatir. Saya masih mengalami saat-saat dimana saya merasa meragukan kemampuan saya saat gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Saya masih mempertanyakan apakah saya sudah melakukan tindakan yang tepat dan yang terbaik, saya masih merasa takut, saya masih merasa gagal, dan saya masih sering mempertanyakan keputusan saya mengambil jalan hidup ini.

Namun, ada—dan lebih banyak, saat dimana saya dapat tersenyum bangga saat saya berhasil membantu seseorang melewati masa kritisnya, saat saya menolong seseorang untuk sembuh. Ada saat dimana saya bersyukur telah mengambil jalan yang kini saya tempuh. Ada saat dimana saya merasa bahwa sukacita yang saya dapatkan ketika berhasil menolong seseorang jauh lebih berharga dari harta apa pun di dunia ini. Dan ketika saya merasa seperti itulah saya sadar, bahwa apa yang saya lakukan sekarang—siapa diri saya saat ini, hanya dapat terjadi karena kemurahan Bapa.

“Tetapi TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku.”—Mazmur 94:22
Sungguh jika bukan karena belas kasih-Nya saya tidak akan menjadi saya yang sekarang. Bisa dipakai menjadi alat-Nya untuk membantu orang adalah sebuah kehormatan yang luar biasa. Padahal, siapa saya? Hanya seorang anak ‘kemarin sore’ dengan mental lembek dan manja yang tidak tahu apa-apa. Tapi toh, sedikit demi sedikit, Ia mau membentuk saya menjadi lebih baik. Ia adalah Allah yang membuat saya bertahan dan memampukan saya melewati segala badai yang saya pikir tak akan dapat saya lewati. Ia Allah yang setia dan tak pernah meninggalkan walau pada kebanyakan waktu saya sering kecewa dan mempertanyakan kehadiran-Nya. Ia Allah yang begitu sabar menggandeng tangan saya dan menemani saya berjuang melintasi kabut hidup.

“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”—Yesaya 46:4


Shutterstock.com

Jadi, jika kamu—siapa pun dirimu, kini tengah merasa berada dalam titik terendah dalam hidupmu, tengah merasa putus asa karena hari-hari yang kamu lalui tampak kelam, tengah merasa tak berpengharapan; ditinggalkan; atau tak berharga. Bertahanlah. Bersabarlah, karena kamu tidak sendiri. Walau goyah akar dan batangmu—walau menyakitkan dan menyiksa, tetaplah tegar dan lihatlah apa yang akan terjadi jika dirimu tak menyerah. Berjuang dan bertahanlah agar suatu hari nanti, kamu dapat menoleh ke belakang dan tersenyum—merasa bangga karena kamu yang sekarang adalah kamu yang lebih baik dari hari kemarin. Kamu yang sekarang punya akar yang lebih kokoh, batang yang lebih kuat, daun yang lebih lebat, bunga yang lebih indah, serta buah yang lebih manis.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. “—Yeremia 29:11

Mari tetap bertahan, untuk hari-hari yang lebih baik!


Shutterstock.com

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE