Apakah Ada yang Salah dengan Merasa Kesepian?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Februari 2018
Ya, harus tampak selalu bersukacita dan tampak kuat itu akan sangat... melelahkan.

Kesepian. Satu kata yang seringkali diidentikkan dengan masa lajang. Bagi beberapa orang, kesepian bagaikan momok, ditakuti dan dihindari. Suatu perasaan yang tak ingin diakui keberadaannya ini seringkali dibungkus manis dengan kesibukan, prestasi, bahkan pelayanan gerejawi. Setidaknya itu yang aku alami, dulu.

Menjadi seorang gadis Kristen berusia 24 tahun dan lajang, membuatku memiliki banyak hal yang bisa dibicarakan tentang rasa sepi. Namun, beberapa orang berpendapat, diriku yang merupakan seseorang yang melewati masa muda dengan menjadi aktifis di kampus maupun di gereja membuatku seakan tak pernah merasa kesepian. “Aku ingin seperti kakak, yang keliatannya selalu bersukacita.” Begitu bunyi pesan singkat yang kuterima beberapa tahun yang lalu. Aku meresponnya dengan berkata bahwa aku bukan seorang manusia super yang tidak pernah bersedih dan tanpa masalah. Alih-alih membuat tersanjung, sebenarnya perkataan itu sedikit membebaniku. Ya, harus tampak selalu bersukacita dan tampak kuat itu akan sangat… melelahkan.

Memangnya, apa yang salah dengan rasa sepi? Apakah karena kesepian membuat kita menyadari betapa menyedihkannya keadaan kita, sehingga kita tidak mau mengakuinya?

Kesepian membuat seakan-akan kita tidak memiliki Allah, namun bukankah Allah adalah sumber damai sejahtera dan yang Dia beri tidak sama dengan dunia? Jadi ketika kita merasa kesepian rasanya itu adalah sebuah ketidakpatutan dalam daftar emosi barisan para orang percaya. Kesepian bisa dianggap sama dengan dosa.


Photo by Aziz Acharki on Unsplash

Satu hal yang kemudian aku pelajari, bahwa rasa sepi bukan tentang status hubungan kita (lajang atau pacaran atau menikah), tetapi rasa sepi lebih kepada ketidakmampuan kita untuk menyadari kehadiran Allah. Faktanya rasa sepi juga dapat dirasakan oleh mereka yang telah berpacaran atau bahkan yang telah menikah. Memiliki kekasih atau pun pasangan hidup tidak dapat meniadakan rasa sepi itu, setidaknya itu yang aku simpulkan setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang yang telah memiliki pacar dan menikah. Setiap orang dalam status hubungan apapun memiliki kesepian dan permasalahannya sendiri-sendiri. Memiliki pasangan hidup atau memiliki apapun yang kita inginkan, tidak bisa menjamin bahwa kita tidak akan merasa sepi.

Kesepian merupakan suatu pengingat bagi kita untuk kemudian menyadari bahwa kita perlu membina kembali hubungan yang intim dengan Allah. Kesepian tidak membuat kita menyedihkan, kesepian merupakan bumbu penyedap rasa kita sebagai manusia. Kesepian membuat kita menyadari siapa diri kita, yaitu manusia berdosa yang butuh pengampunan dari Allah. Kesepian membuat kita mengetahui siapa Allah, yaitu satu-satunya Pribadi yang mampu memuaskan hati, bukan manusia ataupun hal-hal duniawi. Rasa sepi bukan untuk dihindari tetapi diakui, sebagaimana Tuhan mengaku mengasihi kita bahkan ketika kita masih berdosa.

Roma 5:8 “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati bagi kita, ketika kita masih berdosa.”

Ya, aku lajang dan aku pernah merasa kesepian. Inilah kebiasaan yang kemudian aku miliki, aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku pernah merasa sepi. Bahkan di suatu saat nanti, ketika begitu banyak permasalahan dan kesibukan rasa sepi bisa tiba-tiba saja hadir tanpa diundang. Maka aku akan bersikap terbuka di hadapan Allah, mengakui bahwa aku mulai merasa kesepian. Ajaibnya, ketika mengakui perasaan kesepian itulah justru aku boleh mengecap betapa dalam kasih Allah padaku.

Untuk mengetahui kasih Allah yang menerima kita apa adanya, kita perlu terlebih dahulu menjadi apa adanya, terutama di hadapan Allah kemudian di hadapan manusia. Dengan mengabaikan rasa sepi dan bersikap baik-baik saja, kita justru sedang menghalangi Allah untuk memulihkan kita dan menyatakan kasih-Nya yang penuh terhadap kita.


Photo by Ben White on Unsplash

Kesepian itu bukan dosa, tapi bagaimana kita menyikapi kesepian itulah yang akan menentukan kita berdosa atau tidak. Apakah kita memilih menutupi rasa sepi itu dengan hal-hal seperti kecanduan, pasangan hidup, pelayanan atau malah meratapinya? Aku rasa setiap orang punya kesepiannya sendiri-sendiri namun hanya satu solusinya, yaitu mengakui hal itu di hadapan Allah dan mengijinkan-Nya memenuhi hati kita. Jadi, tidak ada yang salah dengan kesepian.

Yeremia 31:3 “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE