Bagaimana Mengisi Masa Penantian dengan Benar?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Februari 2018
Seumpama petani, bagaimanakah sikap kita dalam menantikan hujan?

Dalam masa menantikan sesuatu dalam hidup, setidaknya ada tiga cara yang dilakukan beberapa orang selama masa penantian.

  1. Menanti dengan dengan pasif, hanya diam dan berharap suatu saat yang dinantikan akan segera datang dan tiba sesuai dengan ekspektasi atau harapannya.
  2. Menanti sembari mencari tahu hal macam apa yang dibutuhkan. Mencoba beberapa hal untuk mengetahui apakah hal tersebut yang dinantikannya atau bukan.
  3. Menanti dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Tahu apa yang dinanti dan dibutuhkan namun terlebih dari itu ia mempersiapkan dirinya dengan baik sehingga ketika suatu saat hal yang dinantikannya tiba, ia sudah siap.

Mengutip sebuah kutipan dalam film Facing The Giant “Ada dua orang petani, keduanya sama-sama membutuhkan hujan untuk ladangnya. Petani yang satu hanya berharap suatu saat hujan turun untuk membasahi ladangnya. Sementara petani lainnya mempersiapkan ladangnya dengan cara merawatnya dengan sungguh-sungguh. Ketika hujan turun, menurutmu petani mana yang lebih siap menerima hujan?”

Selalu ada banyak pilihan dalam hidup, kita bisa memilih dan menggunakan dengan leluasa pilihan-pilihan tersebut. Termasuk dalam hal penantian, akan menjadi sosok yang bagaimanakah kita selama dalam masa penantian kita?


Photo by Kate Williams on Unsplash

Penantian yang menjadi trend bagi kaum muda di zaman ini tak jauh dari topik penantian pasangan hidup. Banyak kaum muda yang mulai dilingkupi perasaan galau dan gelisah ketika menyandang status single. Salah? Saya pikir wajar. Beberapa orang mungkin memiliki kerinduan untuk memiliki pasangan yang memiliki karakter baik, cerdas, hangat, romantis, dan takut akan Tuhan. Namun banyak yang melupakan “bagaimana bisa memiliki pasangan yang baik, takut akan Tuhan, cerdas, dsb.” Sebagian besar kita hanya sibuk menuntut tanpa melihat ke dalam diri terlebih dahulu.

Masa single yang dianggap sebagian orang menjadi masa yang kelam, menurut saya justru menjadi masa keemasan untuk boleh meng-upgrade dan memperkaya diri dengan banyak hal. Kembali ke statement saya diatas “akan menjadi sosok yang bagaimanakah kita?” Pilihannya ada di tangan kita sendiri. Ada sebuah kutipan yang berbunyi “Pasanganmu adalah cerminan dirimu”. Wow. Jangan harap memiliki pasangan yang takut akan Tuhan kalau kita sendiri tidak memulai membangun relasi baik denganNya. Jangan harap memiliki pasangan yang murah hati kalau kita sendiri masih sibuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Jangan harap memiliki pasangan yang sabar kalau kita sendiri masih mudah berapi-api dan tersinggung ketika mendapat teguran. Itulah mengapa masa single menjadi masa keemasan karena kita masih punya banyak sekali ruang dan waktu untuk memperbaiki kualitas karakter dalam diri kita.

Masa penantian setiap orang jelas berbeda, yang membedakan adalah cara kita menantikannya. Pasif, sibuk mencari, atau memperbaiki kualitas terlebih dahulu? Sama seperti petani yang menyiapkan ladangnya sembari menantikan hujan turun, pun demikian pula kita seharusnya mempersiapkan diri dalam masa penantian kita. Ketika yang dinantikan tiba, kita tidak lagi bingung melainkan sudah siap dan tahu betul apa yang kita nantikan akan datang.


Photo by Hannah Olinger on Unsplash

Proses mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik tidak boleh lepas dari sebuah kesadaran bahwa, sejatinya kita sudah memiliki Kekasih sejati yang bahkan ketika kita berada dalam sisi terburuk, Dia masih setia dan mengasihi kita tanpa syarat. Bahkan ketika hati kita kotor dan busuk Dia masih tetap menjadi Kekasih terbaik yang kita miliki, yang tanpa peduli berapa kali kita menyakitiNya Dia tak pernah memperhitungkannya. Ajaib bukan? Kekasih mana yang memiliki hati begitu luar biasa kalau bukan hati seorang Bapa yang amat mengasihi anak-anakNya. Mengingat hal ini seharusnya membuat kita menjangkarkan proses berbenah bukan semata untuk pasangan kita kelak, tapi juga sebagai ucapan syukur kepada Allah.

Penting dan perlu mempersiapkan diri dalam masa penantian seorang pasangan, karena Tuhan pun menghendaki manusia hidup untuk berpasang-pasangan, sepadan, dan seimbang. Namun yang tak kalah penting untuk kita ingat selalu bahwa tanpa kita memiliki kekasih di dunia, kita sudah memiliki Kekasih yang kekal yang memperlengkapi, menyertai, mengasihi tanpa syarat bagi kita semua.

Pilihan memang berada di dalam tangan kita, dan tentu setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Seperti kedua petani yang menanti hujan, menjadi petani yang pasif berarti memiliki konsekuensi ketika hujan turun, ladang tidak optimal dalam menerima hujan. Menjadi petani yang mempersiapkan ladangnya pun memiliki konsekuensi yakni bekerja dan berusaha keras di awal namun ketika hujan turun ladangnya menerima hujan secara optimal. Lalu bagaimanakah sikap kita dalam menantikan “hujan” ?


Photo by Edu Grande on Unsplash

“Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” – Mazmur 37:3-4

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE