Bagaimana Semestinya Kita Bersikap Terhadap Indonesia Hari Ini?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 27 April 2017
Apakah kita –sebagai pemuda Kristen- yakin sudah bersikap dengan tepat tentang Indonesia?

Di bawah rintikan hujan pada Jumat tengah hari, seorang berperawakan kurus berjalan dengan santai ke arah kerumunan massa sambil memayungi dirinya sendiri. Beliau tampak tenang dan menoleh ke kanan-kiri sambil sesekali melempar senyum ke arah kerumunan tersebut. Gerak-geriknya memancarkan kehangatan di tengah dinginnya suasana pada hari itu. Lebih kurang tiga bulan setelah pertemuan dengan bapak berpayung tersebut, kerumunan itu kembali datang ke Jakarta, ibu kota Indonesia.

Alinea pembuka di atas hanya pengingat, bahwasanya kita baru saja melewati atau bahkan baru memasuki sebuah perjalanan menuju kedewasaan dari negeri yang kita tinggali ini.

Tanpa bermaksud menyindir secara satir ataupun berteori layaknya ahli di bidang politik, saya hanya ingin berbagi mengenai pesan apa yang bisa kita renungkan bersama sekaligus menjadi jawaban kontemplasi semacam “apakah kita –sebagai pemuda Kristen- yakin sudah bersikap dengan tepat tentang Indonesia?

Demo 3 Digit

Ketika pertama kali mendengar berita mengenai aksi yang akan digagas pada pertengahan bulan Desember tahun lalu, saya menerka aksi tersebut hanyalah aksi sesaat, aksi-aksian dari mereka yang ‘bersumbu pendek.’ Ternyata aksi tersebut berlanjut sampai penghujung bulan Maret tahun ini, sampai akhirnya saya menaruh perhatian lebih daripada sekedar pemberian “stempel” bahwa aksi tersebut hanya untuk marah-marah sesaat. Saya kira perhatian saya cukup berakhir disana, namun ternyata baru saja saya melihat sebuah video yang berisikan kabar bahwa sehari menjelang PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) Jakarta nanti akan ada aksi serupa. Sepertinya Dia ‘kepingin’ saya lebih dari sekedar menaruh perhatian, melainkan untuk belajar memahami sekelompok kerumunan orang dengan latar belakang yang berbeda. Aksi 3 digit saya menyebutnya, karena setiap aksi disimbolkan dengan 3 angka yang menerangkan tanggal dan bulan dilaksanakannya aksi tersebut.

Jujur, “stempel” tadi muncul begitu saja dalam benak saya karena merasa bahwa mereka yang mengikuti aksi 3 digit hanyalah orang-orang ‘suruhan’ (bayaran) dari lawan politik pihak yang sedang dimarahi ini. Kebetulan sosok yang dimarahi itu juga sedang ‘bertarung’ di arena PILKADA Jakarta tahun ini. Ada unsur politis di dalamnya daripada sekadar ketulusan untuk memarahi sosok tersebut.

Di sisi lain, saya juga beranggapan bahwa sosok ini memang ‘nakal’ dan pantas dimarahi. Bagi saya, bukan benar salahnya orasi yang disampaikan, tapi lebih kepada kepantasannya berucap di posisinya saat itu. Wajar saja ‘mereka’ tersinggung dan marah, seharusnya yang lebih pantas menyampaikan perihal ayat agama lain yang tidak dianutnya adalah pemuka agama tersebut, bukan sosok yang dianggap ‘nakal’ itu. Bagi saya pribadi, kejadian tersebut mempertontonkan gambaran nyata tentang ke-Bhinneka-an yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Sayangnya rangkaian konflik yang sedang terjadi menjadi bukti bahwa sekelompok orang merasa Indonesia hanyalah ‘Ika’, dan entah bagaimana mereka lupa untuk membaca kata ‘Bhinneka Tunggal’ yang mendahuluinya. Maka saya jadi beranggapan bahwa masyarakat kita saat ini terkesan kurang piknik karena berulang kali ‘berpiknik’ lewat aksi yang dibilang damai. Aksi 3 digit.

Lalu, kita harus bagaimana?

Sebagai seorang pemuda Kristen yang bergereja di GKI (Gereja Kristen Indonesia), sangat menarik untuk memperhatikan reaksi dari rekan seiman kita dalam menanggapi persoalan ini. Mungkin hampir sebagian besar dari mereka (atau bahkan kita) memilih untuk mendukung sosok nakal tadi, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Mereka seperti menemukan teladan nyata akan gambaran ‘batu karang’ atau ‘ikan yang tidak menjadi asin karena air laut.’ Saya sempat sepakat dengan mereka. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa euforia tersebut bisa menjadi salah kaprah, jika terlarut dalam tafsir lain seperti mengelu-elukannya bak dewa hanya karena beliau adalah saudara seiman dan menguduskannya selayak ‘Santo’ masa kini.

Bagi saya pribadi, yang menarik dari berbagai aksi yang dibilang damai itu adalah saat dimana kita sebagai orang Kristen bisa dan berusaha memahami bahwa Pak Basuki dan mereka yang memarahinya adalah sama. Bukan keberpihakan kita kepada Pak Basuki yang perlu digarisbawahi, melainkan proses pembelajaran sebagai anak muda Kristen mengenai ke-Bhinneka-an.

“Dari Sabang sampai Merauke..berjajar pulau-pulau..sambung-menyambung menjadi satu..itulah Indonesia”

Indonesia adalah kita. Ada orang Jawa yang terkenal lembut, ada yang berambut keriting dari Irian Jaya, hingga yang bersuara lantang dari Medan dan masih banyak yang lainnya. Ada yang berdoa 5x setiap hari, ada pula saudara kita yang berdoa kepada Sang Hyang Widhi. Sungguh beragam cara kita berdoa kepada Yang Kuasa, termasuk saya yang terbiasa untuk melipat tangan dan menutup mata untuk bercakap-cakap kepada-Nya. Sungguh, menulis skripsi dan merevisinya sampai 3x pun tak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa kayanya keberagaman yang kita miliki.

Kita yang saat ini sedang menyaksikan pengalaman baru yang sensitif terkait agama, ditantang bersikap dengan benar dan dewasa. Daripada sibuk menuduh bahwa ada rekayasa ini dan itu atau fokus memuja dengan membabi buta.

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?”

Satu ayat itu sejatinya dapat melegakan sekaligus menegur dan mengarahkan kita dalam memahami makna ke-Bhinneka-an bangsa Indonesia yang sejati. Tidak ada yang istimewa dalam mengidolakan persamaan, justru berupaya merangkul perbedaan dan menjaga ke-Bhinneka-an adalah tantangan kita, para pemuda Kristen Indonesia.

Yakinkah kita sudah menjadi Indonesia?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE