Berharap, Meski Masih Menunggu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Maret 2018
Segala proses bermuara kepada Tuhan.

Apakah kamu pernah berpikir di-P.H.P. oleh Tuhan karena tak segera mendapatkan jawaban atas doamu? Atau, kamu sudah bosan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang? Bicara soal berharap, berarti bicara juga tentang menanti. Memang benar jika ada orang yang berkata bahwa manusia boleh merencanakan tapi Tuhan yang menentukan, namun bukan berarti kita hanya duduk manis sambil menanti jawaban itu. Apa yang kita pikirkan dan perbuat dapat berpengaruh dalam proses penantian tersebut. Setiap orang pasti pernah punya harapan, mungkin barang yang sudah diincar sedari lama, cita-cita, pekerjaan, atau pasangan hidup. Harapan bukan hanya sekedar angan-angan dalam hati yang patut dibiarkan begitu saja.

Ada tiga hal yang perlu ditanyakan kepada diri kita masing-masing. Pertama, apakah harapan kita sudah sesuai dengan apa yang Tuhan mau? Tentunya tidak ada yang melarang seseorang menginginkan sesuatu atau mengharapkan sesuatu. Tetapi sebagai orang percaya, kita perlu bertanya terlebih dahulu, apakah harapan kita baik menurut kacamata Tuhan, atau justru membuat kita jatuh dalam dosa. Kedua, tidak mungkin kita dapat mengetahui apakah harapan kita sudah sesuai dengan apa yang Tuhan mau kalau kita tidak sering bertanya pada Tuhan. ‘Rambu-rambu’ sudah diberikan melalui firmanNya. Lalu, sudahkah kita mempelajari dan memahami ‘rambu-rambu’ itu? Sebab tugas kita adalah taat. Ketiga, ora et labora, yaitu tetap berharap pada Tuhan sambil melakukan bagian kita yang terbaik. Jika demikian masihkah kita bermalas-malasan dan bersungut-sungut ketika guru/dosen memberikan tugas-tugas kepada kita? Masihkah kita berkata tidak ketika ada teman sepelayanan yang membutuhkan bantuan kita? Masihkah kita mengeluh karena banyaknya proyek, deadline, dan tekanan di tempat kita bekerja? Satu syair lagu dari NKB 34 berbunyi “setiaMu Tuhanku, mengharu hatiku,..” meneguhkan bahwa, Tuhan Yesus senantiasa setia memelihara kehidupan kita. Tapi seringnya, justru kitalah yang tak jarang melangkah mundur dan membuat jarak.

Pemazmur punya cara unik dalam proses berharap dalam penantian. Di dalam setiap pergumulan yang sedang dihadapi, ia mengutarakan isi hati pada Tuhan. Di dalam doa, pemazmur tidak hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan, tetapi juga bersyukur dan memuji Tuhan. Akhirnya pemazmur dimampukan untuk dapat melihat kebaikan-kebaikan Tuhan yang ia alami, meski dalam pergumulan. Bukankah kita juga begitu? Ketika Tuhan mengijinkan kita mengalami masa-masa yang tidak mudah, Ia tetap mencurahkan berkatNya bagi kita, dalam bentuk yang beragam, dengan cara-cara yang tidak terduga.


Photo by Ambreen Hasan on Unsplash

Sehingga melaluinya, kita tidak punya alasan untuk berhenti berharap dan tetap mengandalkan Dia. Tentunya semua hal ini bukan berarti membuat kita memiliki hubungan ‘give and take’ dengan Tuhan, alias ‘dekat-dekat karena ada maunya’. Tetapi, melalui semua proses ini kita menjadi tahu dan sadar sebenarnya apa sih yang Tuhan mau dalam kehidupan kita? Jangan sampai kita menunggu sesuatu yang sia-sia hanya karena berharap pada hal tidak sesuai dengan kehendakNya. Semua ini pasti membutuhkan proses, membutuhkan waktu. Selama proses penantian dan berharap, Tuhan selalu punya banyak cara untuk berbicara, misalnya mengijinkan beberapa hal terjadi.

Adalah sebuah tantangan tersendiri ketika saya harus mengalami ketidaknyamanan akibat suatu hal. Sempat beberapa kali saya merenung dan bertanya-tanya, kemudian mulai timbul keinginan untuk berlaku sama seperti beberapa orang yang saya kenal, yaitu melangkah mundur perlahan seperti tidak ada harapan lagi. Saya mulai tidak bersemangat dan membandingkan keadaan saya dengan orang lain. Bersyukur kepada Tuhan, saya dimampukan untuk bangkit kembali saat mengingat karya-karyaNya yang sudah Ia kerjakan dalam hidup saya. Saya tahu bahwa proses ini berat, tetapi Tuhan merangkul dan menolong saya. Ibarat mendapat satu bungkus permen bertuliskan ‘Coba Lagi’. Tuhan ingin saya dan kamu untuk tidak berhenti berharap dan terus berlatih dalam perjuangan iman. Saya percaya Tuhan juga merangkul serta menolongmu dalam proses berharap dan menanti.


Photo by Caroline Hernandez on Unsplash

Segala proses bermuara kepada Tuhan, karena kita memang adalah manusia yang terbatas. Bahkan untuk bisa berharap dengan iman dan berproses dalam penantian, kita masih membutuhkan pertolongan dan hikmat dari Tuhan. Kalau kita bisa setia dalam tiga hal tadi, maka kita bisa bersukacita dengan damai sejahtera di hati. Meski masih menunggu, kita tahu ke mana iman berlabuh, yaitu kepada Dia yang janjiNya bagaikan perak yang teruji dan dapat selalu diandalkan. Sehingga pada akhirnya, dengan penuh ucapan syukur kita dapat berkata “Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku.” Mazmur 6:10

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE