Beriman Seradikal Teroris

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 05 Juni 2018
Mudah bagi kita menemukan perbedaan antara kita dan mereka, tapi apakah kita bisa menemukan persamaan yang seharusnya ada? Sama-sama radikal dan teraktualisasi dalam tindakan nyata.

Beberapa waktu lalu, seantero negeri gempar. Pagi itu, di saat orang-orang sedang menikmati waktu liburan dengan tenang dan orang Kristen bersiap ke gereja, tiga gereja di Surabaya menjadi sasaran aksi terorisme. Beberapa jam setelahnya kebanyakan orang menjadi curiga, masuk ke gereja menjadi takut, beberapa menduga-duga akan ada ledakan susulan. Terorisme bukan kali ini saja terjadi di Indonesia.

Seorang teman membagikan hasil diskusi bersama Wahid Institute bahwa meskipun tindakan teror dapat berlangsung dengan cepat, tapi radikalisme adalah sebuah proses. Seseorang yang radikal dapat dengan mudah disusupi paham terorisme yang berbuah aksi kejahatan, bisa berupa baku tembak atau bom bunuh diri dengan kepercayaan bahwa yang dilakukan adalah memerangi kafir dengan tujuan surga.


Persamaan: Iman yang Radikal

Radikalisme menjadi sebuah kata yang berkonotasi negatif setelah serentetan peristiwa terorisme terjadi. Padahal, perlu diakui bahwa sebagai umat beragama yang beriman kepada kepercayaan masing-masing, menjadi seorang yang radikal adalah penting. Sesuai dengan akar bahasanya ‘radikal’ berasal dari kata radix atau mengakar. Jadi, semua orang yang memiliki keyakinan dan kepercayaan, kepercayaan tersebut harus mengakar dan menjadi pandangan hidup (worldview). Pandangan hidup tersebut yang menentukan bagaimana seorang berpikir dan bertindak.


Photo by Jad Limcaco on Unsplash

Berkali-kali saya berpikir, kepercayaaan atau “iman” seperti apa yang kelompok teroris miliki hingga bernyali untuk mati dan membunuh orang lain. Kita dan mereka sama-sama menginginkan hidup yang lebih baik, damai, dan harmonis di bumi dan di surga, namun kita dan mereka punya cara yang berbeda. Kita dan mereka berani mati untuk memperkenalkan iman, memperjuangkan iman, dan melawan ketidakadilan, tapi kita punya cara pandang berbeda tentang kematian yang tidak sia-sia dan punya alasan mengapa terus hidup.


Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik, tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. (Filipi 1: 21-24)



Photo by Unsplash


Perbedaan: Aktualisasi dari Radikalisme

Teroris percaya bahwa mati adalah bentuk perlawanan terhadap kaum yang tidak berpihak kepada mereka, sedangkan bagi kita mati harus mengikuti teladan Yesus. Yesus mati karena sebuah alasan yang mungkin tampak tak masuk akal: untuk menebus umat manusia dari dosa. Satu orang mati agar banyak orang yang hidup.

Teladan Yesus yang mau mati untuk menebus dosa dapat kita hayati. Yaitu demi memberikan dan mewartakan hidup di dalam Dia melalui kata dan perbuatan. Mati untuk mewartakan kebenaran dan kabar baik dari sumber yang memberi hidup. Kontras dengan apa yang terjadi dengan teroris yang mati untuk melawan.

Jika iman tersebut kita hidupi dalam skala radikal, se-radikal para teroris mempercayai apa yang mereka percayai, maka kematian yang kita alami bukanlah kematian yang mengajak orang untuk mati secara paksa, tapi mengajak orang untuk “hidup” dengan penuh ketulusan. Jika kita seradikal teroris, damai dan cinta dapat terus hidup di tengah orang-orang yang sedang bersama kita. Jika kita seradikal teroris, akan banyak orang yang mengenal dan menerima sumber hidup agar mereka menghidupi hidup tidak dengan sia-sia.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE