Bersahabat dengan Kecemasan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 November 2017
Ada penjagaan yang diberikan Tuhan kala kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, kegalauan bahkan depresi sedang melanda.

Dementor. Mungkin kamu kenal atau pernah mendengar makhluk dari dunia fiksi Harry Potter ini. Makhluk ini semacam memiliki radar yang selalu siap mendeteksi dan menghisap kebahagiaan para penyihir dan kemudian meninggalkan para ‘korban yang selamat’ dengan perasaan depresi, hampa dan kehilangan harapan.

Saya tidak pernah menemui maupun menjadi korban Dementor. Tentu saja tidak, karena itu fiksi belaka, tapi faktanya, saya sedikit banyak memahami dan merasakan depresi dan kekosongan itu akibat gangguan kecemasan — anxiety disorder — yang saya alami sedari kecil. Jenis gangguan kecemasan saya cukup spesifik, dan meski dianggap umum untuk anak-anak, kasus ini jarang untuk orang dewasa. Saya ingin mengenalkan teman-teman dengannya: Separation Anxiety. Kecemasan karena keterpisahan.

Ada rasa takut dan malu, di satu sisi, untuk menuliskan dan membagikan pengalaman saya ini. Orang terdekat saya pernah menganggap hal itu konyol, dan itu menjadi trauma tersendiri. Di sisi lain, saya berpikir mungkin ada teman-teman yang sedang merasakan kecemasan dan depresi yang mirip, atau bahkan spesifik sama. Hal ini yang mendorong saya untuk membuka diri dan berbagi.

Saya mulai sadar dengan keberadaan anxiety saya sejak SD. Meski saya belum tahu namanya. Kegiatan pramuka menjadi momok; saya tahu akan ada kemah dimana saya harus tidur di tenda, terpisah dari rumah dan orang tua. Waktu benar diadakan kemah, saya pura-pura sakit perut dan minta dijemput pulang untuk tidur di rumah. Saya ingat bagaimana saya super cemas ketika di kesempatan lain, saya ikut camp sekolah minggu. Saya tidak merengek, tapi pikiran saya sudah cukup nekat untuk mendorong saya kabur atau lagi-lagi minta diantar pulang.


Photo by Jeremy Perkins on Unsplash

Kecemasan saya sedikit berkurang di masa SMP-SMA. Camp bukan lagi momok. Meski demikian, kecemasan itu kembali menyapa dan menguat ketika saya masuk perkuliahan. Hari-hari kuliah saya dipenuhi kekhawatiran dan kecemasan ketika saya harus meninggalkan Magelang, kembali ke kost saya di Salatiga tiap Minggu sore. Saya akhirnya berhasil meyakinkan orang tua saya bahwa melaju dengan bus umum setiap hari itu aman dan lebih efisien biaya. Tiga tahun lebih kuliah, saya melaju daripada harus ‘tersiksa’ dengan kecemasan yang mengganggu fokus belajar saya di universitas.

Kecemasan, ketidaktenangan pikiran, dan kebingungan saya rasakan ketika kecemasan itu melanda. Terkadang kosong. Saya tidak pernah berani untuk terpisah dengan orang-orang di rumah: papa, mama dan adik. Kedengaran cukup konyol?

Saya terus menerus memikirkan kecemasan saya. Tidak jarang saya protes dan bertanya kepada Tuhan kenapa saya harus hidup dengan kecemasan ini. Disorder itu cukup banyak mempengaruhi keputusan dalam hidup. Saya juga sadar dan cukup lama memikirkan bagaimana kecemasan ini akan berpengaruh ketika saya nantinya menikah dan tinggal terpisah dengan orang tua.

Dan kawan lama itu kembali menjabat saya sejak saya resmi tidak lagi menyandang status bujang, hingga hari ini.

Stres berat menghantam saya di hari pertama saya harus berpisah dengan orang tua. Siang sampai malam, mood saya hancur. Berkali-kali saya menahan tangis, setelah siang itu saya banjir air mata. Saya kehilangan nafsu makan dan saya tidak bisa berpikir dengan jernih. Puji Tuhan istri saya bisa memahami keadaan saya (dan dia salah satu orang pertama yang tahu dan bisa menerima diri saya dengan kecemasan saya).

Mungkin teman-teman kemudian bertanya apa yang selama ini saya lakukan untuk bertahan menjalani hari-hari saya selama ini dengan kecemasan saya. Apalagi jawaban terhadap segala masalah selain terlebih dulu datang pada Tuhan.

Saya ingat dan datang pada-Nya. Saya terus mendoakannya. Ketika itu, dalam saat teduh saya di malam kedua setelah saya menikah, Tuhan ingatkan saya lewat tulisan Oswald Chambers, “Seluruh pengalaman hidup dirancang untuk memampukan kita memasuki hubungan terdekat dengan Yesus. … Begitu kita dekat dengan Yesus, kita tidak akan pernah kesepian, dan tidak akan kekurangan pengertian atau belas kasihan.”


Photo by Aziz Acharki on Unsplash

Perkataan itu menampar saya. Chambers menambahkan, “Kita dapat terus mencurahkan isi hati kita kepada-Nya tanpa dianggap terlalu emosional atau patut dikasihani.” Sama seperti ketika saya jujur protes ke Tuhan tentang pergumulan saya dengan kecemasan itu, saya juga mengungkapkan bagaimana saya sering merasa khawatir, bingung, cemas, dan hampa kepada Dia

Ya, saya masih terus bergumul dengan kecemasan saya. Dan iya, dengan datang kepada Tuhan dan ‘mengizinkan Yesus memuaskan setiap aspek kehidupan dengan mendalam’, ada kekuatan yang mengatasi kecemasan saya. Ada penghiburan dan kekuatan yang diberikan Tuhan yang mengalahkan kecemasan, ketakutan, kekhawatiran, kegalauan bahkan depresi yang melanda.

Hal lain yang saya syukuri adalah bagaimana cara Tuhan menjaga saya di tengah kecemasan saya dengan menempatkan sahabat-sahabat di sekeliling saya. Ada mereka yang siap menjadi telinga dan ikut mensupport saya dalam doa.

Ada rasa syukur ketika saya pernah memiliki dan menjadi bagian dari sebuah support group, atau kelompok tumbuh bersama. Mereka adalah orang-orang pertama yang tahu ‘sisi gelap’ saya, termasuk salah satunya adalah kecemasan ini. Mereka tidak menolak dan meremehkan pergumulan saya. Saya percaya ini cara Tuhan mengasihi dan memelihara saya.


Shutterstock.com

Expecto patronum. Itu mantra yang manjur dipakai mengusir dementor dengan memanggil patron—pelindung. Doa yang saya naikkan kepada Tuhan bukanlah mantra yang sementara mengusir kecemasan saya dan seolah kedengaran seperti sesuka saya kapan memanggil Dia ketika saya butuh. Yesus sendiri yang lebih dahulu mengasihi saya, pernah merasakan menjadi manusia, dan mengundang dan memberi janji yang melegakan itu, “Marilah kepada-ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)" Sesederhana itu: datang kepada Dia, karena saya tahu siapa Dia dan apa yang bisa diperbuat-Nya.

Pada akhirnya, kecemasan saya ini justru menolong dan terus mengingatkan saya bahwa saya ini lemah dan terbatas. Tiap jam, tiap waktu, saya butuh Dia dan hanya Dia saja yang dapat menolong saya. Tuhan saja cukup.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE