Bersahabat dengan Makhluk Lain

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Oktober 2018
Melalui akuarium dan kehidupan di dalamnya, ada perasaan bahwa saya diterima sebagai manusia kembali, sehingga saya juga dapat membuka diri kepada mereka dan sesama manusia di sekitar akuarium.

Ada pendapat bahwa yang membedakan persahabatan dari hubungan lainnya adalah absennya hierarki di dalam persahabatan. Saya setuju bahwa kita menemukan adanya hierarki dalam semua jenis relasi, kecuali persahabatan. Itulah sebabnya mengapa persahabatan menjadi semacam sanctuary dan oasis di tengah kehidupan seorang manusia dewasa disesaki oleh norma dan kewajiban yang lahir dari posisi kita di dalam hierarki sosial. Sahabat adalah sosok yang di hadapannya saya bisa melepas topeng saya tanpa dicerca sekaligus melihat kemungkinan diri saya untuk menjadi lebih baik.



pexels.com


Di dalam situasi kerja di kantor saya yang semakin formal dan administratif, hierarki dan kewajiban yang menyertainya semakin memenuhi segala sudut ruang hidup. Saya memutuskan untuk mengasingkan diri dari kehidupan dan cengkerama kantor yang dulu selalu mewarnai hari-hari saya. Alasannya sederhana: saya lelah untuk berpura-pura dan pada saat yang sama saya takut kehilangan pekerjaan saya (seperti yang sudah dialami beberapa rekan saya) kalau saya bicara jujur. Saya membatasi diri untuk bicara soal pekerjaan saja dengan atasan-atasan saya yang ‘kupingnya terlalu tipis’ untuk dikritik. Dengan rekan-rekan, saya lebih banyak diam, karena mereka juga dalam keadaan siaga satu. Puji Tuhan, saya masih punya satu sahabat berwujud manusia yang bisa saya temui seminggu sekali.



pexels.com


Kali ini saya ingin bercerita mengenai sahabat saya yang bukan manusia. Saya memilih ikan menjadi sahabat saya. Kebetulan di sekolah tempat saya bekerja (yang terdiri dari 4 gedung di dalam satu kompleks), setiap gedung, kecuali gedung di mana saya berkantor, memiliki akuarium-akuarium ukuran 1,5 sampai 2 meter panjangnya dengan tinggi dan lebar tak kurang dari satu meter. Sudah bertahun-tahun ketiga akuarium ini terbengkalai di sana. Akuarium di gedung SD bahkan sempat menjadi tempat pertunjukan ikan-ikan predator ganas asal Amazon yang mengejar dan mencabik mangsanya selama 2 tahun dan ditonton oleh anak-anak kelas 1 dan 2 SD dengan mata terbelalak ngeri (sebagian juga bersorak-sorai) hampir setiap hari. Akuarium di gedung TK hanya berisi 4 ekor ikan mas yang setiap hari berenang-renang kebingungan lantaran akuarium itu hanya berisi air alias kosong melompong di tempat yang gelap.

Saya tidak bisa membayangkan gloomy effect yang dirasakan anak-anak TK setiap kali mereka mampir di sana. Tapi anak-anak itu sayang sekali pada ikan-ikan ini. Kesempatan untuk mengadakan perubahan datang ketika ikan-ikan predator harus dievakuasi ke kuali penggorengan karena kedatangan seorang staf dinas perikanan yang mengingatkan ancaman denda sebesar 1,5 milyar jika terus menyimpan ikan-ikan predator asing ini. Karena pemiliknya sangat takut pada ketegasan dan keseriusan Menteri Susi, maka dalam waktu seminggu akuarium itu sudah kosong.

Istri saya tiba-tiba mengusulkan agar akuarium itu dibikinkan aquascape, kegiatan favorit kami berdua di kala senggang. Mendekor akuarium sebesar itu membutuhkan kekuatan otot saya (karena ada komponen hardscape yang memasukkan minimal 12 karung pasir vulkanik dan batu-batu hias berukuran besar), intuisi artistik dan keahlian menanam istri saya (yang harus memasukkan dan menempatkan berbagai jenis tanaman air), dan akhirnya pengenalan dan perawatan yang telaten atas berbagai jenis ikan. Ada sekitar seratusan jenis ikan air tawar yang sudah saya kenali kebiasaan hidupnya yang saya masukkan dalam daftar calon penghuni akuarium itu. Setelah diseleksi berdasarkan prediksi interaksinya dengan sesama ikan lain dan dengan tanaman serta batuan di sekelilingnya, akhirnya ada 50-an jenis yang menurut saya bisa hidup bersama dalam satu akuarium.

Dalam waktu 3 hari, jadilah aquascape pertama di situ. Reaksi anak-anak SD dan para pekerja di sana sungguh heboh. Anak-anak terlihat begitu antusias membangun persahabatan dengan banyak ikan itu. Mereka berteriak memanggil-manggil sambil menepuk kaca akuarium. Akuarium itu menjadi sebuah sanctuary, tempat melepas penat dan me-refresh diri setelah seharian bekerja bagi 150-an pekerja di gedung SD.



Photo by Shaun Low on Unsplash


Saya, yang tadinya berniat mengasingkan diri dari dunia manusia yang penuh kepalsuan, mendapat banyak teman baru di depan akuarium ini. Di jam-jam saya melakukan perawatan, saya selalu kedatangan seseorang, seringkali jajaran cleaning service, supir dan satpam yang selama ini tidak mau mendekati saya (mungkin karena sungkan), bertanya-tanya tentang ikan ini dan itu. Waktu ketibaan, istirahat siang dan kepulangan, sekeliling akuarium seringkali dipenuhi oleh anak-anak. Kadang saya harus mencari waktu teduh di mana saya saya bisa berelasi dengan ikan-ikan untuk saya kenali satu-persatu. Mereka selalu menyambut saya dengan riang gembira. Kalau saya hendak membersihkan kotoran yang menempel di kaca, selalu ada ikan-ikan yang mematuki tangan saya. Melalui akuarium dan kehidupan didalamnya, ada perasaan bahwa saya diterima sebagai manusia kembali, sehingga saya juga dapat membuka diri kepada mereka dan sesama manusia di sekitar akuarium.

Dua bulan kemudian saya melanjutkan mendekor akuarium di gedung lain di mana para penjemput murid biasa menunggu. Di tengah ruangan yang panas (tanpa AC) di sana, dan betapa sumpeknya untuk menunggu, akuarium itu telah menjadi bagian yang menyegarkan. Terakhir, minggu lalu saya baru selesai mendekor akuarium gedung TK. Saya masih ingat ekspresi salah satu anak TK yang mungil itu, ketika melambaikan tangannya ke arah akuarium dan berkata, ”Bye-bye, fish” seraya bergegas berjalan menuju kelasnya dengan senyum di wajahnya. Saya berharap persahabatan dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain bisa terus tumbuh dalam diri anak-anak ini. Bumi kita memerlukan sentuhan dan komitmen mereka dan kita semua.

Pagi ini saya menangis tersedu-sedu menonton film dokumenter “Chasing Coral”. Betapa mudahnya koral yang berwarna-warni —yang sebenarnya adalah hutan di bawah laut, fondasi dasar kehidupan laut— memutih dan kemudian mati dalam hitungan hari hanya karena suhu laut naik sekitar dua derajat akibat pemanasan global di mana-mana. Hutan di bawah laut melenyap dengan kecepatan yang mengerikan tanpa kita menyadarinya. Kalau ada hutan tropis yang melenyap secepat itu, kita semua pasti sudah gempar.

Laporan dari Great Barrier Reef tahun 2015 mengungkapkan bahwa hamparan koral terbesar di muka bumi: 50 % nya sudah mati. Ke atas sedikit, Bali melaporkan: 75% koral di perairannya sudah habis. Laporan senada datang dari habitat koral di seluruh dunia. Begitu koral lenyap, kehidupan laut di sana juga langsung lenyap. Aku tahu sakitnya kehilangan seekor ikan kesayangan, dan begitu banyak, hanya Tuhan yang tahu jumlahnya, ikan dan moluska dan gurita dan udang, kepiting, penyu dan segala macam mahkluk lain yang kita tidak pernah tahu melenyap bersama matinya koral.



pexels.com


Di area di mana koral mati, terbentang dataran tandus bawah air berwarna coklat tanpa seekor ikan atau makhluk pun tampak di area itu. Padang kematian. Bayangkan kalau suatu hari nanti seluruh kehidupan lenyap dari lautan kita bersama musnahnya koral. Saat ini ada sekitar 2,5 milyar manusia di muka bumi yang mata pencahariannya bergantung pada laut.

Semoga kita menyadari sebelum terlambat dan Tuhan menolong kita semua dari bencana yang hebat yang kita belum tahu ketika 20 tahun mendatang (seperti prediksi para ahli) seluruh koral tumpas dari muka bumi. Semoga kita mulai menjalin persahabatan bukan cuma dengan manusia, tapi juga dengan alam dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Dalam kisahku, Tuhan memakai ikan-ikan itu telah memanusiakan aku kembali.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE