Berteman dan Saling Menajamkan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 11 Oktober 2018
Proses saling menajamkan bukan hanya dipersulit oleh keangkuhan untuk meminta maaf, tapi juga tertutupnya kesempatan berdialog. Dengan berdialog kita sedang menyadari bahwa kita tidak tahu keseluruhan kisah dan alasan mengapa seseorang memilih sesuatu.

Sudah berulang kali saya terheran bagaimana sebuah relasi diakhiri hanya berlandaskan alasan: “hello temanku bukan cuma dia” atau kalimat semacam ini “emang dia kira aku butuh dia! Masih banyak temanku yang lain yang lebih baik.”

Di era kekinian, alasan tersebut dikemas dalam dalih semacam ini: “kalau ga cocok ya silakan unfollow” // “kalau merasa terganggu, boleh delete contact”


Sejatinya kalimat-kalimat itu daripada berkesan dewasa menjauh dari konflik, justru bentuk kemalasan luar biasa. Kemalasan berproses. Kemalasan berdiskusi. kemalasan... mempertahankan relasi.


Belajar untuk tidak mudah membuang

Saya suka satu kutipan ini, sebuah bentuk percakapan ketika seorang muda bertanya ke pasangan oma-opa, rahasia awetnya hubungan mereka.


“how did you manage to say with your spouse for 65 years?”

“because we were born in a time when if something was broken we would fix it, not throw it away”


Saya jadi teringat satu peristiwa ketika saya di Palopo. Di rumah yang saya tinggali, ada satu meja ruang tamu pecah sebab terlalu lama dibebani kuah bakso panas yang teman saya beli. Saya kira keluarga di tempat itu akan membuang pecahan tersebut, atau menutupinya dengan taplak di sisi yang pecah, atau mudahnya… beli saja yang baru.

Namun yang dilakukan teman saya sepenuhnya berbeda. Mereka mencari lem kaca dan mulai mengelem kembali pecahan kaca itu di posisi semula. Saya kaget dengan keputusan itu, namun dengan segera bergabung lalu berkeringat bersama, mengipas hingga menggunakan hair dryer untuk membuat lem segera kering.

Kejadian ini sangat membekas di benak saya karena satu hal, bahwa itu adalah pilihan tidak populer namun sarat makna. Dibutuhkan sebuah keterampilan khusus untuk memperbaiki alih-alih mengambil jalan pintas “beli saja yang baru”.



Contributor's photo


Bayangkan betapa banyak relasi yang dapat dipulihkan ketika semua berprinsip yang serupa: coba perbaiki dulu. Sayangnya, banyak orang yang hanya ingin dikelilingi oleh mereka yang sepaham dan sependapat, sehingga ketika perbedaan mencuat mereka memilih jalan malas: “ya sudah berhenti saja berteman denganku, ga papa kok.” Banyak orang yang lebih suka “membuang” daripada “memperbaiki” atau setidaknya “mencoba memperbaiki”.


Apa yang salah?

Kita cenderung merasa selalu benar. Rasanya, ini adalah naluri alamiah manusia yang merasa diserang ketika seseorang berkata bahwa kita bersalah. Ketika tulisan saya disanggah habis-habisan, atau ketika seseorang merasa tidak pas dengan perilaku saya, saya selalu singgah ke satu tahap: pembelaan diri.



pexels.com


Minggu lalu seorang rekan guru senior memimpin ibadah dan berkata seperti ini: “rendah hati menjadi hal yang sulit sebab itu bersinggungan dengan zona ego. Cenderungnya kita reaktif melakukan proteksi terhadap diri kita sendiri.”

TEPAT SEKALI, kata saya dalam hati kala mendengar baris kata itu.

Namun perlahan demi perlahan saya belajar bahwa relasi kita dengan seseorang lebih berharga daripada gengsi untuk meminta maaf. Walau ini pun harus terlebih dulu melalui latihan hati berulang kali, tapi saya tidak pernah menyesali permintaan maaf yang pernah saya sodorkan. Untuk semua relasi yang berharga, kita tidak akan pernah menyesali untuk sesekali membongkar dinding ego kita sendiri.


“Manusia menajamkan sesamanya”

Amsal 27:17


Di Alkitab tercatat berbagai macam petuah soal pertemanan, tapi di antara itu semua, saya merasa pedoman umum (dan sebenarnya abstrak) ini yang paling sering Tuhan pakai untuk mengingatkan saya pribadi agar tidak menjadi antipati apalagi malas untuk bergesekan namun tetap dalam kerangka kasih. Mudah? Jelas tidak.

Proses saling menajamkan, setelah saya amati, bukan hanya dipersulit oleh keangkuhan untuk meminta maaf, tapi juga tertutupnya kesempatan berdialog. Misalnya, kita sedang kecewa mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu atau sebaliknya orang lain jujur menyatakan bahwa ia kecewa dengan keputusan kita.

Alih-alih berkata “ini urusanku, tidak perlu lagi kita berteman” ada opsi lain yang jauh lebih baik: bertanya dan mengonfirmasi kebenaran dari asumsi. Dengan berdialog kita sedang menyadari bahwa kita tidak tahu keseluruhan kisah dan alasan mengapa seseorang memilih sesuatu.

Teman saya yang super flegmatis kerap terheran mengapa saya tidak anti dengan konfrontasi (selain karena ada sisi koleris dalam diri saya) dan saya menjelaskan bahwa semua berjangkarkan sebuah iman bahwa kita dan orang sekitar kita dapat mendewasa bersama.

Kita perlu membuka ruang diskusi walau kadang berujung konfrontasi, dimulai dari kesadaran bahwa Tuhan menciptakan kemampuan komunikasi pada manusia. Toh kita pasti sepakat bahwa mustahil ada relasi tanpa komunikasi, dan mungkin ini menjelaskan mengapa dalam relasi yang langgeng dibutuhkan terus menerus telinga dan mulut yang bergantian bekerja berbalut kasih. Pun, bahwa tujuan komunikasi salah satunya untuk mendamaikan gesekan mengurai benang kusut kesalahpahaman. Bukan justru sebaliknya.



pexels.com


Saling menajamkan: memberikan ruang untuk ketidaksepahaman

Amsal (lagi-lagi) mencatat: “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”

Saya percaya, yang sebenar-benarnya teman yang baik bukan mereka yang senantiasa berkata 'iya' dan membenarkan argumen kita. Kita harus berhati-hati jika tipe orang di sekitar kita tergolong selalu tak bernyali menegur kesalahan kita. Toleransi dan pengampunan agaknya harus lahir setelah koreksi kesalahan dinyatakan dan bukankah itu inti dari saling menajamkan?

Kalau sampai akhirnya dalam berteman, kita masih suka bergosip satu sama lain daripada menegur di muka, suka senewen dengan keputusan teman kita yang tidak sesuai idealisme kita, suka berpikir negatif hanya karena beda pandangan, dan tidak tahan kritik, mungkin itu semua karena kita terlalu mudah menyerah. Kita meniadakan perbedaan. Kita memuluskan lingkungan. Kita mengusir orang-orang yang akan menajamkan.

Jika kita tidak memberi diri buat terluka dan gemar membuang, jika kita begitu mudahnya menyerah, dan jika kita ingin bertumbuh namun selalu di zona nyaman, maka sampai ladang gandum dihujani meteor coklat dan jadi sereal coklat, kita akan jadi pribadi yang sama. Tidak ada penajaman yang signifikan.

Maka mari bersyukur jika hari-hari ini kita masih memiliki teman yang berbeda pandangan, sebab itu indikasi baik bahwa kita masih dikelilingi orang-orang yang berpotensi menajamkan. Sebaliknya, kalau ternyata semua orang selalu sepakat dan senantiasa mengapresiasi apalagi mengglorifikasi keputusan kita, hati-hati. Antara mereka adalah serigala berbulu domba, diri kita sendiri yang memang terlampau bijaksana nan mengagumkan (yang adalah kemungkinan nyaris mustahil), atau kemungkinan terakhir… mereka tak cukup berani berselisih dan terlalu malas untuk saling menajamkan.


Selamat merayakan proses penajaman, selalu dan senantiasa

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE