Broken People Came From Broken Home

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 September 2017
When our wounds cease to be a source of shame and become a source of healing, we have become wounded healers

Judul di atas merupakan sepenggal lirik dari lagu berjudul “Broken” yang dinyanyikan oleh Lecrae bersama Kari Jobe. Saya suka sekali dengan bagian tersebut. Lirik ini mengajak saya untuk bernostalgia ke masa kecil di mana saya tidak tinggal bersama orang tua dari kelas 4 SD sampai 2 SMA karena ada masalah internal keluarga. Ada banyak luka yang saya alami ketika kecil dan secara tidak sadar luka itu membuat saya begitu terpaku dengan diri saya sendiri sampai-sampai saya melupakan bahwa terkadang sikap saya melukai orang lain. Kerap kali keterlukaan yang kita alami berkaitan erat dengan orang terdekat kita, seperti keluarga, dan sudah seharusnya kita ingat bagaimana kasih Kristus yang besar kepada kita seharusnya mampu untuk memulihkan luka tersebut sehingga kita dapat hidup sebagai orang yang telah dipulihkan.

Keluarga yang Terluka

Istilah broken home biasanya selalu dikaitkan dengan keluarga yang mengalami perceraian. Anak-anak yang orang tuanya bercerai biasanya mengalami luka dan trauma yang sangat menyakitkan. Melihat orang tua yang dulu bersama dan sekarang memilih untuk mengakhiri janji sehidup semati yang pernah diucapkan di altar suci. Lalu, bagaimana dengan keluarga yang tidak bercerai? Apakah mereka juga bisa disebut keluarga yang terluka? Ya! Bagaimana mungkin? Ada banyak hal yang bisa membuat keluarga menjadi terluka. Keluarga yang masih utuh pun bisa menjadi keluarga yang terluka. Bahkan, keluarga yang secara kasat mata terlihat harmonis dan penuh kasih pun bisa disebut keluarga yang terluka jika keharmonisan dan kasih sayang itu hanya sebagai topeng supaya terlihat baik-baik saja oleh orang lain.


Shutterstock.com

Keluarga menjadi terluka ketika rumah tidak lagi menjadi tempat di mana kasih yang tanpa syarat itu dinyatakan. Kita tahu akhir-akhir ini masalah bullying sudah menjadi masalah yang sangat serius dalam pergaulan sehari-hari, baik secara verbal, fisik sampai melalui media sosial. Di luar rumah, kita begitu mudahnya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain dan bahkan sahabat terdekat kita. Ketika pulang ke rumah, kita mengharapkan keluarga dapat menjadi tempat menceritakan keluh kesah dan menolong kita untuk memulihkan luka tersebut. Sayangnya, orang tua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, tidak mempedulikan kita, dan bahkan mereka selalu menuntut kita untuk menjadi orang yang berprestasi tanpa mengerti ‘luka-luka’ yang kita alami dalam pergaulan. Rumah tidak lagi menjadi tempat memulihkan, melainkan tempat di mana kita mengalami semakin banyak luka. Rumah bukan lagi menjadi tempat kita saling menunjukan cinta kasih kepada orang terdekat, melainkan tempat di mana kita saling menambah luka.

Keluarga juga menjadi terluka kerap kali dimulai ketika peran ayah tidak lagi dijalankan dengan baik. Jelas bukan berarti meniadakan figur ibu, namun kita tahu bagaimana sosok kepala rumah tangga berperan sentral. Ayah yang tidak pernah mempunyai waktu untuk membangun relasi dengan anak-anaknya. Ayah yang berpikir bahwa cukup dengan memenuhi kebutuhan materi anak berarti sudah menjalankan perannya. Ayah yang tidak hadir secara fisik akan membuat anak-anak menjadi terluka, begitupula ayah yang hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosi juga akan membuat anak-anak menjadi terluka. Kita tahu bahwa di dunia ini tidak ada satu pun keluarga yang sempurna. Kita semua merindukannya, tetapi tidak satu pun yang memilikinya. Menyedihkannya, kita tidak mampu menyembunyikan dan bahkan menghapus fakta ini.


Shutterstock.com

Pribadi yang Terluka

Saya teringat film The Shack yang saya tonton beberapa waktu lalu. Mack Phillips memiliki pengalaman masa kecil yang buruk dengan ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengurus gereja, tetapi ketika di rumah, dia adalah seorang pemabuk yang suka memukul istri dan anaknya. Mack tumbuh menjadi pribadi yang terluka dan sayangnya dia tidak menyadari hal itu. Setelah menikah, Mack tidak sama seperti ayahnya, dia menjadi seorang ayah yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Luka masa kecilnya mendorong dia untuk berusaha menyembunyikannya dengan cara menjadi suami yang mencintai istri dan anak-anaknya. Namun, peristiwa kehilangan anaknya justru membuka luka lama yang selama ini dia sembunyikan. Dia menjadi seorang suami yang berpusat kepada diri sendiri, sama seperti ayahnya dulu. Luka itu menguasai hidupnya dan secara tidak sadar merusak relasinya dengan istri beserta anak-anaknya.

Keluarga yang terluka menghasilkan pribadi-pribadi yang terluka. Pengalaman tersebut sangat menyakitkan dan kita tentunya tidak mau hal itu terulang kembali. Kita takut ditolak, terlihat bodoh, terluka kembali, dan kebanggaan runtuh. Kita menyembunyikannya dan berusaha agar orang lain tidak mengetahuinya. Mengapa? Salah satunya mungkin karena kita takut orang lain akan bersikap ‘berbeda’ setelah tahu siapa diri kita yang sebenarnya.


Shutterstock.com

Tuhan Tetap Mengasihimu

Setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Kita bisa menyembunyikannya sebaik mungkin di depan manusia, tetapi tidak di hadapan Tuhan. Sekalipun tidak! Dia mengenal kita jauh melebihi siapapun, Dia juga mengetahui setiap luka, kelemahan dan kecacatan yang kita miliki (yang kita kira telah sukses kita sembunyikan). Roma 5:8 mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Tuhan sangat mengenal setiap luka yang kita rasakan dan kasih-Nya kepada kita tidak berkurang sedikit pun karena luka yang kita miliki. Itulah kasih Kristus, kasih yang sejati, kasih-Nya membungkus luka kita dan memulihkannya.

“Nobody escapes being wounded. We all are wounded people, whether physically, emotionally, mentally, or spiritually. The main question is not “How can we hide our wounds?” so we don’t have to be embarrassed but “How can we put our woundedness in the service of others?” When our wounds cease to be a source of shame and become a source of healing, we have become wounded healers.”
Henri Nouwen


Shutterstock.com

Henri Nouwen mengingatkan kita untuk berhenti menyembunyikan luka kita, dan mengajak kita membuka diri terhadap kasih Kristus yang memulihkan. Keterbukaan terhadap luka yang kita miliki adalah awal perjalanan pemulihan kita. Pandanglah salib-Nya yang merupakan bukti cinta-Nya kepada kita. Dia mengasihi kita bukan karena kita lebih baik daripada yang lain, tetapi karena Dia tahu kita (umat manusia) membutuhkan anugerah-Nya yang memulihkan. Kiranya Tuhan memampukan kita menjadi orang yang otentik, hidup di dalam anugerah-Nya sepanjang hari dan bersandar kepada Allah yang tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menjamah kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE