Bukan Rencanaku yang Jadi, Melainkan Rencana-Mu

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 19 April 2017
Ketika kenyataan hidup tak menyenangkan, ketika apa yang terjadi tak sesuai ekspektasi, kita selalu bisa memilih aktif dalam pasrah atau sibuk berbantah.

Seorang pria muda dibawa masuk dengan tergesa-gesa oleh beberapa orang perawat ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi tidak baik. Ia muntah-muntah hebat di sepanjang perjalanan menuju IGD. Setelah ditelusuri lebih jauh, penyebabnya ialah cairan perbersih WC yang diminumnya beberapa jam lalu. Selang beberapa hari kemudian, seorang pria paruh baya masuk ke IGD dengan kondisi yang nyaris sama seperti pria muda tadi. Penyebabnya pun serupa, ia diketahui meminum cairan pembunuh serangga. Kasus percobaan bunuh diri yang kesekian kali telah aku temui dalam selang waktu yang terbilang singkat.

Kadang, saat berhadapan dengan pasien yang mencoba mengakhiri hidupnya (percobaan bunuh diri), aku merasa sangat kesal. Di saat pasien lain berjuang untuk hidup (sembuh), di saat itu pula ada orang lain yang justru berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Setiap kali perasaan kesal itu muncul, sebuah pertanyaan besar menyeruak di benakku,

β€œhal apa yang mereka alami sehingga memilih untuk mengakhiri hidupnya? Beban seberat apa yang mereka tanggung sehingga kematian menjadi jalan terakhir?”

Bukankah kita (manusia) sama seperti mereka? Bunuh diri hanyalah bentuk pelarian diri dan penolakan akan suatu keadaan yang lebih ekstrim. Saat kenyataan hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, "bunuh diri" versi lain kita pilih. Banyak orang merespon dengan pelbagai cara ketika dihadapkan pada kondisi yang tidak mengenakan. Bersembunyi dan berusaha menghindari kenyataan tersebut adalah pilihan yang jamak. Yesus tidak luput dari kondisi serupa saat merespon rencana besar Bapa.

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.
Lukas 22:42

Yesus sangat ketakutan saat seorang malaikat menampak diri kepada-Nya tak lama setelah Ia berdoa. Pilihan telah diambil-Nya.

Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34)

Yesus tidak lari saat diperhadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan bagi-Nya. Sebagai seorang manusia Ia takut luar biasa, namun diri-Nya memilih untuk berserah kepada Bapa dan menghadapinya. Bukankah kita (manusia) seharusnya juga bersikap demikian?

"Melarikan diri" mungkin menjadi hal yang sangat umum dilakukan, terlebih lagi saat beban dan persoalan hidup terasa begitu berat. Namun sama seperti mereka yang mencoba mengakhiri hidupnya, banyak orang lupa bahwa "jalan pintas" tidak membawa kita kepada kebaikan, melainkan justru membawa kita ke dalam dosa.

Sebagai murid Yesus yang meneladani sikap-Nya, hal yang harus kita yakini dan percaya tertuang dalam Roma 8:28 yang tertulis β€œKita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Kenyataan hidup boleh saja tidak menyenangkan, tidak sesuai dengan apa diharapkan, bahkan bertolak belakang dengan apa yang kita yakini. Namun sebagai murid-Nya kita harus mengambil pilihan sikap seperti apa yang Ia tunjukan. Janganlah serupa dengan dunia. Ingatlah bahwa tidak ada segala sesuatu yang terjadi di luar kehendak Bapa. Jadi alih-alih "lari" seperti kebanyakan orang, serahkanlah segala bebanmu kepada-Nya dan berjalanlah bersama-Nya. Kerjakan segala sesuatu yang telah dipercayakan Allah kepada kita karena Ia pasti memberikan rancangan yang terbaik bagi mereka yang percaya dan berserah kepada-Nya.

Selamat belajar berserah dan meyakini kehendak Bapa!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE