Bukan Si Pejuang Hebat

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 28 Maret 2018
Waktu kecil ketika ditanya mau apa saya selalu jawab, “Aku mau membahagiakan semua orang. Semuanya!”

Sebuah jawaban singkat itu telah menjadi dasar banyak perjuangan saya. Secara definisi, perjuangan adalah suatu aksi dalam mencapai tujuan, terlepas dari bentuk dan intensinya. Saya berjuang untuk menggapai impian yang saya miliki ini semenjak kecil; sebisa mungkin membahagiakan semua orang. Sayangnya kadang idealisme itu menjadi perkara yang amat rumit. Apalagi ketika masalah berat mulai singgah. Satu per satu.

Episode 1: Bully-ing Semasa SMP

Di masa saat kebanyakan remaja sedang asik menikmati kebersamaan dengan teman-teman, saya melewati masa SMP dengan penuh kesendirian. Tidak memiliki teman duduk saat di kelas maupun di kantin, saya menghabiskan banyak waktu bersekolah tanpa memiliki banyak lawan bicara. Di masa itu, saya sering menjadi korban bullying seorang teman di kelas. Diejek dengan kata-kata kasar dan dijauhi tanpa sebab, sudah menjadi perlakuan sehari-hari yang harus saya terima. Beberapa kali saya memberanikan diri untuk nimbrung dalam obrolan asik sesama teman sekelas, dan sayangnya berujung gagal hingga membuat saya menjauh kemudian duduk diam dan menangis, mendengar diri saya kembali disebut: “Boneka Ga Penting Pojok Kelas”

Hari-hari itu menimbulkan perasaan iri hati yang mendalam, melihat bahwa saya tidak memiliki hidup seperti teman-teman kebanyakan. Tidak ada tempat untuk menuangkan segala amarah, saya terlatih untuk membenci diri sendiri. Namun suatu ketika, diri saya yang sudah sangat lelah akan perasaan dengki yang mengikuti, mendapat pencerahan melalui sebuah perenungan:

“Nilai diri kamu tidak berdasarkan pada penilaian orang lain. Jika kasih adalah hal yang ingin kamu rasakan, langkah awal untuk mewujudkannya adalah mengasihi dirimu sendiri.”

Saya tidak akan dapat memahami Tuhan yang mengasihi, jika saya tidak percaya bahwa saya berharga di mataNya. Ia telah mengorbankan Anak Tunggal-Nya agar siapapun yang percaya dapat menyebut-Nya Bapa. Dan tidak ada cemooh maupun penolakan dalam sebuah hubungan yang berlandaskan kasih yang sejati. Saya menjadi jauh lebih tegar dan percaya diri setelah mengetahui sebutan sebagai “KepunyaanNya” telah menggantikan “Boneka Ga Penting Pojok Kelas”. Jenis Kasih yang berkorban itulah yang membuat saya merasa menjadi manusia kembali.


Photo by Allef Vinicius on Unsplash

Episode 2: Depresi Berat (Hampir Bunuh Diri)

Pada waktu SMA saya pernah tidak naik kelas. Rasanya bagaikan menerima sebuah hantaman keras, mengingat bahwa saya bukan termasuk dari siswa yang lemah secara akademis. Orang tua saya merasa kecewa bahkan malu. Hal ini telah membawa saya pada suatu perjalanan kelam, dimana saya berpikir berulang kali untuk bunuh diri.

Saya sangat takut membayangkan nasib di hari depan. Saya pernah mengurung diri di kamar selama satu minggu penuh, hanya karena perasaan malu yang tak tertanggungkan. Di masa-masa itu berbagai fantasi jahat semakin kuat menekan. Keinginan untuk mengakhiri hidup saya anggap menjadi satu-satunya jalan keluar yang sanggup melegakan rasa malu yang begitu hebat. Kebencian terhadap diri sendiri kembali menancapkan taring, kali ini lebih kuat dan dalam, sampai titik ketika hidup ini tidak memiliki artinya lagi. Lantai tiga ruang gedung sekolah saya pilih untuk menjadi saksi bisu dalam aksi saya menemui ajal.

Beberapa menit sebelum pertandingan ini berakhir, terdengar suara yang berteriak: “Nggak usah melakukan hal begini nak! Kamu akan melakukan hal baik di masa depan!”

Tuhan tidak kehabisan cara dalam berkomunikasi. Kali ini Ia meminjam raga guru yang dekat dengan saya untuk menghentikan sebuah pembunuhan. Tidak hanya berteriak memanggil, Ia bahkan memberikan sebuah janji dan pengharapan melalui baris kalimat pendek itu.

Tujuh hari setelah gagal melompat dari gedung, Tuhan hadir melalui sebuah flashback yang muncul di kepala saat saya sedang berdoa dan merenung. Pada saat itu di gereja, dan firman yang sedang dikhotbahkan sedang berbicara tentang kesesakan (Roma 12:12). Saat itu juga, saya teringat dengan jelas bagaimana rupanya selama ini tangisan-tangisan seorang diri di dalam kamar, adalah tangisan-tangisan jujur yang Dia selalu dengar dan saksikan. Tuhan tidak pernah sedetik pun meninggalkan; tidak dahulu, tidak di masa depan.

“Bersyukurlah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa”

Dengan segala kesadaran, saya mengerahkan segala kemampuan terbaik untuk menjalani hidup dan memberanikan diri untuk tetap bersekolah di tempat yang sama. Tak lama juga, Tuhan bahkan mengirimkan seorang sahabat untuk memberikan dukungan dan kekuatan di masa-masa yang begitu kelam. Bermacam cibiran, pandangan sebelah mata, bahkan penolakan keluarga, telah siap saya hadapi. Saat pamit berangkat saya bahkan berjanji kepada orang tua bahwa saya tidak akan menjadi sampah keluarga. “Si gagal” ini akan bangkit dan membanggakan keluarga. Itu tekad saya.

Tidak mudah, serangkaian perjuangan untuk kembali berdiri terus mendatangkan ujiannya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan polos namun menusuk hati dari teman-teman, atau beragam persepsi tentang seseorang yang tidak naik kelas, ikut memberikan guncangan bagi saya yang sedang berusaha untuk bangkit kembali. Namun kali ini, saya mengerti bahwa perjuangan terbaik adalah saat Tuhan ikut terlibat. Api yang padam, kembali Tuhan bakar, dan semangat untuk menjadi lebih baik, memberikan daya kinestetik yang memampukan saya untuk dapat berjalan lebih cepat dan lebih jauh. Hari-hari dalam keterpurukan lambat laun diubah menjadi sebuah tekad yang berisi keberanian.


Photo by Miguel Bruna on Unsplash

Merangkul Masa Kelam Dengan Berani

Meskipun kadang terhambat, saya meyakini bahwa rintangan dan pergumulan adalah hal yang wajar ditemui dalam perjalanan mencapai suatu tujuan. Meskipun pernah terpuruk, saya percaya bahwa setiap masalah dapat menjadi proses yang amat berharga. Cibiran dari tetangga ataupun penonton bayaran lainnya, serta tekanan lingkungan dapat menjadi bukti bahwa hidup kita sedang bertumbuh. Dan seperti kita duga, proses itu kerap menyakitkan. Harapan-lah yang membuat segala perjuangan di dalamnya tidak sia-sia.

Masa kelam di SMP dan SMA sempat membuat saya ragu akan impian “membahagiakan semua orang”, Namun, usai melalui tahap pahit saya justru disemangati untuk menghadirkan pengharapan serupa bagi orang lain. Salah satunya melalui keputusan berkuliah di jurusan psikologi. Saya rindu hidup ini akan Dia gunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan dukungan. Untuk kemuliaan nama Tuhan.

Perjuangan dalam iman adalah perjalanan yang mengubahkan bagi setiap kita yang memilih tetap bertahan. Kita tidak lagi menjadi orang yang sama. Saya pribadi melihat diri saya yang sekarang sebagai orang yang lebih berani dan itu hasil penempaan penuh luka. Hidup telah mengajar seorang pendiam ini untuk sekarang berani berbicara di hadapan banyak orang. Selalu siap menyebarkan kasih Tuhan di setiap kesempatan. Pribadi yang depresi dan nyaris bunuh diri itu telah mati, dan sekarang telah bangkit mengikuti Kristus yang hidup.

Mungkin perjuangan saya tidak sebanding dengan perjuangan teman-teman yang lain. Kita semua memiliki pertarungan yang berbeda. Namun satu hal yang dapat kita yakini sama: bahwa Tuhan tidak akan kehabisan api untuk membakar setiap hati yang mau diisi oleh semangat dan kekuatan. Percayailah tuntunan-Nya dan melangkah ke pintu pengharapan yang Ia siapkan. Dan di saat itu, kita dapat mulai kembali memperjuangkan impian yang menunggu di ujung jalan. Tuhan tidak akan tinggal diam jika kita meminta kekuatan dan itu akan lebih dari cukup untuk menjadi daya kinestetik dalam segenap perjuangan.

Salam, dari (bukan) si pejuang hebat.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE