Curhatan Sang Meja Makan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 29 Juni 2018
Melihat perubahan keluarga dari perspektif benda yang selalu hadir di sekeliling peristiwa yang terjadi di dalam rumah. Sadarkah kita bahwa Meja Makan adalah saksi dari banyak yang terjadi pada anggota keluarga? Dia mungkin tidak berbicara, namun ia mendengar, mencium, merasakan, dan melihat. Sekarang, dengarkan ceritanya.

“Perkenalkan namaku Meja Makan. Banyak orang yang mengira setiap meja dapat menjadi meja makan. Tidak salah. Kamu dapat makan di meja apapun dan secara tidak langsung, kamu dapat menyebutnya meja makanmu, bukan? Namun, aku benar-benar diciptakan sebagai sebuah meja makan. Pilihan kayu yang kuat dan diukir sedemikian rupa agar tetap indah dipandang oleh orang yang makan di atasku.”

“Sebuah keluarga menemukanku dari sebuah toko perabotan rumah tangga pada saat mereka baru saja tiba di kota ini. Mereka memutuskan untuk pindah kota setelah sang Ayah, mendapatkan pekerjaan baru dengan upah yang lebih menjanjikan disini. Pada saat itu, keluarga ini memiliki 2 orang anak, Joseph dan Jessica yang masing-masing masih berumur 10 dan 4 tahun. Aku bahkan masih ingat bau cat yang masih baru di rumah ini. Bagaimana semuanya tertata dengan rapi.”

“Semuanya berjalan normal. Mereka sarapan di atasku, seringkali Joseph meminta izin untuk bermain bersama dengan teman-temannya seusai sekolah, Jessica meminta tambahan selai stroberi di rotinya, kadang bahkan mereka tertawa bersama akibat tim sepakbola favorit Ayah yang kalah tanding semalam. Waktu makan malam pun suasana di atasku terasa sangat hangat. Ayah yang cerita tentang klien-nya yang tidak sabaran, Joseph cerita mengenai terpilihnya dia sebagai salah satu pemeran dalam drama di pertunjukkan tahunan sekolah, walau hanya sebagai pohon yang dapat menari, dan Jessica yang menaruh potongan selada pada piring mainan milik boneka teddy bear kesayangannya. Tiap hari aku tidak bosan mencium aroma masakan yang beragam buatan sang Ibu.”



Uploaded by Fancycrave on Unsplash


“Suatu ketika, ada anggota baru di keluarga kami. Dia adalah Jonathan. Awalnya aku benci dengan Jonathan, berkali-kali dia menumpahkan bubur ke atasku. Anehnya, Ibu selalu mengelap permukaanku yang terkena bubur tersebut, tidak peduli berapa kali Jonathan menumpahkan bubur miliknya. Namun, lama-kelamaan, dia semakin pintar. Aku ikut melihatnya tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki kecerdasan. Aku ingat bagaimana ia merangkak di bawahku, bagaimana ia belajar berjalan dengan berpegangan pada salah satu kakiku. Dia memang anak yang menakjubkan.”

“Tahun berganti tahun. Susah dan senang berlalu diatasku. Tentang bagaimana Joseph memenangkan kejuaraan basket bersama teman-temannya. Ugh, keringatnya yang bercucuran membuatku kesal. Jessica semakin mahir dalam bermain biola kesayangannya. Aku ada disana semenjak dia tidak bisa bermain SAMA SEKALI. Bayangkan bagaimana suara biolanya saat ia masih baru belajar. Ia berlatih setiap hari di dekatku dan itu berarti aku harus mendengarkan suara gesekan biola tersebut setiap hari. Itu dulu tapi sekarang aku dapat mendengarkan permainan biola yang indah setiap kali ia latihan di atasku. Aku bersyukur dia berlatih dengan rajin.”

“Siapa sangka waktu berlalu begitu cepat? Joseph telah menyelesaikan sekolahnya dan diterima di universitas yang ia inginkan. Jessica juga berhasil masuk ke grup orkestra terkenal yang berasal dari kota ini sebagai salah satu pemain biola mereka. Ayah terus menerus mendapatkan promosi di kantor setiap tahunnya. Jonathan juga ‘langganan’ juara kelas selama ia duduk di sekolah dasar. Ibu juga mulai menjalankan bisnis merajut kecil-kecilan setelah menonton video tutorial di YouTube. Tampaknya semua berjalan dengan baik, kan? Kalian baru melihat bagian bahagianya saja.”

“Lama-kelamaan, semua mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Joseph sudah mendapatkan seorang pacar dan jarang makan di rumah. Jessica sibuk dengan konser yang akan digelar. Ia selalu berlatih di luar rumah hingga larut malam kemudian langsung tertidur pulas di kamarnya karena letih. Aku tidak pernah lagi mendengar permainan biolanya yang merdu. Ayah jadi sering lembur dan banyak melakukan perjalanan keluar kota. Kadang ia pulang hanya sehari lalu kembali keluar kota besoknya. Ibu sering sekali ikut arisan bersama teman-temannya dan makan di restoran-restoran mewah. Jonathan? Ia selalu makan di dalam kamarnya sambil bermain game konsolnya. Aku semakin jarang dipakai setiap harinya.”



Uploaded by Katherine Chase on Unsplash


“Pernah ada kejadian yang sangat miris. Jessica adalah orang yang pertama merindukan masa makan malam bersama di atasku. Akhirnya, ia berhasil menemukan jadwal yang pas untuk seisi keluarga dapat makan bersama. Saat semuanya sudah duduk di sekitarku, aku terkejut. Tidak ada makanan apa-apa yang diletakkan di atasku. Malahan ini pertama kalinya aku merasakan banyak handphone diletakkan di atasku. Jessica bertanya pada ibunya, tentang apakah sang Ibu tidak memasak apapun untuk makan malam kali ini. Yah, harus ku akui, masakan Ibu memang tidak ada tandingannya. Diluar dugaan, sang Ibu menjawab, “Kita pesan online saja, ya.” Aku merasakan salah satu handphone tersebut diangkat olehnya. Tiba-tiba, handphon Ayah berdering. Ayah izin kepada yang lain untuk mengangkatnya. Katanya sih dari klien. Akhirnya ia berdiri dan melangkah ke ruang tamu untuk berbincang melalui ponsel tersebut. Jonathan kemudian mengangkat handphone-nya sambil mulai membuka permainan dalam ponselnya itu. “Kalau makanannya sudah datang, bilang aku,” katanya sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sesaat kemudian, Joseph berdiri dan mengambil jaket serta helmnya. “Kelihatannya aku tidak dapat ikut makan malam, aku harus menjemput pacarku,” katanya sambil keluar dari rumah. Jessica memandang semuanya itu tanpa tahu harus berbuat apa. Pada saat itu, aku merasakan permukaan atasku basah. Jessica menangis di atasku. Aku tahu bagaimana dalamnya perasaan tersebut. Aku pun ikut merasakan kesedihan tersebut. Namun apa daya, aku hanyalah sebuah meja makan.”

“Aku merindukan masa-masa itu. Dimana semua orang duduk di sekitarku, bercerita dan berbagi tawa. Tidak ada ponsel sialan itu. Aku rindu mencium aroma masakan sang Ibu. Aku rindu mendengar gesekan biola Jessica. Aku juga berharap Joseph mengajak pacarnya untuk makan malam bersama keluarga di atasku. Aku rindu bagaimana Jonathan menggelitik permukaanku dengan mainan mobil-mobilannya. Aku rindu Ayah menaruh korannya di atasku sambil meminum segelas kopi panas. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai aku benar-benar terlupakan, dan di tengah lamunanku penuh rasa rindu aku menyadari bahwa memang secara fisik anggota keluarga itu ada di rumah, namun rasanya mereka tak benar-benar hadir untuk satu sama lain. Mereka berlalu lalang di sekitarku, tanpa banyak percakapan. Hanya, tertunduk dengan urusan masing-masing di luar rumah, hingga aku pikir, rasanya… mereka tak benar-benar pulang. ”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE