Di Saat Pemberian Tuhan Tidak Sesuai Keinginan, Bagaimana Kita Perlu Bersikap?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 26 April 2017
Saat kita merasa tidak puas terhadap apa yang terjadi atau terhadap ‘berkat’ yang diberikan Tuhan, sesungguhnya kita juga sedang menyatakan ketidakpercayaan kita terhadap rencana dan kedaulatan-Nya.

Seorang adik memberi makanan untuk kakaknya. Namun diresponi dengan kalimat, "Yah, kok T*P bukan B*ng-b*ng"...
Di kesempatan berikutnya, sang adik memberi oleh-oleh dari Luar Negeri sebuah baju dan diresponi, "Yah cuman kaos, gue udah banyak"...
Di waktu lain, sang adik merayakan ulang tahun kakaknya untuk pertama kali dengan menyalakan lilin di atas kue tart. Namun kalimat pertama yang diucapkan, "Ngapain beginibegini, gak perlu lah."

Betul memang bahwa pada akhirnya sang kakak tetap menerima semua pemberian adik dan syukurnya masih disertai kata terima kasih. Namun, yang tertulis adalah respon pertama yang ditunjukkan. Mari berimaji jika kita menjadi figur adik dalam cerita tersebut, apa yang kita rasakan? Marah? Kecewa? Sedih? Seolah tidak pernah dihargai.

Tapi Ternyata, Kita Bukan Figur Adik.

Di satu titik aku sadar benar bahwa mungkin sebagian besar dari kita justru memainkan peran sang kakak di hadapan Allah yang telah memberikan begitu banyak kemurahan dalam hidup kita. Kita kerap mempertanyakan.

Seperti ketika Allah memberikan A, kita menggerutu dan bertanya, mengapa bukan B yang kudapat?

Tak jauh berbeda, bangsa Israel yang baru keluar dan diselamatkan dari Mesir, justru bersungut-sungut, bahkan berkata:
"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami dudukmenghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (Kel. 16:3)

Hanya berselang satu pasal, sikap hati bangsa Israel semakin jelas.
“Bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3)
Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Bersinggungan Dengan Dosa Kesombongan

Mungkin ini yang disebut dengan ketidakpuasan, lengkap dengan ketidakpercayaan. Saat kita merasa tidak puas terhadap apa yang terjadi atau terhadap 'berkat' yang diberikan Tuhan, sesungguhnya kita juga sedang menyatakan ketidakpercayaan kita terhadap rencana dan kedaulatan-Nya.

Bukankah hal ini mirip dengan respon Adam dan Hawa saat dilarang makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat? Perasaan tidak puas terhadap apa yang sudah diberikan (seluruh taman Eden), dilengkapi dengan ketidakpercayaan bahwa Allah melarang mereka makan demi kebaikan mereka.

Aku rasa ini awal mula seorang manusia berkenalan dengan yang namanya 'kesombongan' - tidak percaya Allah, tidak puas, dan merasa tahu apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita seringkali mengklaim bahwa 'berkat' Tuhan bukanlah 'berkat' karena tidak lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Tidak sesuai dengan bayangan dan harapan kita.

Bagaimana Respon Allah?

Syukur kepada Allah karena Dia adalah Allah yang begitu Kasih dan Setia. Sungguh, kalau kita membaca dunia Perjanjian Lama, apalagi kitab Hakim-hakim, betapa panjang sabar Allah melihat bangsa Israel yang berulang kali melakukan apa yang jahat di mata-Nya, namun tetap ditolong dan dikasihi ketika mereka kembali berseru.

Lalu Bagaimana Dengan Kita?

Penghayatan akan Paska baru saja kita rayakan, dan itulah momen untuk dapat sekali lagi merenungkan kasih Allah dan berseru dengan kerendahan hati. Bagaimanapun aku yakin, ketika hidup diisi hal yang tidak sesuai harapan, kita selalu punya pilihan merespon. Setidaknya menurutku tiga hal ini dapat dijadikan sikap yang dapat kita ambil dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak sesuai ekspektasi

1. Ungkapkan keluhan dengan mengakui ketidakberdayaan kita di hadapan Tuhan.

Ada kalanya kita tidak bermaksud menyalahkan orang lain atau situasi tertentu apalagi Allah sendiri, terhadap pemberian-Nya. Sikap yang kurang bersyukur seperti figur kakak tak lain adalah ungkapan ketidakberdayaan. Kita -yang sangat terbatas ini- kerap mengupayakan sedemikian agar hidup dapat seturut rencana dan kehendak kita, dan kala hal itu gagal kita menjadi frustasi dan mengeluh. Sudah seharusnya kita menaruh pengharapan hanya kepada Sang Sumber kekuatan. Ketika kita tidak berdaya (dan mengakuinya), saat itulah kita dapat melihat bahwa satu-satunya yang kita butuhkan adalah kekuatan dari TUHAN. Kekuatan untuk menerima kenyataan dan kekuatan untuk menghadapinya.

2. Terima fakta bahwa hidup penuh ketidakadilan dan ganti sudut pandang dengan bersyukur.

Cara sederhana untuk tidak bersungut-sungut adalah menerima kenyataan yang ada dan belajar mensyukuri itu. Ya, memang tidak sesederhana mengatakannya, namun kita perlu terus berproses dan membiasakan diri dalam hal bersyukur. Kemampuan untuk menerima dan mensyukuri memampukan kita pula untuk berdamai dengan alasan mengapa Allah membiarkan hal-hal itu terjadi dalam kehidupan kita.

Bukankah Allah terus berjanji bahwa Ia akan menyertai kita senantiasa pada akhir zaman? Bukankah Allah terus mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kemampuan kita? Bukankah Paulus juga mengatakan justru Kasih Karunia Tuhan nyata saat kelemahan diijinkan terjadi? Percayalah bahwa dengan bersyukur disertai dengan iman bahwa Tuhan berdaulat, hidup kita akan terasa lebih ringan.

3. Kejarlah sesuatu yang lebih penting

Ketika kita mengeluhkan berbagai hal mengenai orang lain dan situasi yang Tuhan ijinkan hadir di hidup kita, kita tidak sedang melakukan apa-apa untuk kehidupan setelah kematian. Bahkan untuk hidup masa kini. Daripada bersusah-susah mengeluhkan pemberian Tuhan berupa perlakuan teman, karakter pasangan, sikap bos, kondisi keluarga, hingga keterbatasan finansial, lebih baik kita fokus kepada hal yang lebih bermakna, seperti melayani dan mengerjakan talenta kita.

Mari sama-sama kita belajar memikirkan apa yang bisa kita lakukan dalam dunia yang begitu singkat ini, sembari terus bersyukur dan berpengharapan hanya kepada-Nya. Hingga kelak kita mengakhiri pertandingan dan Tuhan akan menyambut kita dengan mengatakan “Hai hambaku yang baik dan setia...”.

Adakah yang lebih indah… daripada menjalani hidup dengan damai sejahtera dan mengakhirinya dengan bangga?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE