Dia yang Berbeda, Dia yang Tersingkirkan?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 Februari 2019
Kadangkala seseorang memiliki ke-berbeda-annya tersendiri, tapi tak jarang ke-berbeda-annya tersebut malah membuatnya harus tersingkirkan dari komunitasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk sosial, kita akan diperhadapkan dengan beragam pribadi yang memiliki keunikannya masing-masing, baik secara fisik, mental, karakter, maupun sifat. Tak jarang akan kita temui pribadi manusia yang menurut kita begitu unik dan berbeda daripada umumnya. Tentunya kita akan melihat dan menilainya berdasarkan kacamata pribadi kita. Bukan hal yang mengherankan pula bila suatu komunitas yang terdiri dari beragam ciri manusia yang berbeda menemui masalah pergaulan dalam hubungan sosial komunitas tersebut.

Manusia memang sudah pada hakikatnya memiliki ciri khasnya masing-masing, berbeda satu dengan yang lain. Namun kenyataannya, dalam keseharian, manusia bergaul hanya dengan pribadi yang dianggapnya memiliki kemampuan dan perilaku yang cenderung sama dalam membangun pergaulan. Ketika bergaul, kita sebagai manusia juga akan memilih-milih secara egois pribadi yang kita anggap cocok untuk diajak bergaul atau yang memiliki kesamaan dengan kita. Lalu bagaimana ketika kita menemui sosok manusia yang cukup berbeda dengan kita? Kemungkinan besar kita akan menjauhinya, bahkan menyingkirkannya dari hadapan kita.



Photo by on Unsplash


Apakah sikap kita semacam itu sudah benar? Kurasa tidak! Mengapa? Karena ketika kita diperhadapkan dengan ciri khas manusia yang berbeda, maka kita sedang diajar oleh Sang Pencipta untuk mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di sekitar kita. Ketika, kita menyingkirkan pribadi manusia yang berbeda dengan kita, apakah kita sadar bahwa kita telah menyakitinya?

Ketika aku membuat tulisan ini, aku teringat akan sesosok pribadi bernama Raka (bukan nama sebenarnya) yang merupakan sahabatku di ibu kota. Dia adalah pribadi yang dapat dikatakan amat ramah. Ketika dilahirkan ke dalam dunia ini, Raka memiliki keterbatasan secara fisik, yang membuatnya mengalami kesulitan untuk berkata-kata dengan lancar (gagu). Lambat laun, Raka tumbuh sebagai pemuda yang selalu ingin bergaul dengan siapa saja.



Photo by Unsplash


Tapi, tahukah kamu bahwa tidak ada seorang pun yang mau bergaul dengan Raka? Mengapa itu bisa terjadi? Setiap pribadi yang Raka ajak bergaul, hanya bertahan sementara saja. Tak ada yang mau bergaul lama dengannya karena keterbatasan fisiknya itu. Hingga ketika ia masuk salah satu universitas, Raka mengalami kasus bullying yang amat menyakitkan baginya.

Raka merasa terasingkan dari komunitasnya. Hingga, aku pun mencoba hadir sebagai sahabat yang mau menerima Raka apa adanya. Namun, karena aku harus berkuliah di luar kota, komunikasi kami pun hanya sebatas via media sosial. Aku berharap Raka di sana baik-baik saja dan sudah memiliki komunitas yang mau menerima dan bergaul dengannya.



Photo by Unsplash


Teman-teman, kisah Raka tersebut merupakan gambaran sosok pribadi manusia yang begitu ingin bergaul dan berelasi dengan sesamanya ataupun dalam komunitas, namun mengalami penolakan baik secara halus atau kasar. Lalu, apa hubungannya dengan kita? Mungkin kita bisa coba memeriksa diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi pribadi yang mau menerima kehadiran sosok manusia yang memiliki perbedaan dengan kita? Atau malah kita enggan menerima kehadiran mereka yang berbeda?

Kemudian, bagaimana dengan gereja? Apakah gereja sebagai komunitas orang percaya telah bersedia menerima dan berelasi dengan orang-orang yang nampak berbeda? Kurasa tidak semua gereja memiliki kebesaran hati seperti itu, yang mau menerima dan berelasi dengan siapa saja yang mencoba masuk, terlebih yang nampak begitu beda. Masih banyak yang, sadar ataupun tidak, menutup diri maupun membuat dirinya tidak tersedia untuk menerima kehadiran mereka yang sebenarnya ingin terlibat namun berbeda. Bahkan, jika sudah menerima, apakah komunitas gereja tersebut mau melibatkan mereka dalam berbagai kegiatannya? Silakan dijawab masing-masing dalam hati.



Photo by Unsplash


Sudah sebulan kita masuki tahun yang baru ini, dan di tahun 2019 ini mungkin setiap kita telah mencoba memikirkan atau menuliskan resolusi, apa yang hendak dicapai dalam tahun ini. Nah, coba kita lihat, apakah di dalam resolusi yang direncanakan, kita mencoba memuat hal-hal seperti, “aku ingin berelasi dengan tulus terhadap siapa pun tanpa melihat perbedaan....” atau “aku ingin menjadi sahabat bagi mereka yang tersingkirkan....” Bila tidak ada, belum terlambat kok untuk menambahkannya dalam capaian dan harapan yang ingin kita coba usahakan. Karena mereka atau dia yang tersingkirkan dari komunitas perlu dan butuh kehadiran sosok yang mau menerimanya dengan apa adanya. Bukan ada apanya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE