Empat Pelajaran Berharga dalam Perjalanan Memantapkan Hati

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 10 Februari 2019
Kita yang punya histori keluarga yang kurang baik akan tahu persis perasaan insecure sebagai seorang broken home yang (harus) mulai memikirkan bagaimana membangun new home agar tidak broken.

Dulu saat awal berpacaran, saya pernah bercerita tentang porak-porandanya keluarga saya ke pasangan. Tentang pertengkaran hebat sehari sebelum saya mengikuti tes akselerasi di SMA, tentang sepeda kesayangan saya yang harus dijual karena urusan finansial, dan tentang berbagai hal yang belum pernah saya ungkap sedikit pun ke siapapun selain ke pasangan saya. Responsnya kala itu cukup mengejutkan dan agak membuat sakit hati: “Aku bahkan ga pernah lihat orang tuaku bertengkar”.

Di titik itu saya tahu betapa berbedanya saya dan pasangan, dan kesimpulan sementara yang saya ambil adalah: Kami harus sama-sama belajar untuk berempati. Bertahun-tahun kemudian, saat kami mempersiapkan pernikahan, polemik perbedaan latar belakang kondisi keluarga mencuat kembali.

Kekasih saya yang dibesarkan di keluarga harmonis melihat pernikahan sebagai tugas yang memang tidak mudah, namun masuk akal. Sedangkan saya, hanya dengan memikirkan pernikahan, membuat saya diliputi berbagai ketakutan. Apakah akan berhasil, apakah saya bisa jadi seorang istri dan ibu yang baik, apakah keluarga saya kelak bisa benar-benar memutus rantai pahit hati yang sudah ada?



Photo by Danielle Maclnnes on Unsplash


Toh, walaupun saya merasa sudah berdamai dengan kondisi keluarga demikian, saya tetap diselimuti berbagai kekhawatiran. Bagi saya pernikahan adalah komitmen luar biasa besar, dan tanpa figur pernikahan ataupun keluarga yang baik, mengerjakan komitmen ini menjadi semakin berat. Mungkin ini menjawab berbagai tanda tanya semacam: “Sudah pacaran lama kok ga nikah-nikah?”

Saya selalu menjawab dengan tenang: “Pernikahan bukan perlombaan”. Sebuah kalimat agak diplomatis yang sebenarnya menyembunyikan satu pergumulan: “Rasanya, aku belum siap.”

Saya yakin, teman-teman yang punya sejarah keluarga yang kurang baik tahu persis perasaan insecure sebagai anak broken home yang (harus) mulai memikirkan bagaimana membangun new home agar tidak broken.

Di akhir tahun saya bergumul luar biasa, tentang apakah saya harus menikah dan bagaimana saya harus memulainya. Saya ingin membagi beberapa hal yang saya pelajari selama perjalanan meyakinkan diri sendiri.



Photo by Vlad Bagacian on Unsplash


1. Mencoba Melihat dengan Benar

Atas saran beberapa teman, bulan Januari lalu saya memutuskan mengikuti sebuah konseling Kristen. Hal pertama yang harus kita ingat adalah, counseling is not advice giving. Konselor akan menyimak cerita kita dengan baik, kemudian membantu kita merefleksikan diri kita. Saya suka menyebutnya dengan istilah ‘membantu merapikan pikiran’.

Dari cerita yang saya tuturkan dengan kecepatan tinggi, dia merespons dengan amat tenang dan menemukan bahwa saya sebenarnya juga digelisahkan hal-hal lain. Luka masa lalu sulit dibantah adalah faktor terbesar, namun ada alasan-alasan kecil yang juga memparahnya. Misalnya kemalasan saya untuk mencari dan menghubungi vendor-vendor pernikahan, serta mengatur temu keluarga dari dua suku yang berbeda. Perkara yang terlihat amat ‘receh’ ini sangat bisa menjadi tambahan alasan untuk menyerah. Tapi berita baiknya, mereka adalah alasan yang lebih mudah untuk diatasi lebih dulu.

Menyadari hal itu, saya makin jernih untuk memutuskan bahwa saya butuh mengatur ulang rencana pernikahan dan tidak berkutat pada ‘dream wedding’ jika itu akhirnya menggerus atau sekadar mendistraksi kualitas yang lebih hakiki - the marriage itself.

Poin pertama yang panjang ini sebenarnya ingin menggambarkan betapa pentingnya menemukan masalah; baik yang utama ataupun bumbu-bumbunya, serta berjuang mencari solusi, menghubungi bantuan jika perlu, dan jangan lupa jujur terhadap diri sendiri. Sangat jarang, ketakutan berdiri sendiri. Akui, hadapi, dan buat strategi untuk mengatasinya.



Photo by photo-nic.co.uk nic on Unsplash


2. Pernikahan bukan Perlombaan, namun Langkah Iman

Pernikahan adalah satu pergulatan besar dalam jalan hidup seorang manusia. Bahkan untuk orang yang memilih selibat sekalipun, rasanya pemikiran ini pernah singgah juga di benak mereka: “Aku (perlu) menikah atau tidak”. Saya tidak berkapasitas membahas mengapa harus menikah, apalagi ceroboh hanya menggunakan ayat ‘lebih baik berdua daripada sendirian’. Tapi inilah yang saya yakini: Pernikahan bukanlah perlombaan, namun sebuah langkah iman.

Ada dua hal dalam kalimat itu. Pertama, pernikahan bukan perlombaan. Menyadari salah satu faktor utama berantakannya keluarga saya (dan beberapa keluarga teman saya) adalah pernikahan dengan usia amat muda, membuat saya sejak remaja sudah berujar ke diri sendiri: “Aku akan menikah di usia 27 atau 28.” Saya rasa salah satu rahasia bisa tetap tenang walaupun melihat banyak kawan menikah, adalah mengetahui persis bahwa perjalanan kita yang terasa lambat ini ada tujuannya dan tidak kita isi dengan sia-sia.

Selain itu, dengan tidak terburu-buru, kita jadi punya waktu untuk mempersiapkan diri dan pasangan kita baik secara spiritual dan mental, terkait fisik serta finansial. Banyak hal penting perlu disepakati lebih dulu sebelum ke pernikahan itu sendiri.

“The more issues you can talk about together before marriage, the better” – desiringgod.org

Tapi jangan lupa yang kedua, langkah iman. Pernikahan menjadi satu petualangan yang pasti punya kejutannya sendiri. Entah dari kebiasaan yang baru kita tahu setelah kita menikah, atau kondisi yang tiba-tiba datang dan mengusik segala persiapan yang ada. Saya jadi saksi persis hal macam ini melihat papa saya yang terkena PHK hingga kecelakaan parah. Rumah tangga, akhirnya seperti hidup seorang individu: Penuh kejutan!

Jika kita ingin memastikan segala sesuatu dengan serinci mungkin, persiapan itu bisa saja menghabiskan waktu yang sangat panjang.

Pak Sur, rekan senior yang juga banyak menulis di IGNITE, pernah suatu kali saat makan siang berpesan ke saya tentang pernikahan dan hal-hal yang bisa mengejutkan di dalamnya: “You have to embrace it”. Iya, saya rasa itulah yang perlu kita latih: merangkul segala sesuatu di masa depan dengan iman.



Photo by Jason Leung on Unsplash


3. Melihat Kualitas Pasangan dan Menguji Kualitas Kasih

Sama seperti tugas di pekerjaan membuat kita tahu bagaimana etos kerja rekan kita, sama seperti kebangkrutan keluarga membuat kita melihat kualitas kasih orang tua kita, masa ragu dalam persiapan pernikahan juga adalah kesempatan untuk melihat diri pasangan kita.

Saya sendiri bersyukur dengan kesabaran pasangan saya untuk memberi waktu dan kemauannya menolong saya mengatasi segala keraguan. Saya tidak bisa membayangkan betapa memusingkannya jika saya memiliki pasangan yang tergesa-gesa untuk menikah, yang tidak menolerir saat-saat bergumul, yang tidak berempati terhadap bayang-bayang masa lampau keluarga saya.

Selain itu, masa penuh gejolak juga melatih kita mempraktekkan kasih yang melampaui segala kondisi. Kasih yang berdasarkan komitmen dan bukan hanya perasaan. Bagaimana tetap peduli dengan pasangan walaupun dia sedang sangat menyebalkan dan terjebak masalah karena dirinya sendiri, atau bagaimana bersedia membahasakan kasih dengan ekstra sebab tahu itulah yang sedang dibutuhkan.

Masa sulit kita akan memperlihatkan bagaimana diri kita sendiri, itu benar. Tidak berhenti di sana, masa sulit kita juga akan menunjukkan kualitas orang terdekat kita dan kasih kita satu sama lain.



Photo by Manuel Meurisse on Unsplash


4.Jangan Lupa Rahasia Terbesar Ini: Tuhan Beserta

Melihat fakta saya sudah diizinkan sekota dengan pasangan di tahun persiapan pernikahan, menyadari betapa selow-nya keluarga besar saya yang hampir tidak pernah mengusik dengan pertanyaan: “Kapan menikah”, dan menemukan bacaan bagus, konselor yang baik, serta teman yang mau memberi masukan konstruktif adalah beberapa hal yang saya perhitungkan sebagai kebaikan Tuhan.

Menyadari bahwa Tuhan hadir, Tuhan mengasihi kita, dan Tuhan berkuasa, adalah satu fakta yang sangat menentramkan. Karena kita tahu persis, kejutan hidup yang kadang mencengangkan dan luka masa lalu tidak akan lebih besar dari kehadiran, kasih, dan kuasa-Nya. Tuhan memampukan kita, di pahit atau manis hidup, dan segala sesuatu di antaranya.

Tanpa menyadari itu, pernikahan adalah rimba yang terlampau buas untuk kita tapaki, terlebih bagi kita yang pernah terluka.



Photo by Sunyu On Unsplash


Setelah saya pikir-pikir, empat hal yang saya pelajari dan bagikan ini ternyata bukan hanya berlaku tentang pergumulan pra-menikah. Tentang menjadi jujur dengan diri sendiri, tentang mempersiapkan segala sesuatu dengan iman tanpa terburu-buru, dan tentang mengenal kualitas rekan di masa sulit, semuanya berlaku untuk macam pergumulan yang lain. Pekerjaan, pertumbuhan karakter, atau komitmen pelayanan. Terkhusus nomor empat, tidakkah kita semua sepakat bahwa mengetahui Tuhan berdaulat adalah satu jenis kedamaian-melampaui-segala-akal yang terpenting dalam menjalani hidup ini?


Baca juga http://www.ignitegki.com/best-regards/seni-berelasi-101/

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE