Fanatik Boleh, Goblok Jangan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 02 Oktober 2018
Dengan berpikir dan bertindak lebih bijak, kita sudah berhasil menjadikan kefanatikan yang goblok itu masuk ke dalam chapter ‘in memoriam' dalam perjalanan hidup kita.

“Fanatik boleh, goblok jangan.”


Kalimat tersebut keluar dari salah seorang rekan kerja, menanggapi kejadian yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat awal pekan ini. Seorang suporter yang meregang nyawa karena dikeroyok secara membabi buta oleh kelompok suporter rivalnya. Miris. Harus seperti inikah simbol kefanatikan itu dikaryakan?

Sepakbola seolah menjadi dasar negara yang kedua setelah Pancasila bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka pasti lebih hafal menyebutkan siapa nama striker di tim ini tim itu daripada nama menteri ini menteri itu. Atau mungkin gosip mengenai pemain bola mana yang saat ini menjadi idola baru rakyat republik ini daripada membahas soal apa saja pencapaian atau kegagalan pemerintah yang sedang menjabat saat ini.

Sepakbola adalah hiburan yang menjadi nafas dan hidup atas getirnya kekonyolan yang terjadi di kalangan elit pemerintahan. Namun sayangnya, sekarang malah masyarakat sepakbola sendiri yang berbuat konyol. Duh...



pexels.com


Kematian suporter Persija Jakarta kemarin cukup menjadi pelajaran dan semoga menjadi preseden yang terakhir bagi dunia persepakbolaan Indonesia. Jangan sampai cita-cita mulia bangsa ini untuk masuk ke Piala Dunia menjadi terhambat karena tindak suporternya sendiri yang kampungan. Jika memang kefanatikan itu merupakan hal yang hakiki bagi seorang suporter, maka lakukanlah bagianmu untuk mendukung tim kesayangan daripada menjadi eksekutor nyawa seseorang.

Apa pernah Tuhan meminta Petrus mencabut nyawa pengawal yang menangkapnya di taman Getsemani? Kuping yang sudah terlanjur diputusin Petrus aja dikembaliin normal sama Tuhan, masa kita yang manusia biasa sampai tega mengambil nyawa orang?

Memang sih, sebagai netizen kita hanya bisa mengutuk, prihatin, dan mencoba memberi pandangan positif terkait kejadian tersebut. Kita tidak pernah berada di sepatu yang sama dengan mereka yang ada di tempat kejadian perkara waktu itu. Tapi, dengan logika berpikir yang sama, kita pernah loh menjadi seperti mereka. Menjadi suporter fanatik satu pihak sampai tega menjudge dan menjelek-jelekkan pihak lain. Waktu kapan sih itu?



pexels.com


Pertama dan yang paling mudah ditelusuri, apakah kita pernah menjadi ‘relawan jurkam' salah satu calon presiden peserta pemilu 2019? Coba cek feed sosmed masing-masing untuk, ngeliat ada yang fanatik gak disitu?

Kemudian yang kedua, dan, menurut saya, yang paling personal. Menjadi fanatik untuk menjatuhkan mereka yang pernah mempunyai sejarah kelam akan masa lalu kalian. Berbagai upaya untuk menjatuhkan orang itu akan terus dilakukan. Apapun harga yang harus dibayar asal orang itu bisa kena batunya. Apakah itu bukan bentuk kefanatikan yang berlebihan akan kebencian yang disalurkan melalui cara yang kurang tepat?


Memang enak sih membalas itu. Hihi...


Tapi sialnya, kita yang sedang membuka web ini seolah sudah dipatrikan sejak awal, kita ini masih anak-anaknya Tuhan lho. Masa iya sih kita seperti itu?

Tidak harus hafal dan sudah meresapi seluruh isi alkitab buat jadi anak-Nya. Namun, dengan berpikir dan bertindak lebih bijak, niscaya Dia sendiri akan tersenyum dengan sikap kita. Memang belum pernah sih melihat Tuhan tersenyum itu seperti apa. Tapi setidaknya, kita sudah berhasil menjadikan kefanatikan yang goblok itu masuk ke dalam chapter ‘in memoriam' dalam perjalanan hidup kita. It's worth to try.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE