Film The Shack, Sebuah Refleksi Personal

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 11 September 2017
Terlepas dari kontroversi tentang pemilihan gender pemain, aku pikir film ini apik untuk menyuguhkan konsep karya Allah Tritunggal dalam bahasa yang sederhana.

Film yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul yang sama ini telah mencuri hatiku. Ditulis oleh William Paul Young, seorang anak dari pendeta/misionaris dari Kanada, novel tersebut kemudian menjadi novel dengan penjualan terbaik New York Times di tahun 2007.

Tokoh sentral di sepanjang film The Shack, dari awal hingga akhir ini seorang pria bernama Mackenzie Phillips atau yang biasa dipanggil Mack oleh orang di sekitarnya. Karakter Mack diperankan oleh aktor Sam Worthington yang dikenal sebelumnya di film Avatar, Terminator Salvation, Hacksaw Ridge.

Mack adalah seorang ayah yang memiliki keluarga yang sempurna. Ia memiliki seorang istri yang taat kepada Allah dan selalu mendukungnya, dan ia juga dikaruniai anak-anak yang hangat dan menyayangi Mack. Istri Mack memanggil Allah dengan panggilan akrab “Papa”, dan panggilan akrab itu juga diturunkan kepada anak-anaknya. Namun, masa lalu seorang Mack tidak sesempurna kehidupannya sekarang. Ia dibesarkan oleh ayah yang pemabuk dan sering berbuat keras kepada Ibunya, tidak jarang juga kepadanya. Perlakuan keras dari figur ayah tersebut masih tersimpan dan tanpa sadar belum sepenuhnya pulih.


Perlakuan keras ayah Mack

Hingga sampai di suatu peristiwa, anak paling kecil yang menjadi anak kesayangan Mack harus mati karena diculik dan dibunuh. Berawal dari ia dan ketiga anaknya sedang berkemah di pinggir danau. Kedua anak Mack meninggalkan Mack dan anak yang paling bungsu untuk bermain kano di danau. Karena kedua anak yang bermain kano ini bercanda sehingga menyebabkan kano terbalik di tengah danau dan mereka kemudian tenggelam. Mack yang melihat kejadian ini segera menceburkan diri ke danau untuk menyelamatkan mereka, dan meninggalkan anak bungsu nya di tepi.

Setelah ia berhasil menyelamatkan kedua anaknya yang nyaris tenggelam di danau, Mack menyadari bahwa anak bungsunya tidak ada di tempat awal. Ia pun menjadi panik dan meminta bantuan kepada orang di tempat perkemahan dan polisi setempat untuk menolong menemukan anak bungsunya. Selang beberapa saat setelah itu, polisi menemukan pakaian anak bungsu Mack berlumuran darah tergeletak di sebuah pondok. Polisi menduga anak bungsu Mack menjadi korban seorang penculik yang sudah lama menjadi buronannya.


Pakaian anak bungsu Mack

Berawal dari Mack kehilangan anak bungsu yang sangat disayanginya, ia mulai mempertanyakan tentang kasih Allah kepadanya. Ia yang sebelumnya rajin beribadah mulai menjauh karena ia kecewa kepada Allah. Ia berpikir ia telah berbuat kebaikan di sepanjang hidupnya, tetapi Allah telah berbuat tidak adil kepadanya. Ia menyalahkan Allah atas peristiwa kehilangan anak yang menjadikan kesayangannya. Sampai ia mendapat surat misterius dari Papa yang mengundangnya untuk ke pondok dimana pakaian anak bungsunya yang berlumuran darah ditemukan, yang menjadi sumber kekecewaan Mack kepada Allah. Di tengah masa berduka, sebuah surat misterius datang. Secarik kertas yang berisi undangan agar Mack singgah ke sebuah pondok di tengah hutan.

“When all you can see is your pain, you will lose sight of Me”

Ketika Mack memilih menerima undangan tersebut, di sinilah Allah mulai mengenalkan pribadinya dan menunjukkan karya-karya-Nya kepada Mack. Tentang bagaimana Ia bekerja di kehidupan Mack. Allah menyertai di setiap saat kehidupan Mack termasuk ketika Mack kecil dicambuk di bawah pohon oleh ayahnya. Allah menuntun Mack membereskan satu demi satu hal yang menjadi kekecewaan Mack kepada Allah. Tentang bagaimana Ia senantiasa menunjukkan kasihNya kepada setiap orang walaupun ia telah berbuat dosa sekeji apapun. Allah mengajarkan pengampunan kepada Mack untuk orang yang telah mengambil kebahagiaannya.

“Forgiveness in no way requires that you trust the one you forgive. Forgiveness is not about forgetting. It is about letting go of another person’s throat.”

Film ini berbicara tentang ke-Tritunggal-an Allah, namun dikemas dalam pemahamam yang tidak terlalu rumit. Terlepas dari kontroversi tentang pemilihan gender pemain, aku pikir film ini apik untuk menyuguhkan konsep karya Allah Tritunggal dalam bahasa yang sederhana. Tiga tetapi satu. Satu tetapi terdiri dari 3 pribadi yang menjalankan 3 fungsi yang berbeda. Bagaimana Tritunggal bekerja di dalam kehidupan pribadi manusia, tanpa saling tumpang tindih. Allah Bapa sebagai Sang Pencipta, Allah Anak sebagai yang selalu menyertai, dan Allah Roh sebagai yang selalu berkarya dengan kondisi baik maupun buruk.

Kita seringkali kecewa, marah, membenci, dan bahkan tidak mau kembali lagi kepada Allah hanya karena apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan apa yang telah terjadi. Kita mendadak menjadi hakim di dalam kehidupan kita, bisa memutuskan ini adalah buruk dan ini adalah baik, ini akan masuk sorga dan ini akan masuk neraka berdasarkan atas apa yang telah kita lihat, berdasarkan apa yang telah terjadi di hidup kita. Kita memakai ukuran menurut pemikiran kita yang kemudian menggunakan ukuran itu untuk dipakaikan kepada orang lain. Jika itu tidak sesuai dengan pemikiran kita, maka mereka menjadi tidak layak.

“Selalu lebih baik ketika kita melakukannya bersama, ya kan”

Ini adalah quotes favoritku di sepanjang film ini, yang diucapkan Yesus kepada Mack, ketika Mack mencoba berjalan di permukaan air namun ia gagal. Mack memang pernah berjalan di permukaan air sebelumnya, tapi Mack lupa bahwa saat itu ia berjalan bersama Yesus. Seringkali aku juga seperti Mack, mencoba menghadapi setiap tantangan yang datang kepadaku dengan kekuatanku dan pikiranku sendiri tanpa melibatkan Allah di dalam usahaku, karena aku berpikir bahwa aku telah mengalami ini sebelumnya dan aku telah berhasil melewatinya, tetapi aku lupa siapa yang menolongku, aku lupa siapa yang menopangku di saat-saat itu.

Bukankah memang terasa lebih baik ketika kita melakukannya bersama MEREKA kan?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE