Freddie Mercury yang Menanti untuk Ditampar

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 12 November 2018
Is this the real life? Is this just fantasy?
Caught in a landslide, no escape from reality

Bohemian Rhapsody, sebuah film yang membawa pesan berbeda-beda bagi mereka yang telah menontonnya, termasuk diriku. Plot cerita membawa diriku dalam fantasi layaknya anak muda yang mengejar idealisme, salah satunya menjadi terkenal lewat musik. Memiliki album rekaman, lagu yang diperdengarkan lewat industri media, punya fans dan punya konser sendiri, tentu menjadi impian bagi mereka yang bergelut dalam dunia musik. Semua itu telah didapatkan Freddie Mercury, vokalis dari band Queen, bahkan lebih dari itu ia juga menjadi kaya raya dan punya kekasih yang sangat mengasihinya.

Mencapai idealisme ternyata bukan petanda mencapai kebahagiaan, hal itulah yang mungkin bisa digambarkan dari kehidupan Freddie. Kosong, walaupun ia telah memiliki rumah mewah, dapat berpesta pora setiap waktu, banyak rekan-rekan yang menemaninya, ia tetap merasa ada yang janggal dalam hidupnya. Berada dalam ruang gemerlap dengan kehampaan adalah gambaran yang terbayang dalam benakku.




“di dalam keramaian aku masih merasa sepi…”

Potongan lirik dari band legendaris Indonesia, Dewa 19, yang karya-karyanya banyak terinspirasi oleh Queen, seolah menjadi sebuah penggalan rasa yang mungkin bisa dikaitkan dengan Freddie Mercury. Merasa hampa dalam gemerlap kehidupan, sangat mungkin dialami oleh banyak orang, baik mereka orang terkenal maupun orang biasa seperti kita. Michael Jackson, yang juga seorang “raja” dalam genre musik berbeda dengan Freddie, mengalami kejayaan dalam karir bermusik, namun tak luput menyimpan tekanan berat. Chester Bennington, vokalis dari band Linkin Park, tentu jeritan suaranya pernah didengar oleh banyak anak muda namun ia ternyata bunuh diri saat puncak karirnya.

Mungkin kita atau orang-orang di sekitar kita pun pernah mengalami rasa hampa dalam gemerlap kehidupan. Orang yang nampaknya tertawa keras ketika nongkrong seusai ibadah, bisa jadi ia sebenarnya sedang menutupi kesedihan. Ia yang pergi ke kelab malam, mungkin saja ia berusaha mencari kemeriahan, walaupun pada akhirnya jiwa merasa sepi. Mereka yang nampak bahagia menengguk alkohol dan menghisap ganja juga mungkin sedang merasa rapuh. Semua orang pun dapat merasakan hal yang sama, walaupun dengan pengalaman yang tak sama.




Fear is how I fall. Confusing what is real

Takut membuat pilihan dan bingung akan apa yang baik bagi diri sendiri, sepertinya menjadi salah satu rasa yang dihidupi bagi mereka, penghuni ruang kosong. Sangat disayangkan dalam ketakutan dan kebingungannya, Freddie justru ditemani oleh rekan-rekan yang memanjakannya dengan alkohol, ganja dan pesta seks. Dalam ruang gemerlap tersebut, justru band Queen vakum, tak ada teman-teman sejati dulunya kerap yang memarahinya ketika salah, Freddie pun merasa kosong dalam kenikmatan semu di sekelilingnya.

Entah nyata atau atau hanya sekedar plot buatan dalam film, Mary Austin, kekasih heteroseksual Freddie kembali mencarinya, memarahinya, memberikan “tamparan keras” bagi Freddie agar sadar dari keterpurukan. Lewat “tamparan keras” tersebut Freddie tersadar akan berbagai kesalahannya, ia dapat mengingat lagi kenikmatan bermain bersama dengan teman-temannya, kembali berelasi dengan keluarga yang selama ini ditinggalkannya dan juga terpacu untuk berkarya lebih baik. Barangkali inilah yang dibutuhkan Freddie serta sebagian orang dalam ruang kosong, yaitu “tamparan” yang membuat sadar di mana kita sekarang berada dan hal apa yang seharusnya kita lakukan, bukan sekedar buaian yang makin memanjakan diri akan ketidaktahuan.

Kutipan Amsal 27:17 tentu menjadi nats yang sering kita baca, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”. Secara sekilas, analogi pisau, sebagai besi yang kita sering gunakan dalam kehidupan sehari-hari akan nyaman digunakan dalam kondisi tajam, bisa memotong benda yang kita inginkan. Namun seiring penggunaan terus menerus akan ada momen pisau besi tersebut menjadi tumpul dan itulah momen yang tepat untuk menajamkan kembali, salah satu caranya adalah diasah dengan besi lainnya. Begitu pula dengan manusia, di kala “tumpul” karena rasa takut dan bingung maka perlu ada orang lain yang “menajamkan”, menampar, dan mengingatkan agar kembali menjadi individu yang “tajam” dan siap menghadapi realita. Terlebih kita sedikit banyak mengenal ajaran kasih Kristus, tentu bisa pandu arah hidup yang tepat bagi mereka.




When weary, tell me will you hold me
When wrong, will you scold me
When lost will you find me?

Walaupun sempat diabaikan oleh rekan-rekan band, beruntung Mary Austin hadir untuk mencari, menampar, dan menghardik Freddie Mercury hingga ia tahu apa yang harus dilakukannya. Masih banyak orang di sekitar kita yang berada dalam ruang hampa dan kita tidak mengharapkan mereka benar-benar hilang terlebih dahulu keberadaannya layaknya Michael Jackson maupun Chester Bennington. Bukan hal yang buruk untuk pergi ke kelab malam menjemput teman kita yang sedang galau, begitu juga mendengarkan celotehan teman yang mabuk karena masalah keluarga, karena sebenarnya mereka menanti untuk dicari dan ditampar agar sadar dari kehampaannya. Sebaliknya, ketika kita merasa ada di posisi seperti Freddie Mercury yang tersesat dalam ketakutan dan kebingungan, kita perlu mencari orang yang sekiranya bukan memanjakan diri kita, melainkan bisa menggiring kita dalam kesadaran penuh.




Kita perlu mempertajam kepekaan kita untuk merasakan gambaran “Freddie Mercury” lain di sekitar kita yang menanti untuk ditampar serta ditajamkan agar dapat kembali bersinar. Jika kita adalah sosok “Freddie Mercury” yang sadar akan kehampaan disertai rasa takut dan bingung, maka giliran kita yang mulai mencari orang-orang yang berani tegas memarahi, memaki dan menghardik kita agar kita paham bahwa kita menanti untuk menjadi tajam kembali.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE