Generasi Berdasi, Pencarian Pengakuan, Dan Pemurnian Motivasi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Maret 2017

Bripda Ismi Aisyah seorang gadis asal Cirebon yang berhasil membuat heboh netizen di dunia maya. Kecantikannya berhasil memalingkan perhatian masyarakat di tengah berita serangan teror di kota Bandung. Beredarnya berita tentang Bripda Ismi Aisyah juga sekaligus menjadi bukti bahwa saat ini seseorang diakui bukan lagi karena kesuksesan atau hidupnya yang berdampak tetapi karena ngehits di mata dunia ini. Seseorang dapat dikatakan ngehits karena kecantikannya, banyaknya followers atau bahkan karena perilaku isengnya.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pengakuan menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Tanpa adanya pengakuan, mungkin para penemu teknologi akan menyerah dalam melakukan penelitian yang menghabiskan waktu, uang dan tenaga. Mungkin sekolah-sekolah tinggi tidak akan memiliki tenaga pengajar yang cerdas dan berkualitas. Dan mungkin kita tidak akan pernah mendengar lagi kisah pengusaha sukses yang memulai usahanya dari nol. Itulah mengapa tepat rasanya untuk menggolongkan pengakuan sebagai sebuah guilty pleasure. Menyenangkan namun mudah masuk pada keberdosaan.

 

Pengakuan Dapat Menjadi Begitu Sia-Sia

Fokus hanya pada meraih pengakuan akan menimbun kesombongan diri dan keangkuhan hidup. Dampaknya bahkan mampu merusak relasi kita dengan sesama karena kita menjadi terlalu sibuk dengan diri sendiri.

"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.."
Filipi 2:3

Kutipan ayat di atas merupakan nasihat Rasul Paulus ketika ia melihat ancaman bagi kesatuan jemaat di Filipi, yaitu sikap mementingkan diri sendiri, menganggap diri lebih baik dan lebih hebat daripada orang lain. Orang-orang seperti ini begitu egois dengan dirinya sendiri, sulit bekerjasama dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain.

 

Kepentingan Yang Dimanipulasi

Ketika terjadi suatu peristiwa entah itu bencana alam maupun suatu kejadian yang menghebohkan maka postingan dengan tagar pray for… (#prayfor…) akan menjadi begitu populer di dunia maya. Ada dua kemungkinan dari sana. Pertama, seseorang benar-benar peduli akan peristiwa yang terjadi dan rindu menggugah orang lain untuk memiliki kepedulian serupa. Kedua, diam-diam bermaksud agar setiap orang yang membaca postingan tersebut menilai bahwa sang pemilik akun merupakan seorang yang peduli, empati dan berjiwa besar.

Tidak perlu menghakimi orang lain, saya mengakui bahwa saya sendiri kerap memanipulasi kepedulian palsu demi mendapat pandangan baik dari orang lain. Namun panduan kita jelaslah Firman Allah.

"Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Filipi 2:4

Sudah seharusnya kita mempraktekkan kasih yang otentik dan bukan kepedulian palsu penuh egoisme.

 

Mengosongkan Diri Seperti Kristus
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."
Filipi 2:5-7

Inilah tanggapan Rasul Paulus atas ancaman yang terjadi dalam jemaat Filipi. Ia mengajak segenap jemaat Filipi untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.

Mari mengingat bagaimana Yesus merendahkan diri-Nya, Ia rela melepaskan identitasnya dan mengosongkan diri-Nya, walaupun Ia sendiri adalah Allah. Ia bahkan taat menanggung siksaan dan mati di kayu salib supaya kita -manusia yang berdosa ini- diselamatkan.

Merendahkan diri memang tidak mudah karena nature manusia itu sendiri haus akan pengakuan dari orang lain. Namun mari sedikit mengubah sudut pandang kita. Bukankah lebih indah jika kita diakui ketika hidup kita menjadi teladan, menginspirasi dan berdampak bagi sesama, daripada kita diakui karena menunjukkan kelebihan dan rupa kita.

Layaknya dasi yang menggambarkan status kehormatan, profesionalisme atau kesuksesan seseorang, gunakanlah dasi yang benar! Jadilah GENERASI BERDASI (BERdampak DAlam relaSI) dan berbuah bagi sesama.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE