Generasi Pembaharu Bangsa: #GarudaFellows

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Januari 2018
Sebenarnya tidak ada yang perlu diruncingkan soal perbedaan, hal tersebut justru menjadi sebuah harmoni yang dapat melengkapi satu sama lain.

Pernah Kecil. Film yang bercerita tentang seorang pemuda yang memandang segala sesuatu di sekitarnya berdasarkan prasangka dan asumsi. Orang dengan keyakinan berbeda akan dipandangnya sebagai kafir. Pemeluk kepercayaan tertentu dilihatnya sebagai teroris. Anggota suku tertentu diyakininya sebagai pembuat onar. Namun pertemuan dengan seorang anak kecil mengubah cara pandangnya atas perbedaan.

Resensi mengenai film pendek yang kami buat ini mengantarkan kami ke dalam sebuah pertemuan dengan para filmmaker dari berbagai penjuru Nusantara yang digagas oleh warganegara.org dan Gerakan Kebangsaan Indonesia. Acara tersebut diadakan di Jakarta selama 3 hari 2 malam. Oh iya, kata ‘kami’ merujuk kepada sebuah komunitas film dari Kota Pahlawan yang memilih untuk menamakan dirinya Kami Tidak Penting. Kenapa? Karena bagi kami, kamu adalah alasan bagi kami untuk terus menjaga lilin semangat dalam berkarya agar terus terang dan menyala. Okey lanjut..

Seminar yang bertajuk ‘Generasi Pembaharu Bangsa #GarudaFellows’ ini diadakan pada tanggal 12-14 Januari 2018 dengan pusat kegiatan di Kota Tua Jakarta. Secara pribadi, saya melewatkan sesi I karena baru sampai di lokasi acara pada tanggal 12 malam karena masih harus bekerja sampai sore hari. Saya masih penasaran bagaimana Bapak Maruarar Siahaan menceritakan kisahnya di dunia birokrat pada sesi tersebut.

Keesokan harinya, 13 Januari 2018, para peserta diajak untuk mengunjungi 2 tempat peribadatan yang lokasinya sangat berdekatan, hanya dipisahkan oleh jalan raya, zebra cross, dan bunyi tet tot tet tot sebagai penanda bagi penyebrang jalan raya. Yap, tempat tersebut adalah Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal.


Credit: Panitia Dokumentasi Acara

Kami diajak berkeliling di masing-masing tempat tersebut. Sejarah menjadi pembuka cakrawala bagi kami bahwa masing-masing tempat tersebut menjadi sebuah pertanda bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu diruncingkan soal perbedaan, hal tersebut justru menjadi sebuah harmoni yang dapat melengkapi satu sama lain. Toleransi yang terjadi antara kedua tempat tersebut bukan hanya sebagai sebuah monumen yang hanya bisa dikenang, melainkan sebuah selimut yang berfungsi untuk saling menghangatkan satu sama lain.

Selepas dari kunjungan ke dua tempat tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi sharing bersama seorang aktivis antikorupsi. Beliau adalah seorang wanita yang cerdas serta open minded, dan she is Arek Suroboyo and came from an interfaith family just like me, what a surprise! Her name is Lia Toriana. Beliau bercerita soal bagaimana menjadi seseorang yang bisa menjadi bagian dari masyarakat. Bukan hanya menjadi bagian dari sekelompok masyarakat, tetapi juga turut memberikan dampak. Namun, berpikir dan bertindak bagi masyarakat jangan sampai kebablasan hingga menjadikan diri sendiri seperti sapi perah. Kenali diri dengan baik dan mengerti apa yang ingin kamu capai kemudian lakukanlah! If you want something, you have to earn it.


Credit: Panitia Dokumentasi Acara

Di hari terakhir, panitia mengundang seorang seniman yang relevan dengan background peserta dari acara ini. Beliau adalah pemeran Aming di film Cek Toko Sebelah yang juga mempunyai rumah produksi sendiri: Edward Suhadi. Beliau membagikan kisah tentang bagaimana perjuangan hidup di dunia audiovisual. Bagaimana cara memproduksi film juga tak lupa disampaikan olehnya. Kami bahkan memperoleh bonus untuk menjadi penonton pertama akan karya beliau yang akan dirilis sebentar lagi. Sungguh sebuah materi yang sangat, sangat, sangat bisa membantu teman-teman peserta untuk memproduksi film dengan lebih baik lagi. Kemudian seperti layaknya pembicara dalam sebuah seminar, tak lupa beliau memberikan petuah bagi kami. Kira-kira begini bunyinya,

Sorry to say, tapi kalian harus tau kalau sebenarnya gak ada yang peduli sama kalian. Gak ada yang peduli sama karya kalian.”

Petuah yang beliau berikan seperti sebuah rambu-rambu bahwasanya sebagai seorang seniman, jangan pernah terlalu cepat puas dengan karya yang telah dibuatnya. Siapkan pola pikir bahwa kita masih punya banyak pekerjaan rumah untuk berkarya lebih baik dan lebih baik lagi. Agar orang-orang sadar, peduli, dan menjadi terberkati dengan karya-karya kita.


Credit: Panitia Dokumentasi Acara

Inspirasi dari senior Pak Maruarar, rekan sejiwa Mbak Lia, serta mentor dalam hal kesamaan passion di dalam diri Edward Suhadi seolah menjadi hidangan yang sedap untuk melangkah di awal tahun 2018. Semoga para peserta yang telah kembali ke rumahnya masing-masing tetap menjaga semangatnya dalam berkarya bagi Nusa dan Bangsa. Gagasan untuk menjadi seorang seniman atau apapun itu pun hendaknya nanti bisa diwujudnyatakan serta dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat. Bukan hanya kami yang menjadi peserta acara ini, tapi kamu yang membaca artikel ini juga mempunyai gugus tugas yang sama untuk melakukannya. Salam Garuda!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE