Gosip Beserta Sepaket Kerugian Yang Mengikutinya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Maret 2017
 

Kita tidak bisa memungkiri, bahwa ucapan adalah sesuatu yang powerful dan berdampak. Seperti pedang bermata dua; ucapan dapat membangun atau meruntuhkan hidup seseorang. Semua kembali lagi ke maksud di dalam hati dan pikiran. Intensi yang baik selalu ingin menolong dan intensi yang buruk hanya ingin menjatuhkan. Namun permasalahan dalam berkata-kata tidak hanya sampai di titik niatan saja. Dari suatu lidah yang tak bertulang, masalah besar dapat terjadi. Dari retaknya hubungan, pecahnya komunitas, hingga hancurnya persatuan sebuah bangsa. Bukan hanya kata-kata negatif, namun juga masalah lidah yang lain: gosip.

Kerap kali ia yang bernama gosip itu menjadi perusak hubungan yang merepotkan untuk dihadapi. Hubungan yang dijalin dalam hitungan tahun, runtuh seketika, akibat kebiasaan mengoceh yang tak tertahan. Tanpa menyisakan kebaikan dalam kehadirannya, dia yang bernama GOSIP selalu berdiri terakhir, dan tertawa di atas reruntuhan. Terlihat remeh dan kadang menyenangkan, namun mari kita berpikir ulang. Sebab, saat berususan dengan gosip, kita selalu yang rugi.

 

Kerugian Waktu

Jika ada sesuatu yang sangat mahal harganya dan telah dirampok oleh kebiasaan non-produktif ini, maka tak lain adalah: waktu. Durasi menit bahkan jam tidak akan pernah kembali, dan telah habis sia-sia demi membicarakan satu oknum yang misalnya baru saja diputus oleh pacarnya. Lalu kita dengan rela menyibukkan diri membahas hal tersebut hingga lupa tentang progress diri kita sendiri. Beberapa orang bahkan menggunakan gosip sebagai topeng untuk menutupi rasa minder. Mereka menjatuhkan orang agar terlihat tinggi, padahal itu samasekali tidak tepat. Quit this habit now! Use your time to work on your own issues and pursue your goal. Mau bangkit atau jatuh, semuanya adalah tergantung bagaimana kita menggunakan waktu. Di satu titik, kita bisa puas dengan hidup yang telah kita manfaatkan atau justru menyesal karena membuang waktu terhadap hal tak utama. Jangan sampai kemungkinan kedua yang terjadi hingga kita memelas dan menyalahkan Tuhan karena doa impian kita seakan tidak dijawab, padahal waktu yang seharusnya dipakai untuk belajar dan memajukan diri malah terkonsumsi habis hanya untuk ngomongin orang lain.

 

Kerugian Berkurangnya Rasa Percaya

Gosip menjadi barang bahaya sebab membunuh rasa percaya. Perasaan dipercayai dan mempercayai adalah hal yang sangat mendasar dalam semua hubungan, bahkan intimasi juga bergantung padanya. Butuh waktu yang lama untuk membangun dan menjaga rasa percaya yang berkualitas, namun hal tersebut terancam sirna hanya karena kita menyediakan tempat dan melakukan toleransi terhadap kegiatan menggosip ini. Alih-alih memberikan faedah atau signifikansi positif tertentu, kebiasaan menggosip malah menimbulkan kerenggangan dan keretakkan yang diakibatkan hilangnya rasa percaya. Belum lagi kesulitan bagi orang lain untuk mempercayai sifat dari si tukang gosip.

"Orang lain aja diomongin kayak gitu, gimana kalo di belakangku?" Baru setelah hilangnya trust dari kerabat, kita baru merasakan bahwa tak semuanya pantas buat jadi bahan omongan.

 

Kerugian Menumpulnya Empati

Menggosipkan orang lain dapat menumpulkan empati kita terhadapnya. Empati yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup manusia sebagai makhluk sosial, menjadi kian tumpul kala kita memfokuskan perhatian kepada hal negatif milik orang lain.

Misalkan ketika sekelompok orang membahas satu kawan mereka yang terkena musibah tertentu. Obrolan berlangsung hingga berjam-jam, namun berujung nihil aksi. Tidak ada seorangpun dari mereka yang akhirnya turun tangan membantu. Itu kenapa, di saat selesai menggosipkan seseorang, muncul rasa bersalah (guilt) di celah berbagai sensasi yang menyenangkan (pleasure). Sama saja dengan membohongi diri karena kita merasa jadi pahlawan atau pengacara buat kegagalan atau keburukan orang lain, padahal yang kita lakukan tidak lebih dari sekadar memperkeruh keadaan. We don’t help people, we don’t make the world a better place, all we do is talk. And now we feel bad about it.

 

Satu yang penting diingat: Gosip itu Bukan Kasih

Jika ada hal yang seharusnya memiliki tempat untuk menyembuhkan dunia, itu adalah kasih. Maka, sudah saatnya kita berhenti berkorban dan menjadi rugi untuk oknum bernama gosip tersebut. Tindakan dan ekspresi kasih yang mengorbankan diri dan mau peduli terhadap sesama jauh lebih penting. Kasih itu rela merugi hanya untuk kebaikan, dan bukan sekadar omongan. Gosip itu bukan kasih, malah sebaliknya.

Bayangkan jika semua orientasi respon kita atas masalah didasarkan pada kasih bahkan yang paling sederhana sekalipun, dunia ini akan semakin nyaman ditinggali dan setiap interaksi akan menawarkan harapan –bukan kepahitan. Cekatan bertindak nyata lebih penting dari mulut yang bergerak cepat. Sekecil-kecilnya tindakan peduli jelas lebih penting dari sekadar tumpukan kata tanpa faedah.

Mari, Youth, kita biasakan bertindak dan tak sekedar berceloteh ria. Dan, mari lakukan semuanya dengan digerakkan oleh kasih. Selain itu? Buang.

"Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan."
1 Kor 13 : 6-8

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE