Hal-hal yang Berubah dalam Menilai Pertemanan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 10 Oktober 2018
Sebenar-benarnya kawan adalah mereka yang ada di dua sisi hidup: mereka yang tidak tawar di masa susah kita dan juga tidak menjadi pahit karena sukses kita.

Saya pernah ada di sebuah masa (sekitar SMP) berpikir bahwa pertemanan itu lebih dari segalanya. Durasi sehari-hari, drama yang menguras air mata yang kini membuat saya menertawakan diri sendiri, hingga ide-ide cerpen, semua berkisar pada satu bentuk relasi: pertemanan.

Di tahap selanjutnya, saya semakin logis bahwa pertemanan bukan segalanya namun memang sangat menyenangkan dan terasa keren untuk dianggap memiliki banyak teman. Dikenal dan mengenal banyak orang terutama di luar interaksi sehari-hari.

Usai lulus kuliah dan mulai masuk ke tahap quarter life crisis, pandangan saya makin bergeser. Memiliki banyak tak lagi yang terpenting, dan urusan keren? Sudahlah. Itu hal kesekian yang layak untuk dipikirkan. Di usia ketika komparasi merajai pikiran, dan kegalauan akan banyak hal kerap menyerang, definisi tentang kualitas sahabat adalah salah satu hal yang paling drastis berubah.


Dulu: “Yang terpenting sahabat mau hadir di saat duka”

Kita sudah sering mendengar bahwa sahabat yang setia adalah mereka yang hadir bukan saja saat bahagia namun juga di kala susah. Sebuah doktrin lawas yang tanpa disadari mampu membuat kita dengan sukarela mengangguk setuju atasnya. Namun, ada satu pandangan lain yang bagi saya pribadi patut dipikirkan ulang.


“Hindari sepenuhnya orang yang hanya dekat-dekat denganmu pada saat sedih, untuk menawarkan kata penghiburan. Sebab sesungguhnya inilah yang mereka katakan dalam hati, “Aku lebih kuat, aku lebih bijak.” Dekat-dekatlah pada mereka yang ada di sampingmu saat masa bahagia, sebab mereka tidak menyimpan iri dan dengki dalam diri mereka; yang ada hanya sukacita melihatmu bahagia.”


Dulu, saat saya mengalami masa sulit selama satu tahun penuh akibat predikat ‘jobless’ yang tidak segera beranjak pergi, saya membuktikan bahwa teori non-mainstream dari penulis cerdas Paulo Coelho ini sungguh benar adanya. Dalam masa sulit itu saya melihat beberapa orang dengan setia menemani saya. Bukan hal yang buruk memang, namun justru menjadi miris karena saat saya akhirnya mendapatkan sebuah pencapaian, dia (atau mereka) seakan absen. Sekadar ucapan “selamat” seakan menjadi terlalu mahal untuk disampaikan. Singkatnya, bagi sebagian orang, kesusahan orang lain adalah daya pikat tertentu sedangkan topik keberhasilan cukup diambil lalu.

Memang bukan berarti semua yang menawarkan penghiburan saat kesulitan datang harus selalu disinonimkan dengan rasa iri, tapi yang perlu digarisbawahi adalah penting untuk memiliki kawan dan menjadi kawan yang dapat tulus bahagia atas keberhasilan satu sama lain. Saya menyadari kemudian, dibutuhkan sepaket kerendahan hati dan ketulusan untuk melaksanakan nasihat sederhana ini: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).



Photo by Rémi Walle on Unsplash


Dari satu tahun masa gelap itu, saya belajar bahwa sebenar-benarnya kawan adalah mereka yang ada di dua sisi hidup: mereka yang tidak tawar di masa susah kita dan juga tidak menjadi pahit karena sukses kita. Mereka yang hadir, baik di kala muram maupun di saat cemerlang.

Kini, bagi saya inilah kualitas kawan yang baik: kesediaan untuk mengapresiasi. Kesediaan untuk merayakan keberhasilan bersama.


Dulu: “Yang terbaik adalah yang selalu bisa diandalkan”

Sebuah kebohongan besar dan janji kosong ketika kita menilai bahwa syarat menjadi sahabat adalah kesiapsiagaannya untuk selalu menolong. Jangan salah sangka, menolong tetap sebuah kualitas penting namun kadang itu bertransformasi ke bentuk lain.



pexels.com


Dengan semakin kompleksnya hidup (pekerjaan, pasangan, pelayanan, dll), bukannya kita tidak bersedia lagi untuk menolong namun kemampuan kita menjadi lebih terbatas. Perkara menolong tidak lagi sesederhana saat di bangku sekolah ketika urusan utama kita tak terlalu banyak namun waktu dan energi kita melimpah.

Saya sempat memiliki dua kawan dekat saat kuliah dan satu kawan dekat di masa kerja. Tak terhitung bagaimana saya merepotkan mereka ketika kost kami sangat berdekatan. Di satu titik, satu per satu di antara mereka pindah tempat tinggal dan urusan “saling menolong” menjadi sepenuhnya berbeda.

Alih-alih kecewa, saya belajar menyadari dan mulai berbesar hati mengakui bahwa memang kemampuan menolong kian terbatas. Usai memiliki cara pandang itu, kita sebenarnya lebih dimampukan untuk menghargai kebaikan-kebaikan kecil dari kawan-kawan kita. Misalnya, bagi saya, telepon singkat menanyakan kondisi saya ketika Bom Surabaya terjadi, mention-an di instagram tentang konten receh, hingga kesediaan mereka sesekali berbagi update kehidupan.

Kini, saya berdamai mengakui bahwa sahabat yang baik tidak selalu bisa diandalkan, bukan karena tidak mau namun kadang sederhana: tidak lagi mampu.


Dulu: “Yang utama adalah menjaga komunikasi”

Hal utopis lain yang pernah saya percaya adalah ada yang namanya sahabat sejati. Pemikiran ini muncul sebab saya memiliki teman sejak TK dan terus bertumbuh bersama hingga pertengahan masa kuliah.

Walau sudah berbeda kota dan memiliki kawan masing-masing, kami masih membaur ceria tanpa segan kapanpun berkumpul kembali. Saya sempat percaya bahwa perbedaan kota bukanlah masalah besar. Sahabat bisa terus bertahan, bahkan mungkin, selamanya.



Photo by Thought Catalog on Unsplash


Asumsi saya tidak salah, karena memang betul bahwa perkara jarak bukanlah unsur utama kenapa ikatan dua atau sekelompok manusia makin renggang. Usai merenungkan secara personal, saya melihat bahwa topik hidup yang kian berbeda, yang justru memecah jarak secara signifikan. Kita menertawakan hal yang berbeda dan menggelisahkan hal yang tak lagi sama dengan kawan lama kita, dan itulah keterasingan yang sulit dijembatani. Pun, saat komunikasi giat diusahakan.


Dan beginilah hidup, apa yang awalnya bisa dinikmati setiap hari suatu kali harus sepenuhnya berbeda kondisi. Ada kalanya bertemu, tapi akan selalu datang masa untuk bertumbuh. Iya, bertumbuh di tempat yang tak lagi sama


Kini, saya berdamai dengan fakta bahwa kawan akan datang dan pergi, dan yang tersisa adalah diri kita sendiri (selain Tuhan pastinya). Bagaimana seorang ekstrovert sekaligus harus sebaik mungkin menjaga satu jenis persahabatan: dia dan dirinya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE