Hal-hal yang Kulakukan di Masa Single

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 12 November 2018
Dalam penantian nan panjang, sering kali yang menjadi tanda tanya besar adalah, “Kapan sih ini akan berakhir?”

Pertanyaan demikian tidak luput menghampiriku di masa penantian. Jawabannya seakan penuh misteri hingga membuatku bingung. Dalam perjalanannya, aku sesekali bertanya, “Kenapa yang mencintaiku adalah orang-orang yang kurang tepat? Sampai kapan sih harus menolak orang dan menunggu seseorang yang sosoknya saja masih menjadi misteri?”

Hari-hari penantian terus kujalani, hingga perlahan aku pun belajar untuk bersyukur di masa single ini. Hal-hal inilah yang sebenarnya dapat kita lakukan, latih, dan nikmati sembari mendapatkan sesuatu atau seseorang yang kita doakan dan nantikan.



Picture on Unsplash


Bergantung sepenuhnya kepada Tuhan
Ketika kita diizinkan untuk belum memiliki pasangan, Tuhan sedang ingin kita mengajari kita bergantung penuh kepada-Nya. Bayangkan, jika kita sejak remaja sudah berpasangan, kemungkinan untuk bergantung kepada pasangan akan lebih besar daripada orang yang sudah terbiasa sendirian. Seorang temanku yang sudah memiliki pacar sejak remaja mengaku bahwa ia tidak dapat hidup single dalam kurun waktu lama. Ketika ia diputuskan oleh A, ia segera berpacaran dengan B. Lalu, setelah putus dari B, temanku mencari pengganti lainnya yaitu C dalam hitungan hari saja.

Kita perlu menyadari bahwa akan selalu ada ruang kosong dalam hati kita yang takkan bisa diisi oleh siapapun, kecuali Sang Pencipta. Rumus keutuhan yang bisa kita maknai bersama: Tuhan + Pria = 100%. Tuhan + Wanita = 100%. Tuhan + Pria + Wanita = 100%. Baik pria maupun wanita single yang memiliki relasi intim dengan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetaplah utuh. Sebaliknya, memiliki pasangan namun tanpa Pribadi Pencipta justru membuat kita akan merasa terus menerus kurang, kosong, dan tidak utuh.



Picture on Unsplash


Berani beriman meskipun belum melihat
Aku percaya bahwa iman tidak tumbuh dalam waktu semalam. Untuk mengimani bahwa janji Tuhan itu ‘ya dan amin’, diperlukan anugerah Kristus dan proses hidup yang panjang. Lika-liku hidup ini mungkin terasa begitu curam dan berat untuk dihadapi, namun bersama dengan Kristus, tidak ada yang mustahil. Ingatlah bahwa Tuhan jauh lebih besar daripada semua masalah kita. Tuhan yang Maha Kuasa dapat mengadakan mukjizat dan hal-hal di luar pemikiran kita jika memang hal tersebut menjadi kehendak-Nya. Kasih setia-Nya tak akan pernah berubah dan kekhawatiran kita tidak akan mengubah apa pun (Mat. 6:27). Semua masalah yang ada, justru akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Ketika Allah memanggil Abraham untuk pergi ke negeri yang tidak diketahuinya, Abraham taat. Iman membuat kita berani melangkah sesuai rencana Tuhan, sebab kita sadar, rencana-Nya adalah yang terbaik meski melalui berbagai hal yang kita rasakan sebagai musibah (Roma 8:28). Sembari menanti, kita harus terus berusaha bersyukur dan bersukacita dalam segala hal. Tanpa lupa, belajar dari kejadian dan orang-orang di masa lalu agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.



Picture on Unsplash


Fokus pada panggilan Tuhan
Masa lajang memberikan kepada kita waktu untuk merenungkan dan menemukan panggilan Tuhan dalam hidup. Setidaknya pasti ada talenta khusus yang kita miliki. Talenta itu berkembang atau tidak, tergantung pada kita, seperti yang terjadi dalam perumpamaan talenta. Di masa sendiri, kita juga punya waktu yang lebih fleksibel dan leluasa untuk mengembangkan diri melalui berbagai pelatihan.

Hidup kita tidak bisa sembarangan dan selayaknya penuh tanggung jawab kepada Sang Pencipta. Bukan karena takut dihakimi, melainkan karena kasih. Tidak perlu berusaha untuk dilihat, dipuji, dan diperhatikan orang lain. Direndahkan orang pun tak masalah, asalkan Tuhan selalu dipermuliakan. Life is not about us, it’s about God. Tetap jadi diri sendiri, berada di ladang yang Tuhan sudah percayakan, dan layani Tuhan dengan memberikan yang terbaik bagi-Nya. Tuhan melihat hati kita, bukan banyaknya pelayanan yang sudah kita kerjakan bagi Dia. Panggilan bukanlah tentang kelayakan, melainkan kemauan untuk dipakai Tuhan mempermuliakan nama-Nya.



Picture on Unsplash


Belajar menetapkan standar dan merespons orang dengan benar
Saat melajang, kemungkinan besar akan ada banyak orang yang mendekati kita. Bisa jadi ada orang-orang yang tidak dalam mutual friend tiba-tiba meminta nomor whatsapp. Tidak semua harus kita respons. Hanya kandidat-kandidat yang memiliki kriteria-kriteria terpenting saja yang perlu kita kenali lebih jauh. Putra-putri Raja harus memiliki standar yang sesuai dengan kebenaran. single doesn’t mean available at all.

Lalu, apa saja kriteria terpenting yang perlu dimiliki pasangan kita kelak? Orang yang sudah sungguh-sungguh bertobat dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, mengejar pertumbuhan, mau tunduk kepada Allah, sepadan, dan saling melengkapi dalam mendukung panggilan Tuhan. Di luar kriteria itu, kita bisa membatasi untuk menjalin pertemanan saja dengan mereka. Sedangkan jika hal-hal terpenting telah terpenuhi, tetapi kriteria sekunder saja yang tidak ada pada orang itu, mungkin kita masih dapat mempertimbangkannya. Kriteria sekunder dalam hal ini adalah hal yang mungkin terkait preferensi pribadi namun tidak esensial untuk menjalin relasi yang sehat dalam Kristus, seperti tinggi badan, penampilan, sifat, etnis, dan sebagainya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE