Hal Tak Terduga dari Duduk Sebangku dengan Siswi Paling Populer di SMA

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Oktober 2018
Dari seorang remaja SMA yang hobi dandan, ‘kurang pintar’ dan kerjanya nongkrong. Saya ingin menjadi orang bijak dan melanjutkan hidup ini; berusaha mengasihi, gagal, dan berusaha lagi.

Hari itu terasa sangat biasa dan inosen (tadinya). Saya sedang mengikuti kelas yoga, mendadak mata saya menangkap sosok perempuan muda berambut panjang di barisan depan - selama sepersekian detik, dan saya teringat pada seseorang di masa lalu dengan rambut yang persis sama. Ia adalah teman sebangku saya di SMA. Saya akan menyebutnya Nara dalam tulisan ini.

Siapa Nara dan seperti apa persisnya relasi kami sulit saya deskripsikan. Bukan karena memori yang kabur, tetapi karena memang kami menjalin pertemanan yang aneh. Di SMA, di mana hidup terbagi dalam kelompok-kelompok, saya dan Nara adalah anggota dari ‘suku’ yang berbeda. Saya adalah bagian dari gerombolan kutu buku yang selalu duduk paling depan, berteman dengan guru dan pengunjung perpustakaan yang setia. Ia adalah tipikal gerombolan ‘sosialita’ SMA, dengan gawai terkeren, tongkrongan weekend paling asyik sampai dandanan membuatnya tampak seperti wanita dewasa sementara kami hanya bocah-bocah cupu.

Intinya kami berasal dari spesies yang berbeda. Kaumnya dan kaum kami tidak bersahabat dan mengurusi urusan masing-masing. Begitupun dengan minat dan visi hidup kami yang saling bertolak belakang. Setidaknya demikian dulu saya, sebagai seorang remaja tanggung, memandang hidup.

Satu kali, ketika guru merotasi tempat duduk di kelas, saya ditempatkan bersama Nara. Dari situlah pertemanan kami yang aneh dimulai. Mungkin hanya dari sekadar basa-basi karena kami bersebelahan. Ia bercerita mengenai keluarganya, mengapa ia lahir di Australia, mengenai usaha yang dijalani ayahnya dan kakak satu-satunya yang berkuliah di luar negeri. Saya bercerita mengenai penyakit yang saya miliki, kenapa saya tidak pernah mengikuti kelas olahraga, dan buku yang sedang saya baca dari perpustakaan sekolah. Ia bercerita mengenai masalah dengan pacarnya, sementara saya berusaha mengingat solusi apa yang pernah saya baca dari buku self-help di perpustakaan.

Meski begitu kami seperti ‘malu’ satu sama lain dengan pertemanan kami. Di hadapan gerombolan kami masing-masing, baik saya maupun Nara berlagak cuek. Dia seorang pemakai Nokia 6600 (yep, inilah gadget paling hits waktu saya SMA) sedangkan saya memegang Nokia 3300 second yang entah kenapa tidak rusak-rusak. Kaumnya dan kaum kami tidak berteman - dan kalau sampai ketahuan, ‘level keren’ kami bisa menurun di depan gerombolan masing-masing.

“Kamu temenan sama Nara?” Demikian teman-teman saya sobat misquen geng pintar mulai mencurigai saya. “Ah, nggak, nggak…” Bisa diduga, di geng cewek-cewek hits di seberang sana pun terjadi perbincangan serupa.

Tapi toh pertemanan ‘backstreet’ itu tetap berjalan. Ia adalah salah satu teman yang bisa mengingat hari ulang tahun saya tanpa bantuan Friendster dan menghadiahkan sebuah gelas Powerpuff Girl pink yang sangat saya sukai. Di hari Natal ia memberi kartu ucapan (belum ada broadcast WA, ya) dengan ilustrasi… Powerpuff Girl!



Photo by Clarisse Meyer on Unsplash


Satu kali, saya dan Nara tidak berteman lagi. Sebabnya? Di saat ulangan Biologi, dia meminta contekan pada saya. Tiba-tiba saya ditegur guru yang bertugas di kelas – ia mencurigai kami. Saya langsung pucat ketakutan dan dari bangkunya, Nara masih juga meminta contekan.

Jengkelnya sampai ubun-ubun; maksudnya, kenapa dia nggak belajar saja? hal yang mudah untuk menghafalkan Biologi kalau kamu nggak menghabiskan waktu tiap akhir pekan untuk kelayapan nongkrong sana-sini.

Sejak itu saya menjauh darinya, sebuah situasi yang lantas didukung dengan berpisahnya kami di kelas yang berbeda. Peristiwa itu sangat membekas di benak saya kala itu, dan saya sangat jengkel setiap kali mengingatnya. Rasanya seperti terkena kasus pencemaran nama baik!



pexels.com


Selama satu tahun ajaran kami pun tidak berkomunikasi sama sekali. Namun di tahun akhir SMA, saya dan Nara kembali berada di kelas yang sama, meski tidak sebangku. Kami sering berpapasan, tapi kini saya ragu menyapanya. Kerap kali ternyata ia menyapa saya duluan. Saya ingin ‘melumer’ tetapi niat hanyalah niat. Sebabnya? Seorang kawan pernah berkata kalau Nara berteman hanya untuk mencontek dari saya.

Tapi satu kali, Nara kembali menyapa saya – menanyakan cara menjawab sebuah soal Matematika. Saya mengetes niatnya; saya memintanya datang ke rumah kalau memang ingin belajar bersama. Tak lama, satu sore, mobil pacar Nara meluncur ke depan rumah saya; ia benar-benar mau datang untuk belajar. Meski begitu saya masih bersikap kaku padanya – masih merasa lebih ‘mulia’ padanya. Sombong dalam keculunan saya.


***


Satu kali, di akhir semester, ketika kami sedang mulai bermimpi soal jurusan kuliah dan persiapan Ujian Nasional, Nara tidak masuk. Demam berdarah. Beberapa hari kemudian saya datang ke sekolah disambut suasana kelas yang terlalu hening (ini kelas IPS, kami tidak kenal istilah belajar sebelum kelas dimulai). Nara meninggal.

Nara meninggal? Masa hari gini di daerah perkotaan masih ada orang meninggal karena demam berdarah? Akal sehat saya menolak untuk menerima kenyataan. Tapi ketika saya dan teman-teman berangkat ke rumah duka, baru saya benar-benar mengerti. Jenazah Nara baru saja diproses dan didorong ke rumah duka. Ia terbaring dalam peti putih yang sangat manis, memakai baju yang dikenakan di pesta sweet seventeen-nya. Seseorang yang muda, segar dan fit ternyata bisa meninggal karena demam berdarah.



pexels.com


“KOBRA! Posisi KOBRA!!” Seruan instruktur yoga membuyarkan memori saya. Saya berusaha memfokuskan pikiran pada gerakan selanjutnya, namun pertanyaan-pertanyaan malah membanjiri benak. Jika saja Nara masih hidup… jurusan kuliah apa yang akan ia pilih? Dimana ia akan bekerja sekarang? Apa nama akun Instagramnya? Apakah ia akan menjadi pemakai Android atau iPhone? Apa komentarnya ketika tahu Westlife membubarkan diri?

Bagaikan Pensieve dalam serial Harry Potter, Nara adalah sebuah memori yang saya pegang erat-erat, bersama mug pink dan kartu Natal bergambar Powerpuff Girl. Meski tahun-tahun telah berlalu, meski konon saya sudah menjadi ‘wanita dewasa’, bekerja dan membayar tagihan sendiri, ketika mengingat Nara, saya bisa menghirup aroma masa SMA; kembali ke kelas Biologi dengan segala nama latin yang kini ternyata tidak membantu karir saya sama sekali (tapi pernah sih, membantu saya mengisi TTS di koran).

Saya tidak mau kehilangan memori itu. Hari-hari setelah meninggalnya Nara, saya terjebak dalam posisi emosional yang aneh - saya tidak yakin saya harus berduka, saya tidak menangisi Nara, tetapi ya, jelas saya memiliki sebuah urusan yang belum selesai dengan Nara, dan saya tidak akan pernah punya kesempatan untuk menyelesaikannya.

Hingga hari ini setiap kali melintasi rumah Nara, saya tidak bisa menahan godaan untuk melongok dan bertanya-tanya mengenai kabar keluarganya. Kadang saya teringat Nara dulu selalu keluar dari pagar, memakai seragam SMA, menuju mobil jemputan sekolah yang sudah menanti.

Gelas yang sudah mulai lusuh itu, tetapi entah kenapa saya masih memakainya sampai hari ini. Saya masih menyimpan kartu Natal yang bertuliskan: Live, happy holiday yah… semoga lu bisa jadi baek ama gue, moga-moga kita bisa sekelas terus yah ☺.

Biasanya saya bukan tipe orang yang sentimental. Tapi setelah peristiwa itu, hidup tak pernah sama lagi. Setelah kematian Nara saya berhenti bercita-cita menjadi orang pintar. Saya berpikir, menjadi manusia yang lebih layak di muka Tuhan adalah ketika saya menjadi murid yang ‘baik-baik’ dan berprestasi secara akademik. Padahal saya hanya ingin mengenyangkan ego sendiri. Saya kira, Tuhan ingin saya ‘pintar’ – padahal Dia hanya ingin saya hidup penuh kasih.



Photo by Matese Fields on Unsplash


Setelah Tuhan Yesus hidup kembali, ia tentu kecewa pada Petrus, rasul yang sungguh ‘tidak berprestasi’ karena terbukti sering mengedepankan ego dan emosinya saja. Tapi bukan khotbah panjang-lebar atau secarik surat peringatan yang Dia siapkan – melainkan “Apakah kau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15).

Tuhan ingin murid-murid-Nya dimotivasi oleh kasih. Saya jelas tidak mengira akan belajar mengenai hal ini dari seorang remaja SMA yang hobi dandan, ‘kurang pintar’ dan kerjanya nongkrong. Sejak Nara pergi, saya ingin menjadi orang bijak saja. Dan saya melanjutkan hidup; berusaha mengasihi, gagal, dan berusaha lagi.


***

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE