Impian Masa Kecil dan Perjalanan Mewujudkannya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Maret 2018
Kita perlu sesekali mengenang masa kecil saat kita berpakaian seperti superman atau mengikuti gerakan tangan power ranger, dan merasa memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan musuh apapun.

Ketika ketiga kalinya aku mengajar anak-anak kurang mampu di Cilincing, aku bertanya kepada mereka tentang cita-cita yang mereka inginkan. Jawaban menjadi begitu beragam. Ada yang ingin menjadi pemain bola, dokter, pramugari, guru, polisi, polwan, perawat, hingga tentara. Mereka melontarkan impian mereka dengan begitu tegas tanpa rasa takut akan apa yang terjadi saat mereka menjadi seperti itu. Seketika aku berkaca pada diriku sendiri ketika memandang mereka satu per satu melayangkan pernyataan itu. Saat aku kecil dulu, dengan tegas dan percaya diri aku katakan kepada ayahku “Aku mau jadi arsitek, aku mau buat rumah yang besar buat papa.” Tak ada bayangan pasti masa depan akan seperti apa nanti, yang aku yakini adalah waktuku masih terpampang panjang di depan dan memberiku ruang mewujudkan banyak harapan. Salah satunya untuk menjadi seorang arsitek suatu hari nanti.

Menjelang masuk kuliah, ada tiga jurusan yang kuinginkan: Arsitek, Interior Design, dan Teknik Industri. Pertimbanganku saat itu melihat bagaimana lahan kian sempit dan muncul kekuatiran akan sulit mendapatkan pekerjaan sebagai arsitek. Setali tiga uang, pilihan Interior Design juga aku anggap tidak pas mengingat aku bagaimana sudah susah payahnya aku belajar IPA di sekolah unggulan Jakarta yang setiap harinya harus berhadapan dengan ulangan. Singkat cerita, aku memilih Teknik Industri. Ya, aku meninggalkan impian masa kecilku karena ketakutan akan masa depanku. Saat kuliah, aku masih terngiang-ngiang dengan impianku itu. Tepatnya untuk jurusan Interior Design. Aku sering mengobrol dengan teman kos yang mengambil jurusan Arsitektur dan aku berandai-andai suatu hari menjadi Interior Designer.


Source: pexels.com

Setelah lulus kuliah, impianku makin terdistraksi dengan tawaran-tawaran menarik di depan mata. Akhirnya aku bekerja di salah satu bank swasta ternama di Indonesia sebagai trainer. Namun aku merasa tidak cocok dan keluar di bulan ke-delapan. Saat itu banyak orang yang mempertanyakan keputusanku. Rasa kecewa, putus asa, dan bingung, singgah di pikiranku. Jelas aku mempertanyakan mengapa seakan sulit bagi mereka mendukungku menjadi apa yang aku mau, menjadi apa yang aku inginkan. Rasa cintaku terhadap dunia design belum hilang, hingga secara mandiri aku belajar membuat design dengan aplikasi 3D.

Jalan tidak selalu mulus. Aku mulai depresi setelah tujuh bulan hanya belajar tanpa menghasilkan apapun yang berarti. Ada satu pertanyaan saat itu yang aku masih ingat sampai sekarang, “Tuhan, Kau ingin aku jadi apa? Beri tahu aku, maka aku akan fokus dengan maksimal. Hanya, tolong beri tahu.” Aku selalu ingat jawaban Tuhan adalah satu di antara tiga ini: ‘ya’, ‘tidak’, dan ‘tunggu’. Paling mengesalkan saat jawabannya ‘tunggu’, apalagi secara manusia kita tidak tahu ujung penantian jawaban tersebut. Aku dikuatkan oleh kalimat yang dilontarkan Ayub:

Karena Ia tahu jalan hidupku. Seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.


Source: pexels.com

Berserah dan berharap.

Akhirnya aku memilih untuk mencari pekerjaan yang sejalan dengan jurusanku, dan mendapatkannya di tiga bulan kemudian. Sebuah perusahaan mobil di Indonesia menyambutku menjadi seorang trainer. Di titik itu aku belajar bahwa Tuhan selalu tepat waktu. Sebagai bonus, di awal perjalanan menghidupi impianku, Tuhan mengijinkan aku dan temanku memenangkan sebuah kompetisi dengan hadiah yang tidak pernah kubayangkan. Hal ini menjadi pemacu semangat dan kepercayaan diri. Sekarang aku telah keluar dari pekerjaan lama dan memulai bisnisku sendiri sebagai interior designer. Hasilnya siapa sangka setara dengan saat aku bekerja di perusahaan.

Satu hal yang aku syukuri, I live this life with joy and fulfillment.

Rangkai perjalanan ini mengajarkanku bahwa impian selalu perlu kita perjuangkan. Dengan ketekunan dan pastinya berkat dari Tuhan, akan selalu ada jalan yang terbuka. Harapan tidak pernah hilang. Saat beranjak dewasa, sayangnya perlahan keberanian itu sirna dihantui oleh ketakutan akan masa depan. Tidak berani melangkah dan membuat keputusan. Rasanya di saat itu, kita perlu sesekali mengenang masa kecil saat kita berpakaian seperti superman atau mengikuti gerakan tangan power ranger, dan merasa memiliki kekuatan besar untuk mengalahkan musuh apapun. Optimisme itulah yang perlu kita bangunkan untuk menikmati indahnya iman dan cara pandang anak kecil.


Source: pexels.com

Tuhan merancangkan segala sesuatu dengan suatu maksud, dan kita dapat yakin, maksud-Nya selalu indah. Jangan pernah menyerah dan berputus asa. Hidup ini harus kita jalani dan hadapi dengan rasa syukur penuh harapan. Aku ingin menutup tulisan ini dengan satu lagu yang menguatkanku saat menjalani pergumulan ini.

INDAH PADA WAKTUNYA - Edward Chen

Ada waktu ‘tuk berduka ada waktu tuk bersuka
Ada waktu ‘tuk berdiam ada waktu tuk berkata
Namun di atas s`galanya ku tahu Allahku bekerja
Mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihiNya

Reff:
Mungkin tak ku pahami apa yang kini aku alami
Namun ku tahu pasti kasih Allah ku tak kan berhenti
Kan ku s`rahkan semua pergumulanku pada Mu Yesus
Kar`na ku tahu pasti semuanya kan jadi indah pada waktuNya

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE