In Memoriam: Perfectionist

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 09 Oktober 2018
Kasih karunia-Nya yang cukup, memampukan diri kita untuk bisa mengatakan: “In memoriam, perfectionist!

Sebenarnya dalam beberapa hal, mamaku bukanlah seseorang yang perfeksionis. Contohnya, barang-barang di rumah tidak begitu tertata rapi dan tidak selalu berada di tempatnya. Namun, dapat kukatakan bahwa ia cukup kesulitan menerima jika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Sebagai contoh, saat aku berada di kelas 2 SMP, aku ingat sekali kalimat pertama yang ia tuturkan saat aku mendapat juara 3: "Kamu gak belajar ya, main-main terus yah." Sebab, di caturwulan sebelumnya aku mendapat juara 1. Kalimat ini cukup membekas dan menggores hatiku hingga dewasa.

Contoh lainnya, saat aku terjatuh dari motor atau ketika sakit. "Kamu gak hati-hati sih, mungkin kamu kurang tidur, jadinya lemah dan sakit."



pexels.com


Bisa dilanjutkan contoh-contoh lainnya, jika aku menghilangkan barang, uang, atau merusakkan benda, seperti harus ada subjek untuk disalahkan. Kalimat-kalimat ini terasa cukup menyakitkan karena aku merasa tidak mendapat penghargaan dan perhatian dibalik kejadian-kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Seolah tidak ada ruang maklum dalam berbuat kesalahan. Hal ini membuat aku memiliki banyak guilty feeling yang terpendam dan ketakutan jika melakukan kesalahan.

Dampak lainnya, secara tidak sadar, aku pun menjadi pribadi yang menuntut diri dan orang lain.

Ada satu waktu, aku bisa begitu terganggu dengan sikap kakakku yang meletakkan handuk sembarangan. Atau aku bisa sangat marah dan menyesal saat melakukan kesalahan. Aku juga sering tidak rela jika nilai akademisku menurun. Bahkan, aku bisa sangat kecewa jika orang lain terlambat atau membatalkan janji karena akan berdampak pada jadwal yang kumiliki.

Struggling ini semakin memuncak ketika aku memiliki pasangan. Semakin banyak kondisi yang membuat aku menjadi pribadi menuntut. Berbagai tuntutan untuk mendengarkanku, mengerjakan yang seharusnya sesuai permintaanku, menolongku untuk melakukan ini dan itu, dan lain sebagainya. Tidak jadi soal jika aku meminta pertolongan padanya, namun yang menjadi soal adalah jika aku menjadi sangat marah dan kecewa kalau ia tidak menolongku sesuai dengan cara dan standarku. Banyak sekali penolakan-penolakan yang terasa begitu menyakitkan, padahal sesungguhnya ia hanya menolak permintaanku, bukan pribadiku.

Hingga satu titik, aku sendiri merasa begitu tertekan, mempertanyakan mengapa aku sulit move on dari kekecewaan demi kekecewaan. Aku sangat lelah dengan standar yang begitu tinggi ini. Mengapa aku sangat menuntut orang lain dan menuntut diriku sendiri? Mengapa aku harus marah dan membuang energiku tatkala orang lain melakukan sesuatu di luar ekspektasiku?



Photo by Naqi Shahid on Unsplash


Di sisi lain..

Aku terheran dengan respon pasanganku yang memberikan ruang terhadap kesalahan demi kesalahanku. Ia memaklumi saat aku lupa membawa kunci atau benda penting lainnya, ia berkata tidak apa-apa jika aku memecahkan piring tanpa sengaja, ia tetap menyayangiku meskipun aku melakukan banyak kesalahan, bahkan ia lebih mengkhawatirkan kondisiku dibandingkan objek-objek itu. Ia tidak menuntutku menjadi pribadi yang sempurna, tanpa salah, tanpa cacat.

Aku semakin malu dan merasa bersalah dengan diriku sendiri. Tidak seharusnya aku seperti ini.

Lalu, aku mulai memaknai dan mengalami kasih Tuhan melalui pribadinya.


Tuhan sendiri mengasihiku TANPA SYARAT.

Dan, Tuhan juga mengasihi orang lain TANPA SYARAT.



pexels.com


Kuberanikan diri untuk mengatakan bahwa aku mulai diubahkan. Tidak bisa 100 persen ataupun 180 derajat. Kecenderungan untuk menuntut itu selalu ada. Kekecewaan saat kondisi yang tidak diharapkan terjadi itu tetap ada. Namun, setidaknya, aku bisa move on lebih cepat.

Aku bisa menjadi pribadi yang lebih fleksibel dan mulai terbiasa untuk tidak menuntut. Aku menyampaikan harapanku, namun berusaha untuk tidak menuntut. Artinya, jika ia atau orang lain tidak melakukan apa yang aku harapkan, aku tidak perlu marah sampai membatin. Aku tetap melakukan bagianku dengan sebaik-baiknya dengan tidak perlu menetapkan kata ‘harus’ yang sedemikian rupa pada diri sendiri dan orang lain.


Jadi, barangsiapa yang mungkin memiliki pengalaman serupa, ini catatan terakhirku:


Betul bahwa Allah sesungguhnya memiliki standar yang sempurna,

Betul bahwa anak Tuhan harus memancarkan hal-hal baik sebagai kesaksian,

Betul bahwa orang percaya harus menyatakan kasih


Namun, standar dan perbuatan-perbuatan itu tidak seharusnya dipandang sebagai sebuah upaya ‘pencapaian’. Sebab tak seorangpun sanggup.

Ingatlah bahwa kasih Tuhan bagi diri kita adalah tanpa syarat dan salib sudah menandakan segala perbuatan dan pengorbanan-Nya lebih dari cukup. Seluruh tubuh kita sudah ditebus lunas!


His grace is enough and sufficient for me. For us.

So, we can say "In Memoriam: Perfectionist".

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE