Inilah Ceritaku yang Berjuang Melawan Tenggat Waktu dan Kesibukan, yang Kemudian Mengambil Waktu untuk Beristirahat Sejenak

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 20 Juni 2017
Take a break and get some rest when you are tired. Wake up and chase what you want when you are ready

Berjuang demi masa depan yang lebih baik, seringkali kita lakukan sebagai anak muda dengan tidak kenal lelah, niat matang, sepenuh hati dan harus mendekati nilai sempurna. Berjuang dalam menyelesaikan Tugas Akhir atau skripsi, menemukan pekerjaan yang keren setelah lulus kuliah, selanjutnya meniti karir, atau mengejar tenggat waktu di kantor dan tidak lupa juga menemukan teman hidup yang sepadan. Kita sebagai pemuda selalu mempunyai semangat tinggi dalam mencapai apa yang telah kita targetkan. Tetapi, rasa kesal, marah dan tidak terima dengan kenyataan pun hadir ketika hasil usaha kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Padahal mungkin Tuhan memiliki rencana yang lebih indah dari apa yang kita bayangkan.

Kembali ke tahun 2016 yang merupakan tahun perjuangan yang tidak memberi kesempatan untuk beristirahat. Dari Januari hingga akhir Maret, aku gencar mencari tempat praktek kerja yang akan dijadikan pembahasan di tugas akhir. Kriteria tertentu yang diberikan kampus cukup menyulitkanku dalam pencarian tempat magang. Saat itu ingin menyerah saja dan kalah sebelum bertanding. Tapi Tuhan membukakan jalan dan berkata, “Anak-Ku, Aku tempatkan kamu di sini”, maka terjadilah demikian.

Selama 3 bulan aku melakukan praktek kerja sebagai Sekretaris dengan jam operasional 8 jam kerja, meski belum tentu pulang tepat waktu karena pekerjaan. Kadang aku harus menunggu pimpinan pulang dahulu. Parahnya kalau beliau sedang rapat dengan direksi dan manager lainnya, aku bisa pulang lebih larut lagi.

Waktu tenggat pekerjaan dengan kategori penting dan mendesak cukup banyak. Rasa ingin membelah diriku semakin tinggi. Hasrat untuk meninggalkan tugas akhir juga semakin besar.

Tidak. Anak Tuhan tidak boleh menyerah begitu saja. Ibarat kata, sudah kecebur ya harus berenang hingga akhir untuk menang.

Masa berat dalam 3 bulan itu selesai di bulan Juli berakhir dengan hasil memuaskan. Praktek kerja selesai, begitu juga tugas akhir. Tapi setelah itu diikuti dengan mengambil kelas selama 2 bulan. Dari Juli ke Agustus di kelas pagi dan lima bulan dari September ke Januari di kelas malam untuk mengubah nilai C menjadi A atau B. “Harus wisuda tahun 2017! Kalo bisa harus dapat kerja sebelum wisuda!”, tekadku.

Di bulan ketiga mengambil kelas malam, Tuhan mengijinkan anak-Nya ini merasakan bagaimana bekerja sambil kuliah. Lingkungan praktek kerjaku waktu itu sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Kali ini aku harus merasakan lingkungan kerja yang sangat individualis, cepat dan harus menangani dua pimpinan departemen sekaligus yang berbeda sifat orang-orang di dalamnya.

Kesempatan kali ini lebih luar biasa lagi. Meski jam operasional kerja tetap 8 jam, namun terasa sangat sempit untuk membantu pekerjaan 2 departemen. Tentu saja belum tentu pulang tepat waktu. Di sisi lain, masih ada kuliah kelas malam yang harus dimulai jam 7 malam setelah bekerja.

Belum lagi ketika akhir pekan tiba yaitu saat orang lain bisa merasakan nikmatnya. Berbeda denganku yang tidak selalu merasakan nikmatnya berakhir pekan. Kadang, ketika sedang berkumpul dengan teman-temanku, ponsel berdering panggilan dari pimpinan memintaku untuk membantu pekerjaannya. Bahkan, ketika tengah menikmati waktu berdua dengan yang disayang.

Tidak hanya pekerjaan pimpinan, sebagai sekretaris juga harus membantu pekerjaan karyawan di dua departemen ini. Karyawan A dari Departemen FCC meminta bantuan untuk draft surat. Karyawan B dari Depatemen IAD meminta bantuan untuk pemesanan tiket perjalanan bisnis. Seringkali hal tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Datangnya tahun baru 2017, berakhir pula bebanku dalam kuliah. Puji Tuhan dinyatakan lulus di bulan Januari dan dapat mengikuti wisuda di bulan Februari. Tapi tidak dengan nasib pekerjaanku. Kontrak kerjaku berakhir bulan April tahun ini.

Fokusku saat itu hanya untuk pekerjaan. Pelayanan di gereja kuletakkan hampir satu tahun. Mengajar anak sekolah minggu saat itu juga tidak ada gairah. Waktu berkumpul dengan temanteman menjadi jarang. Intensitas komunikasi dengan orang yang disayang pun berkurang. Semakin jarang bertemu. Semakin acuh. Semakin jauh. Semakin sulit dihubungi. Kering.

Masa patah hati dan kering ini, aku meminta Tuhan dengan sangat agar kontrak kerjaku diperpanjang. Bahkan sebelum kontrakku selesai, aku sudah mencari pekerjaan di tempat lain untuk antisipasi. Sebagai pelarian lainnya, aku mendaftarkan diri mengikuti acara TRP GKI 2017, padahal ladang pelayananku masih di Komisi Remaja.

Tuhan berkata lain. Kabar kalau kontrakku tidak diperpanjang terdengar dari bulan sebelumnya. Pekerjaan baru belum kunjung datang. Teman-teman lain sudah mendapatkan pekerjaan. Orang yang disayang mungkin sudah berbahagia dengan yang lain. Kembali mengambil pelayanan seperti enggan kulakukan. Aku lelah tiada berkawan.

Berdiam diri. Mengambil waktu sejenak. Ya, ngobrol dengan Tuhan, itu yang aku lakukan. Aku mengintrospeksi diri.

Hari demi hari berlalu, obrolanku semakin panjang dengan-Nya. Semakin banyak isakan ketika Tuhan mengijinkanku kehilangan orang yang disayangi, teman yang telah memiliki kesibukan baru di kantor yang baru dan bagaimana caraku mengisi kekosongan ini.

Tuhan memang baik, amat baik. DIA membuatku reunian dengan keluarga kecil yang kukenal dari 2013 hingga saat ini melalui acara TRP GKI 2017. Bersyukur ketika bertemu dengan mereka dan teman-teman baru lainnya, berbagi cerita, tawa dan canda, kesulitan. Bersyukur juga melalui acara itu aku jadi sadar bagaimana cara menjalani kehidupan sebagai pemuda. Bahwa hidup itu menyala! Gak perlu kecewa dengan keadaan. Kita bisa menerangi di manapun kita berada.

Sekarang sudah memasuki bulan kedua saat aku menikmati masa jeda ini. Masa di mana aku bisa bernafas dengan baik, berpikir dengan tenang, bergerak dengan bebas, tidak khawatir jika ponsel dalam keadaan mati, bahagia menjalani kehidupan saat ini.

Jeda bukan berarti kosong, apalagi hampa atau kering. Seharusnya masa jeda ini digunakan untuk memperbaiki diri. Mengisinya dengan ‘ngobrol’ dengan Tuhan untuk terus belajar.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE