Inilah Yang Membuat Kita Gagal Menghidupi Karakter Manusia Baru

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Mei 2017
Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.
Eka Kurniawan

Kutipan di atas kudapat dari novel karangan Eka Kurniawan yang berjudul “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”, yang nyeleneh namun juga memiliki makna yang dalam. Walaupun kutipan di atasterkesan vulgar, namun kurasa ada benarnya. Malah aku takut itu amat sangat benar dan nyata dalam hidup, bila kata kemaluan digantikan dengan kata yang lebih mainstream dan normal: nafsu.

Ketika aku membaca kalimat tersebut, aku benar-benar merasa tersindir. Beberapa jam sebelumnya, oleh dorongan nafsu aku baru saja melakukan kebiasaan yang menurutku tidak baik, tapi tetap saja kuperbuat karena terasa memuaskan. Istilah yang sering dipakai, “dosa favorit.”

Entahlah dengan teman-teman, tapi aku sudah begitu sering menggunakan ujaran “Roh penurut, tapi daging lemah” sebagai pelega hati bila telah melakukan hal yang aku tahu salah. Aku malu, tapi tetap saja melakukannya, lagi dan lagi. Sebuah paradoks di mana apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Padahal, apakah sepatutnya kita terus berbuat seenaknya dan mengikuti maunya nafsu bila kita mengaku telah menerima Kristus? Di mana wujud nyata bahwa kita sudah berubah?

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa lewat sebuah novel dewasa yang terkesan tidak “rohani” sama sekali, aku diingatkan Tuhan untuk memikirkan kembali soal “manusia baru” yang sudah seringkali dikhotbahkan di gereja. Kenapa aku belum bisa berubah menjadi manusia baru, yang meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lama, dan berbalik arah?

Aku belajar bahwa yang menjadi masalah mengapa hidupku masih gini-gini aja biarpun mengaku telah menjadi Kristen adalah sikap hidupku yang tidak menghargai Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Memang sih, bukankah memang begitu mudah buat kita mengesampingkan Tuhan yang tidak bisa kita lihat dengan hal-hal yang lebih nampak kelihatan untuk memuaskan hasrat kita? Kita seringkali tidak kuat memperjuangkan relasi yang indah dengan Allah karena butuh ketahanan dan ketekunan untuk membangunnya. Akhirnya kita pun memilih melampiaskan pada hal yang lebih mudah dicapai, yang nampak di sekitar kita, yang bisa membuat nafsu kita terpenuhi.

Sebagai generasi Y atau milenial, kemudahan yang diperoleh dari kemajuan teknologi kurasakan membuat kita cenderung menginginkan instant gratification. Ingin semuanya segera tercapai sesuai keinginan kita, tanpa mau menghargai proses. Hal ini nyata dalam keseharian yang aku lihat. Contohnya adalah di dunia kerja, di mana generasi Y begitu mudah meninggalkan tempat kerjanya bila mendapat tawaran lebih baik, dan bila di tempat kerja sebelumnya segala keinginannya tidak terpenuhi.

Jangan-jangan hal ini pula yang kita lakukan dalam hubungan dengan Tuhan? Kita menginginkan perubahan instan menjadi manusia baru. Pada akhirnya, kita malah jatuh ke sindrom manusia lama lagi karena kita merasa proses yang kita alami tidak segera menampakkan hasil. Kita kembali lagi dengan keburukan-keburukan lama kita sepenuhnya, karena kita tidak cukup sabar untuk menjalani proses. Kita menjadi bodoh dalam beriman, karena hanya sebatas percaya kepadaNya tanpa mempercayakan hidup kepadaNya. Karena sekedar percaya itu tidak susah, sementara mempercayakan hidup itu butuh proses seumur hidup.

Satu hal yang sering kita lupakan adalah Tuhan amat menghargai proses, dan Dia ingin mengubahkan hidup seiring perjalanan sehingga kita sedikit demi sedikit menjadi manusia baru.

Dan waktu yang diperlukan tidak jarang lebih lama dari keinginan kita. Lalu, bagaimana cara menyelesaikan masalah sindrom manusia lama ini? Aku tidak tahu. Hahahahaha.

Aku sendiri adalah pendosa besar yang masih berjuang dengan kebiasaan-kebiasaan burukku. Masih sering jatuh lagi dan lagi. Aku mengaku telah diubahkan oleh Tuhan, tapi masih begitu banyak perbuatan dosa yang aku lakukan, bahkan dengan sadar. Aku masih sering dilanda kebingungan atas hidupku yang belum bisa berubah sekeren orang-orang tertentu yang amat beriman.

Namun satu hal yang melegakanku adalah tidak pernah ada kata terlambat untuk berjuang menjadi manusia baru, bahkan setelah jatuh berkali-kali. Semua orang percaya akan alami proses yang terasa melelahkan ini. Yang jadi masalah adalah apakah saat kita diingatkan Tuhan, kita bersedia terus tune in hati kita agar makin mau berfokus kepada Tuhan. Apakah kita bersedia untuk believe in His process, biarpun terasa berat dan lama untuk ukuran kita?

Aku percaya bahwa jika kita benar-benar rindu mengikut Kristus tepat di belakang-Nya, perubahan akan terjadi secara organik. Ketika kita sudah sadar bahwa mengikut Kristus adalah satu-satunya fokus hidup yang relevan, kita tidak merasa harus berubah. Kita akan berubah. Berubah mengikut Kristus akan menjadi sikap refleks hidup kita. Sampai fokus kita benar-benar demikian, kita mungkin akan terus merasakan beratnya memperbaiki kebiasaan buruk, dan kita mungkin akan terus bertanya-tanya mengapa semuanya ini terasa berat sekali. Tapi percayalah bahwa ketika Tuhan sudah mengizinkan kita memahami, kita bisa melihat ke belakang dengan sukacita, melihat proses-proses “gila” yang Tuhan kerjakan demi menjadikan kita manusia baru, yang baru bisa kita pahami di kemudian hari.

Jadi kalau kita masih merasa kehidupan spiritual kita gini-gini aja, mungkin kita perlu bertanya ke diri sendiri, benarkah mengikut Kristus itu sudah menjadi suatu kebutuhan dan refleks? Ataukah kita mengaku mengikut Kristus hanya demi memuaskan nafsu yang kita inginkan dengan instan?

Sulit? Jelas sulit. Siapa yang bilang mengikut Kristus itu gampang?

Semoga setiap dari kita bersedia terus memperjuangkan proses berubah, dan belajar menikmati cara-cara “gila” Allah mengubah sikap dan perilaku kita. Semoga kita juga tidak mudah menyerah pada kemaluan, eh, kemauan yang inginnya serba instan!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE