Instagram, The Express Train

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 01 Juni 2018
“You know my name, but you don’t know my stories” Girl, you post your life online 24/7. We know your stories - @romeogadungan

Ingin mengenal seseorang hanya dengan modal jempol? Stalking his/her Instagram is the right answer. Foto-foto yang sudah melalui pertimbangan, proses editing, bahkan hingga tata letaknya yang dipikirkan sedemikian rupa nampaknya cukup banyak menggambarkan bagaimana kepribadian bahkan keseharian seseorang. Mari berikan standing ovation terlebih dahulu kepada pesatnya kemajuan teknologi yang banyak berperan dalam membuat shortcut, termasuk dalam hal mengetahui seluk beluk seseorang. Tidak cukup menampilkan gambar, Instagram saat ini dilengkapi fitur Snapgram yang sebenarnya lebih mirip liputan kegiatan sehari-hari sang pemilik akun. Bingung mau makan rujak atau spagheti? Tenang, Snapgram dilengkapi dengan fitur polling. Bahkan untuk urusan perut sekalipun, Instagram memberikan fasilitas pada orang lain untuk ikut campur.

Hal-hal di atas kita lakukan tanpa kita sadari secara penuh dan tentunya, tanpa henti. Pernah tidak merasa bahwa semakin mudahnya kita mendapatkan sesuatu (dalam hal ini informasi), semakin cepat juga sebenarnya kita melangkah? Apakah langkah cepat yang kita ambil ini benar? Ataukah sebenarnya kita sudah melewatkan banyak hal yang sejatinya Tuhan letakkan di hidup ini, namun saking cepatnya kita bergerak, kita tidak sadar? Sometimes we need to slow down and take a really good attention to all around us.


Photo by Emil Bruckner on Unsplash

Tibalah saya pada suatu keputusan: Cukup sudah antara saya dengan Instagram. Saya menghapus akun dan aplikasinya dari handphone. Awalnya saya berpikir akan jadi apa saya tanpa Instagram namun sampai detik ini, saya tidak menyesal melakukannya. Justru inilah hal-hal yang saya rasakan dan hayati.


1. Hidup melambat, namun tak masalah

Saya sudah tidak seleluasa lompat sana lompat sini seperti dulu bahkan karenanya saya kerap dibilang kolot oleh teman-teman karena saya tidak tahu makanan yang sedang nge-hits saat ini ataupun gosip terhangat dari akun lambe-lambean. Namun justru sebaliknya, saya punya ruang untuk melihat hal-hal yang saya lewatkan ternyata selama ini. Hal yang tidak saya temukan di media sosial manapun, yaitu kemampuan untuk berempati. Percayalah, sosial media bukanlah ruang yang baik untuk berempati, malah yang ada menerima hujatan seperti “apasih kepo aja” atau “urusi urusanmu sendiri”. Merujuk kepada tujuan hidup yang Tuhan ingin anak-anaknya lakukan yaitu menjadi saluran kasihNya, berempati bagi saya adalah salah satu cara yang baik.


2. Pengenalan yang real

Saya jadi tahu bahwa menilai seseorang tidak bisa dengan hanya menilai dari Instagramnya. Take your time, berbicara langsung dan menghabiskan waktu bersama dengan dia adalah jalan satu-satunya. Sadar tidak, sosial media hanya menampilkan apa yang ingin kita tunjukkan ke orang lain. Seseorang yang secara konstan mengisi halaman Instagramnya dengan caption mengasihani diri sendiri atas masalah yang sedang dihadapi itu sangat tidak menarik. Dapat ditarik kesimpulan, menunjukkan betapa indahnya hidup dan bahagianya hari-hari yang dilalui adalah syarat wajib. Dengan tujuan awal menilai seseorang tadi, kita jadi kesulitan melihat sosok “asli” dari dirinya. Bagi saya, membangun hubungan dengan bertemu langsung dan ngobrol tidak dapat digantikan oleh peran media sosial apapun.


Photo by Alexis Brown on Unsplash


3. Mengurangi kemungkinan Multitafsir

Terkait dengan poin nomor 2, saya jadi terbiasa untuk berinteraksi dengan orang lain in real life, not virtual. Kakak kelas di kampus yang dulu saya hanya berani sapa di kolom komentar Instagram kini saya kenal dan kami saling tegur sapa ketika berpapasan. Tak jarang kami saling bantu ketika ada kesulitan. Saya membayangkan bagaimana jika hubungan kami ini stay di internet. Well, saya jamin tidak akan menghasilkan apa-apa. Seiring dengan bertambahnya usia, saya merasakan manfaat dari koneksi luas dan itu semua berangkat dari bagaimana terbiasanya kita membangun hubungan dengan orang lain. Sosial media adalah tempat yang rawan akan multi tafsir karena tidak ada intonasi di dalamnya.


Photo by Charles Deluvio 🇵🇭🇨🇦 on Unsplash

Makin kesini makin saya setuju dengan kalimat “Teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Sudahkah kita juga dekat dengan orang yang benar-benar ada di sekitar kita saat ini? Terlebih, sudahkah kita menjadi berkat dan saluran kasihNya bagi mereka? Atau jangan-jangan mereka samasekali tidak merasakan kehadiran kita di sekitar mereka, walaupun hampir setiap sejam kita hadir melalui stories kita.

Baca Juga

5 Tanda Kamu Kecanduan Media Sosial

Sosial Media: Perlukah Kita Cuti Darinya?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE