Jalan Serta Yesus? Jalan sertaNya? Setiap Hari?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 28 March 2019
Kita hidup di dalam rahim Allah. Segala kehendak dan hidup kita ada di dalam pelukan Allah.

Suatu kali, saya memimpin renungan di sebuah ibadah SD. Kita tahu bahwa anak-anak SD mempunyai karateristik yang aktif dan suka menunjukkan inisiatifnya. Pada suatu momen, aku bertanya, “Siapa yang mau ikut Yesus?” Sontak ruangan itu menjadi gaduh dan anak-anak berebut untuk angkat tangan terlebih dahulu. Lalu aku bertanya, “Kalau Yesus jalan ke kanan, kalian kemana?” Mereka serempak menjawab “Ke kanan!”. Aku bertanya lagi “Kalau Yesus jalan maju?” Mereka serempak menjawab “Maju!” Dengan penuh kelicikan aku bertanya, “Kalau Yesus disalib?” Tiba-tiba ruangan menjadi hening tanpa suara. Tetapi ada satu anak yang mengangkat tangan dan menjawab, “Ya ditinggal saja.” Spontan satu ruangan tersebut menjadi gaduh karena menganggap bahwa anak ini salah.



Photo by Artem Bali on Pexels


Setelah aku berpikir cukup lama, aku melihat sebuah realita yang terucap dari mulut si anak yang polos ini. Ketika kita berjalan dengan Yesus, terkadang kita memilih untuk jalan bersama-Nya pada saat-saat tertentu saja. Kalau jalan itu baik, kita dengan sukacita akan jalan. Namun, jika jalan mulai menanjak, berbatu, bahkan terjal, kita mulai berpikir-pikir dan mengeluh “Mengapa aku harus melewatinya, Tuhan?”

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Matius 16:24 menjadi ayat yang paling sering dipakai agar kita mau menyangkal diri dan memikul salib. Kalau kita melihat konteks dari perikop ini, kita melihat bahwa Yesus mengatakan hal itu setelah Ia menegur Petrus. Ia menegur karena Petrus telah berkata bahwa, “Yesus adalah Mesias”, tetapi di ayat selanjutnya Petrus justru menghalangi Yesus agar Ia tidak menanggung penderitaan dan mati (sebagai rencana Allah). Yesus menegurnya karena Petrus menempatkan pemikirannya sendiri dan mengabaikan Allah.



Photo by Priscilla du Preez on Unsplash


Masa Raya Pra-Paskah mengundang kita untuk menyangkal diri. Menyangkal diri berarti menghilangkan ego kita dan menempatkan kehendak dan rencana Allah di dalam hidup kita. Kehendak Allah harus lebih tinggi daripada kehendak diri kita. Jika kita tengok ke dalam hidup kita, berapa kali kita bertanya pada Tuhan sebelum memutuskan sesuatu?

Jalan serta Yesus, jalan sertaNya setiap hari
Jalan serta Yesus, serta Yesus s’lamanya
Jalan dalam suka, jalan dalam duka, jalan sertaNya setiap hari
Jalan dalam suka, jalan dalam duka, serta Yesus s’lamanya
Walking with Jesus, walking everyday, walking all the way
Walking with Jesus, walking with Jesus along
Walking in the sunlight, walking in the shadow
Walking everyday, walking all the way
Walking in the sunlight, walking in the shadow
Walking with Jesus along

Tidak sulit bagi kita untuk menyanyikannya. Namun demikian, tidak sedikit dari kita merasakan sulitnya menjalani hidup sesuai dengan lirik lagu Sekolah Minggu ini. Berapa kali kita hanya mau jalan pada saat suka? Berapa kali kita hanya mau jalan pada saat-saat tertentu saja? Berapa kali kita menolak untuk berjalan bersama-Nya dan lebih memilih untuk berjalan dalam pengertian kita?

Kita hidup di dalam rahim Allah. Segala kehendak dan hidup kita ada di dalam pelukan Allah. Menyangkal diri dan memikul salib bukan berarti menyiksa diri kita sedemikian rupa sehingga kita menerima sebuah ‘kemuliaan’. Menyangkal diri berarti menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah di dalam sebuah perjalanan bersama-Nya. Masa Raya Pra-Paskah mengajak kita untuk meninggalkan cara hidup yang memuaskan kehendak kita sendiri, yang tidak selaras dengan kehendak Allah.



Photo by Devon Divine on Unsplash


Maka dari itu, kiranya Allah memberimu jalan yang tidak nyaman, namun menggembirakan. Kiranya Allah memimpinmu dalam sebuah jalan yang berbatu tajam, namun engkau akan tetap berdarah bersama-Nya. Jika dalam perjalanan engkau bertemu sahabatmu, panggillah dan ajaklah ia untuk berjalan mengikut Sang Sahabat. Jika dalam perjalanan, engkau bertemu musuhmu, sudilah engkau memanggilnya sahabat, dan ajaklah ia untuk juga berjalan bersamamu dan bersama Sang Sahabat.

Selamat mengalami penyangkalan diri. Selamat menghidupi Minggu Pra-Paskah!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE